Cibatu dan Tragedi Trowek Sebuah Awal

Cibatu dan Tragedi Trowek: Sebuah Awal

Cibatu dan Tragedi Trowek, apakah berkaitan langsung dengan kecelakaan fatal di pelosok Tasikmalaya 25 Oktober 1995? Pasalnya di stasiun besar inilah kedua kereta yang terlibat digabungkan jadi satu rangkaian panjang.

Nampaknya perlu ada pembahasan lanjutan seputar Tragedi Trowek 1995 yang nyaris terlupakan. Supaya kita nggak begitu aja ngelupain apa yang terjadi 25 tahun silam di pelosok Tasikmalaya. Sebuah tragedi memilukan yang meski korbannya terbilang kecil namun kondisinya tak kalah tragis dari korban Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987. Dengan kata lain sama mengenaskannya.

Kecelakaan ini terjadi karena salah satu dari dua lokomotif penarik rangkaian gabungan KA Kahuripan dan KA Galuh mengalami rem blong setelah melintas langsung Stasiun Cipeundeuy. Di jalur yang menurun ekstrem kereta terus melaju tanpa terkendali sebelum akhirnya terperosok di Jembatan Trowek dan memakan korban 14 penumpang meninggal dunia.

Cibatu dan Tragedi Trowek, Rangkaian Panjang 13 Kereta

Tak bisa dipungkiri bahwa tragedi memilukan ini memang dimulai dari Stasiun Cibatu, sebuah stasiun besar di Kabupaten Garut. Stasiun yang punya percabangan menuju Stasiun Garut Kota. Namun pada saat kejadian, jalur menuju Garut masih berstatus non-aktif dan belum direaktivasi.

Singkat cerita KA Galuh yang berangkat dari Stasiun Jakarta Pasar Senen tujuan akhir Stasiun Banjar tiba di Stasiun Cibatu jam 22.35 WIB. Kereta ekonomi ini memang dijadwalkan berhenti di sini. Namun sayangnya ketika hendak melanjutkan perjalanan, kereta mengalami gangguan, sehingga otomatis akan delay.

Kebetulan KA Kahuripan jurusan Kediri tepat berada di belakangnya dengan selang waktu kurang dari 30 menit. Kalo dihitung jarak antara kedua kereta sejatinya hanya sepetak, atau bahkan kurang dari itu. Nah untuk mengurangi keterlambatan KA Galuh, pihak PPKA Stasiun Cibatu mengambil kebijakan menggabung rangkaian KA Galuh ke KA Kahuripan.

Di Sinilah KA Kahuripan dan KA Galuh Digabungkan

Penggabungan dua kereta ini menjadikannya rangkaian panjang yang terdiri dari 13 kereta. Rinciannya 7 kereta dari KA Kahuripan ditambah 6 kereta dari KA Galuh. Nomor perjalanan yang digunakan punya Kahuripan. Maka otomatis Perka Galuh dibatalkan. Rencananya rangkaian panjang ini sampe Stasiun Kroya. Setelah dilepas, rangkaian KA Galuh akan dibawa lagi ke tujuan aslinya, Banjar.

Dua kereta dijadiin satu sebetulnya nggak ada masalah. Apalagi sekarang ada rangkaian panjang terdiri dari 14 kereta seperti KA Tawang Jaya dan KA Kertajaya. Malah ada KA Gumarang yang lebih panjang dari itu, sampe sekitar 16 kereta. Cuma masalahnya jalur yang dilewati yakni Priangan Timur tergolong jalur pegunungan ekstrem.

Dari Stasiun Cibatu sampe ke Cipeundeuy kereta akan melewati trek menanjak di Warung Bandrek dan Bumiwaluya, termasuk 2 bentang jembatan sebelum masuk Stasiun Cipeundeuy. Selepas stasiun itu treknya menurun hingga ke Stasiun Ciawi. Barulah dari Ciawi ke Tasikmalaya melewati jalur yang mendatar.

Berangkat Stasiun Cibatu, Trouble Genset dan Rem Blong Sebelum Tergelincir

KA Kahuripan (yang digabung dengan KA Galuh) diberangkatkan dari Stasiun Cibatu jam 23.38 WIB. Seperti udah dijelasin sebelumnya, selepas stasiun ini kereta akan melewati jalur menanjak. Jam 00.03 WIB melintas langsung Stasiun Cipeundeuy. Pada saat itu belum ada kewajiban berhenti di situ untuk melakukan pemeriksaan rem.

‘Disebutkan bahwa ketika melewati Stasiun Cipeundeuy kereta mengalami trouble genset dan berjalan dalam kondisi gelap gulita. Sesuatu yang memang dianggap wajar ketika itu. Ketika masuk di jalur turunan tajam nan ekstrem, lokomotif KA Kahuripan mengalami gangguan rem alias rem blong. Kondisi ini mengakibatkan kereta meluncur tak terkendali di jalur yang ekstrem.

Ketika melewati sebuah jembatan sepanjang 100 meter sebelum Stasiun Trowek (sekarang Stasiun Cirahayu), rangkaian panjang ini tergelincir dimana satu gerbong diantaranya terperosok ke dalam jurang sedalam 10 meter. Kecelakaan yang memakan korban 14 penumpang meninggal dunia dan 71 penumpang lainnya mengalami luka berat.

Korelasi Dengan Tragedi Trowek 1995

Adakah hubungan atau korelasi antara Stasiun Cibatu dan Tragedi Trowek 1995? Jawabannya ada. Pasalnya disinilah kebijakan penggabungan KA Kahuripan dan KA Galuh diambil. Meskipun sah supaya KA Galuh nggak mengalami keterlambatan yang semakin parah gegara gangguan teknis. Hanya saja jalur yang akan dilewati rangkaian gabungan ini adalah jalur dengan tanjakan dan turunan ekstrem.

Jadi kaitannya ada di penggabungan dua kereta menjadi satu. Namun yang paling menentukan memang Stasiun Cipeundeuy. Karena seharusnya rangakian panjang tersebut diberhentikan di sini untuk pemeriksaan rem. Sayangnya di zaman itu memang nggak ada kewajiban untuk itu. Akibat Tragedi Trowek 1995 itulah akhirnya kebijakan pemeriksaan rem di Stasiun Cipeundeuy diberlakukan lagi.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: