20210427 Amagasaki Derailment Terburuk Setelah 40 Tahun (1)

Amagasaki Derailment, Terburuk Setelah 40 Tahun

Sistem perkeretaapian Jepang yang dikenal sangat aman tiba-tiba tercoreng oleh Tragedi Amagasaki Derailment di Hyogo Prefecture. Musibah terburuk setelah 40 tahun lebih. Program disiplin karyawan operator bernama Nikkin Kyouku dituding jadi penyebab disamping Human Error. Tercatat 107 penumpang tewas dan 562 lainnya mengalami cedera.

Transportasi kereta boleh dibilang jadi keseharian masyarakat Jepang. Moda angkutan massal tersebut digunakan sebagai penunjang rutinitas harian seperti sekolah, kuliah, hingga kantoran. Kereta di Jepang itu sangat teratur dari segi jadwal maupun integrasi. Baik dengan sesama kereta dalam sattu operator, beda operator, hingga transportasi umum lainnya seperti bus. Diantara jalur kereta sibuk tersebut ialah Fukuchiyama Line di Hyogo Prefecture.

Fukuchiyama Line dioperasikan oleh West Japan Railway Company. Jalur ini nyambung langsung dengan jalur menuju Osaka, termasuk Osaka Loop Line tentunya. Sebagai kota terbesar kedua di Jepang, Osaka juga jadi pusat integrasi antarmoda. Dari Osaka Station bisa lanjut lokalan ke Shin-Osaka untuk lanjut lagi naik kereta jarak jauh seperti Limited Express hingga Shinkansen. Selain itu juga bisa menuju Osaka Kansai International Airport menggunakan kereta bandara.

Amagasaki Derailment, Human Error dan Tekanan Psikologis Kru

Amagasaki, 25 April 2005, seperti biasa kereta lokal, rapid dan ekspres melayani penumpang di jam sibuk dalam rangka menunjang rutinitas harian mereka. Salah satunya Rapid Commuter Service 5418M di rute Amagasaki-Takarazuka. Sedikit info, Amagasaki Station adalah akses langsung dari Fukuchiyama Line menuju Osaka hingga Kyoto. Pastinya market komuter sangat ramai di jalur ini. Kereta bernomor 5418M ini baru saja tiba di Takarazuka Station.

Dipimpin oleh masinis Ryujiro Takami (23) dan kondektur Masatoshi Matsushita (42), Rapid 5418M tiba di Takarazuka Station. Perjalanan ke sini nggak terlalu banyak penunmpang mengingat Takarazuka sendiri adalah kawasan pemukiman yang warganya biasa beraktivitas di Osaka dan sekitar. Mengandalkan kereta tentunya. Seperti biasa masinis dan kondektur tukar posisi. Jam 9.03 waktu setempat kereta bergerak meninggalkan Takarazuka menuju Amagasaki Station.

9.11 Rapid 5418M transit di Kawanishi Ikeda, penumpang yang naik jauh lebih banyak dibanding sebelumnya. Dari sini kereta sudah dalam keadaan sarat penumpang. Selepas Kawanishi Ikeda Station pergerakan kereta sempat dikejutkan oleh bunyi alarm peringatan di ruang masinis. Sinyal bahwa kereta melaju terlalu cepat. Ketika memasuki Itami Station, masinis sedikit melakukan manuver pengereman yang mengakibatkan overshoot lebih dari 3 gerbong.

20210427 Amagasaki Derailment, Human Error dan Tekanan Psikologis Kru (2)

Karena overshoot tersebut aktivitas naik-turun penumpang di Itami jelas sangat mustahil bisa dilakukan, Sehingga masinis mau nggak mau harus memundurkan kereta ke posisi semestinya. Jam 9.15 kereta mundur (reversed) ke posisi normal. Beberapa menit berselang kereta meninggalkan Itami. Gegara overshoot itu Rapid 5418M mengalami delay 1 menit 20 detik, melebihi batas toleransi normal yang ditetapkan oleh operator.

Delay parah jelas membuat kru kelabakan. Sanksi udah pasti menanti begitu mereka selesai bertugas. Belum lagi penumpang Rapid 5418M akan melanjutkan perjalanan ke Osaka hingga Kyoto dari Amagasaki Station. Harus mengejar kereta lanjutan di jalur menuju Osaka. Ryujiro Takami memacu kereta dengan kecepatan tinggi demi mengejar delay itu. Namun tanpa disadari, menjelang terminus Amagasaki Station kereta harus lewat tikungan tajam.

Di sini kecepatan dibatasi hanya 70 km/jam. Sementara Rapid 5418M melaju dengan kecepatan di atas 100 km/jam gegara delay tadi. Ketika melewati tikungan ini, masinis berusaha melakukan pengereman normal sekuat-kuatnya. Namun karena kecepatan kelewat tinggi kereta akhirnya terlempar dari rel dan menghantam bangunan apartemen di dekatnya.

Sebanyak 4 kereta terhempas keluar rel. Kereta 1 masuk ke area parkir apartemen. Kereta 2 membentur beton hingga membentuk huruf U (bengkok), 2 lainnya berada di luar rel dalam keadaan tetap berdiri. Sebanyak 107 penumpang meninggal dunia (99 diantaranya berada di kereta 1 dan 2, termasuk masinis Ryujiro Takami). Sedangkan 562 penumpang lainnya mengalami cedera. Seketika safety record di Perkeretaapian Jepang pun terusik. Penyelidik bergegas menemukan apa yang menjadi penyebab kecelakaan fatal pertama sejak lebih dari 40 tahun di negeri Sakura.

Hasil penyelidikan mendapati kereta melaju dengan kecepatan 116 km/jam ketika melewati tikungan jelang Amagasaki Station. Itu artinya jauh di atas batas normal 70 km/jam di situ. Kereta melaju hampir 40 km/jam lebih cepat. Secara teknis Rapid 5418M dalam keadaan layak operasi. Tak ada kerusakan teknis. Semua rem, Normal Service Brake dan Emergency Brake, berfungsi dengan baik. Sekalipun pengereman gagal menghentikan laju dan malah mengakibatkan kereta terhempas keluar dari rel.

Ketika dimintai keterangan, Kondektur Matsushita menyebut kereta sudah mengalami masalah ketika hendak masuk Takarazuka Station. Dimana masinis melanggar sinyal merah sehingga mengakibatkan laju kereta dihentikan ATS (Auto Train Stop). Karenanya kereta mengalami delay selama 15 menit. Dalam perjalanan balik ke Amagasaki kereta melaju dengan kecepatan tinggi gegara delay 15 menit tadi. Laju terlalu cepat lagi-lagi membuat ATS mengeluarkan warning jelang masuk Itami.

Warning tadi ditindaklanjuti masinis dengan mengaktifkan Normal Service Brake. Hal ini mengakibatkan kereta mengalami overshoot hingga 40 meter. Hal ini jelas membuat kru terutama masinis dalam masalah besar. Karenanya masinis Takami sempat menghubungi kondektur Matsushita untuk “mengarang cerita” kepada kantor pusat bahwa Rapid 5418M hanya overshoot sejauh 8 meter. Tujuannya supaya sanksi bisa diringankan.

Lepas dari Itami Station, kereta melaju kencang hingga 100 km/jam lebih. Tanpa disadari tikungan Amagasaki dengan Taspat 70 km/jam di depan mata. Takami kembali mengaktifkan Normal Service Brake, namun kali ini gagal dan malah membuat kereta mengalmai kecelakaan fatal hingga memakan korban 107 penumpang, termasuk dirinya.

Usut punya usut, Ryujiro Takami yang baru 11 bulan bekerja di JR West pernah menjalani program Nikkin Kyoiku (Re-Education) yang dirasakan benar-benar sebuah hukuman selama 13 hari. Tentu hal itu menjadikannya trauma dan tertekan. Apalagi setelah kejadian dihentikan ATS sebelum Takarazuka. Udah tentu sanksi serupa menghantuinya.

Lantas lagi-lagi overrun di Itami sejauh 40 km. Problem ini sebelumnya menyeret Takami ke Nikkin Kyoiku. Alhasil supaya hukuman bisa dikurangi sampai meminta kondektur Matsushita berbohong cuma overrun 8 km yang notabene batas toleransi. Delay 1 menit 20 detik yang juga udah pasti akan menerima hukuman dan akan membawanya lagi ke Nikkin Kyoiku, kereta dipacu dengan kecepatan tinggi gingga mengalami musibah.

Nikkin Kyoiku dianggap sebagai sebab Amagasaki Derailment, disamping human error. Kenapa demikian? Hal tersebut menjadi dasar kru bertugas dalam keadaan tertekan. Apalagi sebelumnya pernah kena hal itu. Saking tertekannya sampai terjadi Amagasaki Derailment yang memakan korban hingga ratusan orang. Sekaligus mengusik sistem keamanan kereta Jepang.

Urutan Waktu dan Pasca Insiden

Jika ditelusuri lebih dalam, berikut adalah urutan kejadian Amagasaki Derailment pada 25 April 2005 yang menewaskan 107 penumpang termasuk Ryujiro Takami:

July 1, 2004

Nikkin Kyoiku

Masinis Ryujiro Takami yang baru bertugas kurang dari sebulan mengikuti program ini sebagai akibat dari kesalahannya melakukan Overrun lebih dari 8 meter

July 1, 2004
April 25, 2005

Melanggar Sinyal Merah

25 menit sebelum insiden, Rapid 5418 yang dibawa Takami diketahui melanggar sinyal merah jelang Takarazuka Station sehingga dihentikan ATS (Automatic Train Stop). Pelanggaran ke-1

April 25, 2005
April 25, 2005

Overshoot 40 meter di Itami

4 menit sebelum Amagasaki Derailment, Rapid 5418M melaju dengan kecepatan tinggi menuju Itami hingga mengaktifkan alarm ATS. Kereta mengalami overshoot hingga 40 meter. Pelanggaran ke-2

April 25, 2005
April 25, 2005

Delay 1 Menit 20 Detik

2 menit sebelum kejadian, kereta mengalami delay 1 menit 20 detik akibat overshoot di Itami Station. Delay yang jelas mempengaruhi aktivitas transit penumpang di Amagasaki. Hal ini membuat kereta dipacu dengan kecepatan sangat tinggi dan membahayakan

April 25, 2005
April 25, 2005

Amagasaki Derailment

4 detik sebelum terhempas, Takami mengaktifkan Normal Service Brake untuk memperlambat laju kereta. Pilihan fatal hanya demi menghindari pelanggaran ke-3 yakni mengaktifkan Emergency Brake (Rem Darurat). Akhirnya terjadilah kecelakaan fatal pertama sejak 40 tahun lebih di jam 9.18 waktu setempat. Menewaskan 107 penumpang dan 562 mengalami cedera

April 25, 2005

Akibat dari kejadian di Amagasaki, pihak operator memasang ATS di tikungan jelang Amagasaki Station agar insiden serupa tak terulang lagi ke depannya. Namun demikian, Nikkin Kyoiku yang kontroversial dan dianggap salah satu biang kerok Amagasaki Derailment tetap diadakan. Pihak JR West beralasan hal itu perlu untuk mendisiplinkan karyawan. Hanya saja dibuat benar-benar dalam rangka edukasi yang mendidik. Bukan semacam perpeloncoan yang membuat orang jadi tertekan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: