Gapeka 2019 Jadinya GakPeka

Gapeka 2019 Jadinya GakPeka (Cuma Jangka Pendek)

Gapeka 2019 Jadinya GakPeka. Cukup beralasan sih karena terdapat penyiksaan terhadap armada kereta dan penumpangnya. Boleh jadi semata-mata cuma mengedepankan aspek bisnis aja. Dalam hal ini menggarap demand tinggi di rute Bandung-Jakarta. Nyatanya sejak Covid-19 melanda justru kebanyakan naik travel bahkan kendaraan sendiri

Gapeka 2019 mulai berlaku awal Desember 2019. Namun sayangnya cuma efektif kurang dari 6 bulan. Pasalnya awal Maret 2020 kasus pertama Covid-19 ditemukan di Indonesia. Setelahnya terus bertambah hingga pemerintah ambil kebijakan memberlakukan PSBB total yang berdampak pada sektor transportasi publik. Salah satu yang terdampak ialah kereta api.

Praktis semua jadwal perjalanan kereta api Jarak Jauh dibatalkan sejak April 2020. Angkutan Lebaran 2020 batal terlaksana imbas adanya larangan mudik dari pemerintah. Sehingga operator hanya mengandalkan angkutan logistik yang memang lagi tinggi di masa pandemi. Sayang itu nggak cukup menopang kinerja keuangan. Untuk kali pertama sejak 2009 PT. KAI selaku operator mencatatkan kerugian nggak main-main.

Sejak itu pula angan-angan menikmati perjalanan naik KA Argo Wilis, Malabar, Mutiara Selatan dan Turangga dari Jakarta harus dikubur dalam-dalam. Meskipun sudah beroperasi di masa AKB dengan sejumlah pembatasan, rutenya kembali diperpendek jadi cuma nyampe Stasiun Bandung. Nggak lagi bablas ke Gambir maupun Pasar Senen. Suatu hal yang bisa dinikmati kurang dari 6 bulan.

Gapeka 2019 Jadinya GakPeka di Sisi Armada

Perpanjangan rute KA Argo Wilis, KA Malabar, KA Mutiara Selatan dan KA Turangga ke Jakarta di satu sisi menjadi satu euforia tersendiri. Khususnya bagi sebagian warga yang nggak perlu lagi transit di Stasiun Bandung untuk melanjutkan perjalanan hingga ke Jawa Tengah dan jawa Timur. Selain itu bagi segmen Bandung-Jakarta yang sangat tinggi jadi punya banyak pilihan.

Namun di sisi lain justru terjadi semacam anomali dan kerancuan. Contoh aja KA Argo Wilis yang ditaruh di urutan 1 dan 2 menggantikan KA Argo Bromo Anggrek di Gapeka sebelumnya. Diperpanjangnya KA Argo Wilis (bersama Turangga) ke Gambir seolah membangkitkan kenangan masa silam akan keberadaan KA Ekspres Siang Djaja rute Surabaya-Jakarta via Bandung (meski separuh rangkaian dipisah di Kroya dan lewat Cirebon).

Yang bikin rancu di sini jumlah pemberhentiannya jauh lebih banyak daripada KA Argo Bromo Anggrek yang cuma berhenti di Cirebon dan Semarang. Dari Gambir ke Bandung aja udah berhenti di Cimahi. Lantas dari Bandung ke arah timur ada kewajiban untuk berhenti di Stasiun Cipeundeuy dalam rangka pemeriksaan rem. Tujuannya agar Tragedi Trowek 1995 jangan sampe kejadian lagi.

Dari situ masih harus berhenti di Tasikmalaya dan Banjar. Masuk di Jawa Tengah belum lagi di Kutoarjo yang jadi kota transit utama. Terus Jogja, Solo, Madiun dan beberapa stasiun lagi sebelum tiba di Surabaya Gubeng. Benar-benar kurang cocok ditempatkan di posisi teratas kalo berhentinya aja udah banyak gitu. Antara Jakarta-Kroya aja udah berhenti di Cimahi, Bandung, Cipeundeuy, Tasikmalaya, Banjar (5 pemberhentian).

Kemudian dari sisi armadanya sendiri jelas lokomotif dan gerbong harus menambah lagi waktu dinasnya. Harusnya istirahat begitu nyampe Bandung malah harus digeber lagi 3 jam ke Jakarta. Padahal sebelum masuk Cicalengka udah melewati jalur pegunungan ekstrem Priangan Timur.

Karenanya masa pakai armada dengan adanya perpanjangan rute ini jadi lebih pendek dari sebelumnya. Malah banyak issue beredar gerbong buatan tahun 2018 nggak lama lagi akan masuk konservasi. Ya begitulah akibat terlalu digeber. Fix inimah jadinya nggak peka sama armada.

Menyiksa Penumpang 20 Jam Lebih

Masih segar dalam ingatan kehebohan di media ketika KA Mutiara Selatan gunakan rangkaian ekonomi angkatan 2016 yang disebut rasa eksekutif. Penumpang mengeluh jarak antar seat terlalu sempit dan kursi nggak bisa disandar. Dianggap nggak cocok untuk perjalanan sejauh Bandung-Malang via Surabaya Gubeng.

Nah sekarang meski rangkaian yang dipakenya lebih baru, angkatan 2018-2019, dan pake embel-embel Premium dimana seatnya udah reclining meski masih 1/2 maju dan 1/2 mundur tetap aja kurang nyaman. Apalagi rutenya diperpanjang ke Stasiun Gambir.

Di Gapeka 2019 KA Mutiara Selatan melayani rute Gambir-Malang via Bandung-Surabaya Gubeng. Melengkapi KA Gajayana dan Bima yang udah lebih dulu ada. Cuma sayangnya waktu tempuhnya jadi lebih lama. Bisa sampe 20 jam lebih. Belum lagi berhentinya juga banyak. Terutama selepas Stasiun Bandung. Lamanya waktu tempuh ini sering dikeluhkan penumpang.

Bahkan ketika masih kereta eksekutif-bisnis aja, KA Mutiara Selatan dah dapat julukan si raja delay. Padahal kereta ini pernah jadi raja selatan di era 1980-1990-an sebelum kedatangan Argo Wilis. Dan sekarang dengan perpanjangan rute tadi menjadikannya kereta dengan waktu tempuh terlama. Hampir menyamai rekor KA Krakatau dulu dari Merak ke Madiun.

Waktu tempuh lebih dari 20 jam jelas menyiksa penumpang. Setidaknya menurut pandangan kami. Siapa juga duduk selama itu nggak akan nyaman. Apalagi kalo naik Premium dapat seat mundur jauh lebih nggak nyaman. Harus berjalan mundur 20 jam lebih. Idealnya bila kereta waktu tempuhnya selama itu layanannya haruslah Sleeper. Seperti di Jepang ada Sunrise Express Izumo yang punya fasilitas tersebut. Lagi-lagi Gapeka 2019 Jadinya GakPeka dari sisi penumpang.

Gapeka 2019 Jadinya GakPeka : Jangka Pendek

Gapeka 2019 disusun terkesan hanya untuk tujuan jangka pendek operator. Memperpanjang 4 kereta hingga ke Jakarta terkesan semata-mata untuk menggarap koridor Bandung-Jakarta yang memang tengah booming akibat jalan tol yang kerap dilanda kemacetan. Namun di sisi lain hal tersebut kurang baik dari sisi teknis armada maupun kenyamanan penumpang itu sendiri.

Apalagi ternyata Pandemi Covid-19 menghantam Indonesia di bulan Maret 2020. Cuma efektif kurang dari 6 bulan saja. Di masa AKB, rute-rute yang diperpanjang itu akhirnya dikembalikan seperti semula. Cuma nyampe Stasiun Bandung. Untuk koridor Bandung-Jakarta yang jadi revenue stream di Gapeka 2019 malah tergarap sama moda transportasi travel di masa AKB.

Naik travel nggak perlu Rapid Test. Cukup pake masker dan menjaga protokol kesehatan aja udah cukup. Kapasitas travel-nya juga cuma 70-80%. Nggak ada ketentuan macam itu justru malah mengancam kereta api yang masih mensyaratkan Rapid Test dan PCR Test. Jadi kesimpulannya Gapeka 2019 orientasinya terkesan jangka pendek. Malahan cuma efektif sampe Maret 2020 aja.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: