Gedung Juang Solo Antara Museum dan Tongkrongan

Gedung Juang Solo Antara Museum dan Tongkrongan

Gedung Juang Solo tetap mempertahankan sebagian fungsinya sebagai museum meski telah ditambahkan fungsi lain sebagai tempat tongkrongan millennial bergaya kolonial. Posisinya yang berdekatan dengan Benteng Vastenberg bisa sedikit mengecoh.

Terletak di Jalan Mayor Sunaryo Kota Solo dan dilewati jalur kereta api Purwosari Wonogiri yang melintas di tengah jalan raya. Posisi bangunan bersejarah ini sebenarnya sangat strategis. Di sebelahnya ada pusat grosir. Nggak jauh dari situ juga ada kompleks Kraton Surakarta. Bahkan posisinya sangat berdekatan dengan Benteng Vastenberg.

Sama-sama warisan kolonial dan memang dibangun berdasarkan konsep kota bergaya Eropa. Dulunya kawasan tersebut merupakan tempat ekslusif bagi orang Eropa. Sementara gedung yang satu ini biasanya dijadikan tongkrongan atau kantin (mungkin versi Belanda beda) oleh tentara Belanda yang bermarkas di Benteng Vastenberg.

Gedung Juang Solo Saksi Sejarah Serangan Umum Solo

Gedung yang dimaksud adalah Gedung Juang Solo. Bangunan sangat kental dengan nuansa Kolonial Belanda. Memang telah eksis sejak jaman penjajahan. Dulunya termasuk bagian dari Benteng Vastenberg tepatnya semacam kantin yang dimanfaatkan tentara Belanda untuk mengisi perut.

Sisi historis lainnya dari gedung ini ialah pernah dipakai oleh pejuang Indonesia untuk briefing mempersiapkan Serangan Umum Surakarta 7 – 10 Agustus 1949. Suatu usaha untuk meningkatkan nilai tawar Indonesia dalam perundingan KMB hingga akhirnya memaksa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949.

Antara Museum dan Tongkrongan

Masuk ke dalam modal Gelato

Gedung Juang Solo kini telah direnovasi total. Meski secara fisik masih bergaya Belanda (bangunan cagar budaya), nggak terlihat kesan angker dan menyeramkan di sini. Sebaliknya malah membuat kita seolah-olah seperti berada di bangunan modern seperti mall. Untuk masuknya pun cukup membeli Gelato di pintu masuk sebelum menjelajahi warisan sejarah lebih dalam.

Nah masuk ke dalam pun nggak ada kesan angker sama sekali. Biasanya kan kalo bangunan Belanda itu identik dengan hawa mistis. Nah di sini alhamdulillah nggak ada sama sekali. Meski di satu sisi tetap mempertahankan fungsinya sebagai museum. Dimana ada infografis Serangan Umum Solo dan benda-benda peninggalan Kraton Surakarta (perkiraan) yang tersimpan. Di sisi lain juga disulap menjadi semacam tempat nongkrong.

Ya, Gedung Juang Solo memang telah diset sedemikian rupa menjadi tempat tongkrongan milenial. Nantinya juga akan dilengkapi semacam Co-Working Space di situ. Gelaran konser dan semisalnya juga bisa diadakan di lokasi tersebut. Tentunya dengan perizinan.

Awas Keliru Gedung Juang Solo dan Benteng Vastenberg

Bagi yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Kota Solo, hal ini bisa saja terjadi. Mengingat sejak awal dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda keduanya memang berada dalam satu kompleks dan dipisahkan oleh jalan raya plus rel kereta api yang berada di tengah jalan tersebut.

Benteng Vastenberg berada di seberang Gedung Juang Solo. Namun akses halaman depannya bukan di situ. Tapi di Jalan Jenderal Sudirman dekat Mall Pelayanan Publik Kota Solo. Kalo yang depan situ sentra kuliner Gelabo Solo. Jadi kalo mau ke benteng ya abis bundaran Tugu Slamet Riyadi itu belok ke kiri. Kalo lurus arah Stasiun Solo Kota itu Gedung Juang Solo, bukan benteng, meski dulunya terhitung satu komplek.  



Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *