Captain Masami Takahama dan Kisah Kepahlawanannya

by Aug 13, 2020Manglayang Heritage0 comments

Meski termasuk korban meninggal dunia dalam tragedi JAL 123 di Gunma, Captain Masami Takahama boleh disebut sebagai pahlawan. Karena berusaha untuk kembali ke Tokyo Haneda Airport (HND) atau paling nggak bertahan selama mungkin di udara. Di saat pesawat kehilangan kendali. Tujuan nggak lain supaya nggak jatuh lebih banyak korban lagi.

Kecelakaan pesawat Japan Airlines 123 menjadi insiden terburuk dalam sejarah penerbangan di negeri sakura. Bayangin aja dari total 520 penumpang cuma 4 yang ditemukan dalam keadaan hidup. Ketika sebuah Boeing 747-146 SR nomor registrasi JA 1889 yang melayani penerbangan rutin Tokyo Haneda (HND) – Osaka Itami (ITM) jatuh di Gunung Takamagahama, Gunma Prefecture, setelah bertahan di udara selama kurang lebih 45 menit.

Pesawat itu kehilangan kendali setelah bagian ekor terlepas dari badan pesawat. Padahal bagian ini sangat vital. Semua kontrol dan tenaga hidrolik terpusat di sana. Kemampuan pesawat untuk naik turun dan berbelok semua berada di sini. Nah apabila itu nggak ada berarti otomatis pesawat jadi lumpuh. Nggak bisa dikendalikan normal. Ibaratnya nyupir mobil tapi cuma ngandalin gas sama rem doang.

Flight 123 take off dari Tokyo Haneda (HND) jam 18.12 waktu setempat. Cuaca waktu itu sangat cerah. Penerbangan ke Osaka harusnya berjalan lancar. Sayang 12 menit setelah take off malapetaka terjadi. Diikuti dengan dekompresi dan kokpit seketika kehilangan kontrol.

Captain Masami Takahama Berusaha Balik ke Haneda dan Menolak Mendarat di Nagoya

Japan Airlines Flight 123 dipimpin oleh Captain Masami Takahama, seorang pilot veteran berpengalaman di Jepang. Di hari itu Captain Takahama bertindak sebagai pilot instructor lagi mengevaluasi First Officer (FO) Utaka Sasagi yang lagi dalam proses promosi jadi pilot dan duduk di seat sebelah kiri yang biasa ditempati oleh pilot. Sedangkan Hiroshi Fukuda bertindak sebagai teknisi penerbangan.

Cuaca cerah dan didukung kru berpengalaman harusnya lancar jaya. Tapi siapa yang tau bakal terjadi kemamalangan di atas Sagami Bay. Bagian belakang pesawat tiba-tiba meledak dan terjadi dekompresi. Kepanikan juga terjadi di kokpit karena tiba-tiba pesawat jadi kehilangan kontrol. Rupanya bagian ekor pesawat terlepas.

Captain Masami Takahama mengontak Tokyo Control minta pendaratan darurat di Haneda Airport. Itu artinya pesawat yang udah terbang 15 menit hendak putar balik. Namun ternyata pesawat nggak bisa dibelokin ke arah Tokyo. Hiroshi Fukuda selaku teknisi penerbangan mendapati pesawat telah kehilangan tenaga hidrolik. Jelas banget ini masalah sangat serius.

Kontrol pesawat bergantung pada tenaga hidrolik yang dihasilkan. Itu benar-benar nggak ada setelah ekor pesawat terlepas. Jumbo Jet itu kini terbang tanpa ekor dan tanpa kendali sama sekali. Meski mesin masih berfungsi.

Tokyo Control coba mengkonfirmasi apakah benar Flight 123 mengalami masalah dan hendak kembali ke Haneda. Karena pesawat bukannya putar balik tapi malah bergerak lurus. Posisi pesawat kini sudah sejajar Gunung Fuji. Captain Masami Takahama diberi opsi untuk mengalihkan pendaratan ke Nagoya Airport yang lebih dekat dari posisi tersebut.

Namun captain tetap pada pendiriannya mendarat di Haneda. Pertimbangannya panjang landasan dan peralatan darurat yang lebih lengkap. Udah itu risiko untuk jatuh di tengah pemukiman penduduk juga kecil. Pokoknya lebih ideal mendarat di Haneda daripada Nagoya. Meski dalam kondisi pesawat kehilangan kontrol.

Untuk mengakalinya, captain dan first officer mencoba memainkan daya mesin pesawat. Memang pesawat berhasil memutari Gunung Fuji dan kembali mengarah ke Tokyo lewat jalur lain. Flight Attendant melaporkan bahwa persediaan oksigen di kabin menipis. Begitu juga dengan tangki oksigen cadangan udah hampir habis. Karenanya tak ada jalan lain selain menurunkan ketinggian.

Tapi dalam kondisi pesawat kehilangan kontrol dan cuma ngandalin mesin aja jelas sangat mustahil untuk bisa turun ke ketinggian 15.000 feet. Hiroshi Fukuda mengusulkan agar menurunkan landing gear. Benar setelah diturunkan ketinggian pesawat turun ke 15.000 feet dimana supply oksigen tersedia cukup untuk para penumpang.

Captain Masami Takahama dan First Officer Yutaka Sasagi masih berusaha mendaratkan pesawat di Tokyo Haneda. Namun yang terjadi justru pesawat malah mendekat ke Yokota Air Base. Sehingga komandan lapangan setempat menawarkan bantuan agar Flight 123 bisa mendarat di Yokota, dimana perlengkapan darurat sama lengkapnya seperti Haneda.

Ternyata pesawat malah belok ke arah barat daya, menjauh dari Haneda dan melenceng dari Yokota. Di barat daya itu jajaran pegunungan. Pesawat makin tak terkendali. Hingga sampailah di jajaran pegunungan di Gunma Prefecture. Sekeras apapun perjuangan kedua pilot untuk mendaratkan kembali pesawat nggak membuahkan hasil.

Pesawat Japan Airlines 123 akhirnya jatuh di Gunung Takamagahama, di bubungan yang memisahkan dengan Gunung Otsusaka. Musibah ini memakan korban 516 meninggal dunia. Termasuk Captain Masami Takahama, First Officer Yutaka Sasagi dan Hiroshi Fukuda.

Usaha Mendaratkan Pesawat di Haneda dan Meminimalisir Korban

Meski akhirnya jatuh juga di Gunung Takamagahama, usaha keras Captain Masami Takahama untuk mendaratkan pesawat di Haneda dan meminimalisir korban di darat layak disebut sebagai aksi heroik. Begitu juga usaha mempertahankan pesawat tetap mengudara selama mungkin dalam keadaan kehilangan kontrol secara penuh.

Padahal kehilangan bagian ekor pesawat sangat fatal. Karena semua fungsi hidrolik yang dibutuhkan untuk mengendalikan pesawat semua ada di situ. Pernah ada kasus AeroMexico Flight 498 kehilangan ekor ketika menabrak sebuah Cesena sebelum mendarat di LAX. Pesawat justru malah menukik dan jatuh di pemukiman penduduk. Insiden terjadi di bulan Agustus 1986 atau setahun setelah tragedi JAL 123 (nanti akan dibahas tersendiri).

Kenapa Captain menolak mendarat di Nagoya padahal posisi Flight 123 lebih dekat ke sana ketimbang putar balik ke Haneda? Selain karena Runway kurang untuk pesawat jenis Boeing 747, Nagoya Airport atau Komaki Airport waktu itu berada di tengah area padat penduduk. Bila pesawat gagal mencapai landasan risiko bakal menimbulkan korban lebih banyak.

Sementara bila tetap mendarat di Haneda paling nggak pesawat masih bisa ditching (mendarat di air) di sekitar Tokyo Bay. Korban di daratan pun bisa dieliminasi. Namun nyatanya pesawat menyimpang jauh dan jatuh di Gunma Prefecture, 100 km dari Tokyo.

Usaha Captain Masami Takahama mendaratkan pesawat di Haneda dan mencegah jatuhnya korban di darat mengingatkan kita pada perjuangan mempertahankan Iwo Jima dan Okinawa dari Sekutu di tahun 1945. Meski pada akhirnya kedua pulau tersebut berhasil dikuasai Sekutu. Begitupula dengan JAL 123 yang akhirnya jatuh di Gunung Takamagahama.

Sebelum jatuh captain sempat mengucap kalimat yang artinya kurang lebih, “This is The End” atau “Kita nggak akan selamat”. Sadar bahwa pesawat sudah makin tak terkendali.

%d bloggers like this: