Flight 001 dan Sejarah Penerbangan Haji

Flight 001 dan Sejarah Penerbangan Haji

[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”4.13.1″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}” theme_builder_area=”post_content”][et_pb_row _builder_version=”4.13.1″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}” theme_builder_area=”post_content”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”4.13.1″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}” theme_builder_area=”post_content”][et_pb_text _builder_version=”4.13.1″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}” theme_builder_area=”post_content”]

Flight 001 dan Sejarah Penerbangan Haji Indonesia. Meski ritual perjalanan haji telah berlangsung sejak zaman penjajahan, namun untuk jalur udara baru dirintis dan mulai menerbangkan jama’ah haji tahun 1956. Bersamaan dengan kedatangan armada Convair 240 Garuda Indonesia Airways. Secara umum berlangsung lancar meski sempat 2 kali terjadi kecelakaan tahun 1974 dan 1978 ketika masih ada ritual transit di Colombo. Sesudahnya ditiadakan karena telah gunakan widebody.

Dalam sejarahnya ritual perjalanan haji telah berlangsung sejak abad ke-19 atau ketika periode awal penjajahan Belanda. Dimana awalnya perjalanan menuju tanah suci yang ketika itu masih merupakan wilayah Kesultanan Ottoman menggunakan armada kapal layar. Namun seiring perjalanan waktu dan perkembangan teknologi pelayaran, terjadi upgrade layanan kapal menggunakan kapal uap yang bisa menempuh perjalanan sedikit lebih cepat daripada kapal layar yang banyak tergantung arah angin.

Ritual Haji Kapal Laut masih terus berlangsung hingga tahun 1949. Setelah Pemerintah Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) melalui perundingan KMB, mulailah penjajakan perjalanan haji menggunakan jalur udara. Semua diawali dari tindak lanjut hasil perundingan KMB itu. Salah satunya menyangkut maskapai penerbangan nasional (national flag carrier).

Di masa perang kemerdekaan, Indonesia sebetulnya telah punya pesawat Dakota DC-3 nomor RI 001 yang dioperasikan Indonesia Airways. Menggunakan pesawat milik AURI. Saat itu Indonesia Airways beroperasi di Burma (kini Myanmar) akibat dari Agresi Militer Belanda ke-2. Namun pasca pengakuan itu, Indonesia Airways ditutup dan pesawatnya dikembalikan ke AURI. Lantas untuk national flag carrier melanjutkan operasional KLM Inter Insulair Bedrijf (KLM IIB).

KLM IIB adalah anak usaha maskapai kerajaan Belanda, KLM, yang khusus melayani rute domestik dan regional di tahun 1946-1949. Karenanya peran tersebut berlanjut pasca pengakuan kedaulatan oleh Kerajaan Belanda. Cuma namanya tak lagi menggunakan KLM IIB, tetapi diganti Garuda Indonesia Airways (GIA). Di awal berdirinya, merupakan usaha patungan antara Pemerintah Indonesia (51%) dan KLM (49%), diberi nama NV Garuda Indonesia Airways. Di fase awal itu, GIA masih banyak mempekerjakan tenaga ahli asal Belanda, bahkan Direkturnya juga orang Belanda.

 

Flight 001 dan Sejarah Penerbangan Haji : Mulai Terbang 1956

Tugas pertama Garuda Indonesia kala itu ialah menjemput dan mengantar Presiden Sukarno beserta keluarga dan para menteri dari Jogjakarta ke Jakarta (rute Maguwo-Kemayoran). Adapun untuk penerbangan hajinya mulai dirintis di tahun 1953. Dimana rombongan haji diangkut dalam 5 gelombang.

Penerbangan rintisan itu mengambil rute Jakarta-Jeddah namun dengan transit di beberapa lokasi seperti (berturut-turut): Medan, Bangkok, Calcutta, New Delhi, Bahrain, dan berakhir di Jeddah. Rombongan disambut perwakilan Indonesia di Kerajaan Saudi Arabia. Pergi haji naik pesawat merupakan pengalaman baru waktu itu. Bukan tanpa alasan karena sebelumnya masih menggunakan kapal laut. Meskipun di tahun itu kapal laut juga masih jadi alternatif (baru berakhir di pertengahan 1970-an).

Mengapa Garuda berani merintis penerbangan haji? 23 September 1950 Garuda Indonesia Airways kedatangan pesawat baru jenis Convair 240 langsung dari pabriknya di Amerika Serikat. Kedatangannya disambut oleh menteri perhubungan Ir. Juanda. Pesawat ini lebih canggir dari pendahulunya, jenis Dakota. Garuda juga masih ada 33 pesawat Dakota DC-3, 8 Catalina (pesawat amphibi), dan 8 unit Convair 240. Sedikit info armada baru tersebut bisa mengangkut 40 penumpang, 2x lebih banyak dari Dakota.

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][et_pb_row column_structure=”1_2,1_2″ _builder_version=”4.13.1″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}” theme_builder_area=”post_content”][et_pb_column type=”1_2″ _builder_version=”4.13.1″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}” theme_builder_area=”post_content”][et_pb_text _builder_version=”4.13.1″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}” theme_builder_area=”post_content”]

Sejarah kelam di Colombo 1974 dan 1978

 Dalam sejarahnya secara umum perjalanan haji menuju Baitulloh berlangsung lancar. Namun sayangnya hal itu tercoreng dengan adanya dua kali kecelakaan pesawat haji di Colombo pada tahun 1974 dan 1978. Tragedi Colombo pertama bahkan menewaskan semua penumpang dan kru. Sedangkan kedua masih ada 79 korban selamat. 

 

[/et_pb_text][/et_pb_column][et_pb_column type=”1_2″ _builder_version=”4.13.1″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}” theme_builder_area=”post_content”][et_pb_image src=”https://manglayang.id/wp-content/uploads/2021/11/20211120-2-Convair-240-Garuda-Indonesia-Airways.jpeg” alt=”Convair 240 Garuda Indonesia Airways” title_text=”20211120 (2) Convair 240 Garuda Indonesia Airways” _builder_version=”4.13.1″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}” theme_builder_area=”post_content”][/et_pb_image][/et_pb_column][/et_pb_row][et_pb_row _builder_version=”4.13.1″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}” theme_builder_area=”post_content”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”4.13.1″ _module_preset=”default” global_colors_info=”{}” theme_builder_area=”post_content”][et_pb_text _builder_version=”4.13.1″ _module_preset=”default” hover_enabled=”0″ global_colors_info=”{}” theme_builder_area=”post_content” sticky_enabled=”0″]

Memang dalam melayani penerbangan haji, Garuda Indonesia tak sendirian. Dalam arti nggak sepenuhnya mengerahkan armada milik sendiri. Namun mencarter dari maskapai lain di luar negeri seperti Martinair (Belanda) dan Icelandic Airlines (Islandia). Karenanya Flight 001 dan Sejarah Penerbangan Haji merujuk pada peristiwa Kecelakaan Penerbangan Haji 1978 yang melibatkan pesawat jenis McDonnel Douglas DC-8 milik Icelandic Airlines yang disewa oleh Garuda. Pesawat dengan nomor penerbangan LL 001 itu jatuh ketika hendak mendarat di Katunayake Colombo International Airport Sri Lanka.

Flight 001 dan Sejarah Penerbangan Haji, merujuk kepada pesawat Icelandic Airlines LL 001 yang nahas itu. Memang cuma Flight 001 aja kaya agak rancu bener nggak? Pasalnya Indonesia Airways dulu juga nomor registrasinya RI 001, meski beda dengan nomor penerbangan, itu juga bisa diartikan Flight 001. Juga secara umum Flight 001 itu banyak. Makanya dalam konteks ini Flight 001 mengacu pada Icelandic 001 yang mengalami kecelakaan itu.

Balik lagi ke sini, Colombo memang memegang peran penting dalam Sejarah Penerbangan Haji sampai dengan era 1970-an meski terjadi dua kali Tragedi Colombo 1974 dan 1978. Pertimbangan transit di sana ialah karena berada di tengah antara Indonesia dan Saudi. Jarak tempuhnya dari Indonesia ke Sri Lanka 5 jam dan Sri Lanka ke Saudi juga 5 jam. Udah itu airport nya terbuka 24 jam. Penerbangan ke Eropa pun kadang transit di sana.

Namun seiring perjalanan waktu dan perkembangan teknologi penerbangan sipil, ritual transit di Colombo mulai dihapus terutama setelah musibah kedua dan mulai dekade 1980-an. Garuda telah mengoperasikan pesawat widebody yang lebih besar dan bisa langsung terbang dari Indonesia ke Saudi. Seperti jenis DC-10 dan Boeing 747. Selain jarak tempuh lebih jauh, kapasitas penumpang juga lebih besar.

 

 

Daftar Pustaka

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

1 thought on “Flight 001 dan Sejarah Penerbangan Haji”

  1. Pingback: Eastern Airlines 401 dan Komunikasi Buruk - Manglayang ID

Leave a Comment

Your email address will not be published.