Husein Sastranegara Airport Masih Layak jadi Bandara Internasional

Husein Sastranegara Airport Masih Layak Jadi Bandara Internasional

Husein Sastranegara Airport sejatinya masih layak melayani penerbangan Internasional. Minimal untuk rute regional Asia Tenggara saja. Berkaca dari Mount Fuji Shizuoka Airport (FSZ) di Shizuoka Jepang. Meski bukan bandara utama tapi tetap layani internasional Asia Timur. Memanfaatkan potensi wisata yang ada, khususnya Gunung Fuji.

Kementerian Perhubungan mengeluarkan wacana ingin mengurangi Bandara Internasional di Indonesia yang sekarang berjumlah kurang lebih 30-an. Jumlah segitu dinilai kurang efektif bahkan ada beberapa rute internasional yang justru malah sepi peminat. Banyaknya bandara Internasional tersebut dinilai inefisiensi dari segi ekonomi. Karenanya mesti dikurangi.

Pemerintah sepertinya ingin menjadikan bandara utama seperti Soekarno Hatta (CGK) Tangerang Banten, Yogyakarta International Airport (YIA), Ngurah Rai Denpasar (DPS), hingga Kuala Namu Medan (KNO) sebagai main hub. Di saat yang sama sejumlah bandara yang saat ini statusnya internasional akan diturunkan menjadi bandara domestik.

Di antaranya ialah Bandara Husein Sastranegara di kota Bandung. Ini seperti anomali karena belum lama kembali melayani rute domestik menggunakan pesawat Airbus A320 dan Boeing 737-800 untuk melengkapi domestik ATR 72 yang telah ada sebelumnya. Padahal okupasi rute Internasional dari Bandung ke Singapore dan Kuala Lumpur sejatinya nggak jelek-jelek banget.

Keberadaan rute Internasional Singapore dan Malaysia sangat menunjang pariwisata Bandung dan sekitarnya. Karenanya turis asing yang datang ke Bandung mayoritas berasal dari dua negara serumpun tersebut. Pertanyaannya apakah wacana tersebut akan terealisasi dalam waktu dekat?

Perubahan Status Husein Sastranegara Airport (BDO), Ditolak Pelaku Pariwisata Tapi Didukung Pengamat Penerbangan

Wacana Kemenhub menurunkan status Bandara Husein Sastranegara jadi bandara domestik mendapat penolakan dari para pelaku usaha pariwisata di Bandung. Penurunan tersebut otomatis akan menghapus rute penerbangan ke Singapore dan Kuala Lumpur yang saat ini dilayani maskapai Air Asia, Malindo Air dan Silk Air. Garuda Indonesia juga sempat membuka penerbangan ke Singapore.

Dengan tak adanya penerbangan internasional yang langsung dari/ke Bandung otomatis berpengaruh pada kedatangan wisatawan asing ke Bandung dan sekitarnya. Mereka akan pikir-pikir dulu sebelum datang ke Bandung karena mesti transit di Jakarta dan lanjut dengan moda transportasi lain yang memakan waktu kurang lebih 3-4 jam dalam kondisi normal. Karena tak ada penerbangan lanjutan dari Soekarno Hatta (CGK).

Meski demikian wacana penurunan status ternyata mendapat dukungan dari pengamat penerbangan. Alasannya dengan cuma melayani Singapore dan Malaysia saja itu sama artinya memberi keuntungan pada dua negara tersebut. Tentu nggak salah sih kata si pengamat ini, namun demikian si pengamat nggak melihat dari sisi potensi kedatangan turis asing ke Bandung bila ada penerbangan langsung ke Bandung.

Bisa Berkaca dari Mount Fuji Shizuoka Airport (FSZ) di Jepang

Wacana mengurangi bandara Internasional memang nggak salah. Apalagi kalo ternyata rute internasional itu sepi peminat. Secara biaya operasional untuk bandara Internasional jelas lebih tinggi daripada domestik. Kaitannya sama customs (bea cukai) dan imigrasi. Rute yang sepi berpotensi membuat bandara menjadi merugi dan mengancam operasional bandara tersebut.

Namun untuk kasus Bandara Husein Sastranegara (BDO), sejauh ini rute ke Singapore dan Malaysia nggak sepi-sepi amat malah cenderung rame. Malah dimanfaatkan oleh mereka yang nggak ingin ribet harus ke Jakarta dulu. Harus pindah-pindah moda transportasi dari kereta ke Damri misalnya. Atau nggak mau terjebak kemacetan yang susah diprediksi. Makanya rute ini banyak peminatnya.

Untuk turis asal Singapore dan Malaysia sendiri menyumbang kontribusi untuk Kota Bandung dan sekitarnya karena keberadaan rute tersebut. Bahkan transaksi pembayaran di Pasar Baru Trade Center aja menerima mata uang Ringgit Malaysia. Belum lagi sejumlah objek wisata alam di sekitar Bandung yang bisa jadi magnet untuk mendatangkan sebanyak mungkin turis asing ke Bandung.

Gunung Fuji di Jepang, terbantu Mount Fuji Shizuoka Airport (FSZ)

Nah untuk kasus yang berkaitan dengan pariwisata bisa berkaca dari Mount Fuji Shizuoka Airport atau Shizuoka Airport di Jepang. Kalo diliat di peta, posisinya memang nggak jauh dari Tokyo, ya sejarak Bandung dan Jakarta. Mount Fuji Shizuoka Airport (FSZ) bukanlah bandara utama sebagaimana Haneda (HND) dan Narita (NRT) di Tokyo atau Kansai (KIX) di Osaka.

Tokyo dan Osaka menjadi main hub-nya Jepang. Ditambah Fukuoka di Kyushu dan New Chitose di Hokkaido. Namun Mount Fuji Shizuoka Airport (FSZ) melayani penerbangan internasional ke wilayah Asia Timur seperti Korea Selatan, Taiwan dan Tiongkok. Buktinya keberadaan rute ke tiga negara tersebut nggak jadi masalah buat otoritas terkait. Sekalipun bandara di Makinohara Shizuoka ini bukanlah bandara utama apalagi main hub.

Shizuoka Prefecture punya banyak potensi wisata. Salah satunya tentu saja Gunung Fuji. Nah keberadaan bandara tentu sangat mendukung akses menuju gunung tertinggi di Jepang tersebut. Sehingga banyak alternatif menuju ke sana dan nggak harus ke Tokyo dulu.

Malah keberadaan Mount Fuji Airport bisa lebih mendekatkan kita ke Gunung Fuji. Secara dari Tokyo ke Gunung Fuji membutuhkan waktu 2-3 jam perjalanan dengan moda transportasi kereta via Tokyo Central Station maupun Shinjuku Station. Belum ditambah transit dari Airport ke stasiun.

Nah inilah yang seharusnya diperhitungkan untuk kasus wacana downgrade Husein Sastranegara Airport (BDO) jadi bandara domestik. Bandara ini selain mendukung pariwisata Bandung juga kota-kota di sekitar seperti Garut. Malah banyak banget wisata alam di Garut. Jarak Bandung ke Garut sendiri sebenarnya nggak jauh. Cuma sekitar 1,5-2,5 jam perjalanan darat dalam kondisi normal.

Dari Kertajati Malah Kejauhan

Sejumlah pihak mengaitkan wacana downgrade Husein Sastranegara Airport (BDO) jadi domestik dengan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka. Bandara baru ini memang sepi peminat sejak awal diresmikan. Kebijakan pindah paksa penerbangan domestik dari Husein ke Kertajati ternyata nggak lantas mendongkrak jumlah pengguna bandara yang disebut-sebut sebagai gateway baru Jawa Barat itu.

Itu karena terbatasnya akses menuju Kertajati (KJT) yang cuma ngandalin Tol Cipali. Udah itu cuma ngarepin warga Bandung aja. Terang aja nggak masuk dan akhirnya malah sepi peminat. Sekalipun dari Bandung udah disediain bus gratis. Warga Bandung malah lebih memilih terbang dari Bandara Soekarno Hatta (CGK) yang aksesnya lebih mudah. Itu karena waktu tempuh ke Soetta dan Kertajati nggak jauh beda.

Begitu juga dari Garut menuju Kertajati membutuhkan waktu paling cepat 3-4 jam dalam kondisi normal. Karena posisi Kertajati itu sejatinya di Jawa Barat bagian utara. Sementara wilayah selatan yang kaya akan potensi wisata malah lebih bisa dijangkau Husein Sastranegara Airport (BDO).

Lebih dari itu Kertajati (KJT) sebenarnya dibangun untuk menampung limpahan traffic dari Soekarno Hatta (CGK) yang sudah sangat padat. Bukan memindahkan penerbangan dari Bandung. Jadi seharusnya wacana mendowngrade Bandara Husein Sastranegara jadi Bandara Domestik harusnya dipertimbangkan lagi matang-matang. Apalagi dipaksa ke Kertajati yang kejauhan.

Belajar dari pengalaman pemindahan paksa penerbangan domestik ke Kertajati yang nyatanya nggak membuat bandara itu rame. Sebaliknya tetap aja sepi. Itu baru domestik lho. Gimana dengan internasional? Jangan-jangan malah pada ogah karena kejauhan. Maka jadilah ujung-ujungnya Soekarno Hatta lagi.

Toh turis asing terutama dari Singapore dan Malaysia selama ini terbantu sama penerbangan langsung ke Bandung. Bukannya itu malah menguntungkan kita karena devisa masuk?

Husein Sastranegara Airport Bagusnya Dimaksimalkan Untuk Regional Seperti Mount Fuji Shizuoka Airport (FSZ)

Harusnya sih daripada dipaksa downgrade jadi domestik, Husein Sastranegara Airport (BDO) bagusnya dimaksimalkan untuk melayani penerbangan sebatas regional Asia Tenggara. Bahkan bisa juga satu-dua rute dari/ke Australia misalnya ke Perth. Dengan dimaksimalkan jadi regional, status sebagai Bandara Internasional nggak akan hilang.

Lagi-lagi maksimalisasi rute regional ke Singapore, Malaysia, mungkin juga Thailand dan Brunei untuk mendukung pariwisata di Bandung dan kawasan Priangan. Khususnya Priangan Timur dan Selatan yang justru lebih mudah dijangkau dari Husein Sastranegara daripada Kertajati. Banyak potensi wisata Priangan yang akan terbantu dengan status Regional ini. Apalagi kalo ditambah dari Australia, untuk LCC seperti JetStar dan semisalnya.

Jadi bandara regional sebagaimana Mount Fuji Shizuoka Airport (FSZ) dengan memanfaatkan potensi wisata yang ada, terutama Gunung Fuji. Banyaknya turis di Bandung dan kawasan Priangan pastinya akan menambah pendapatan asli daerah dan devisa masuk. Makanya lebih baik wacana downgrade dikaji lagi.

2 thoughts on “Husein Sastranegara Airport Masih Layak Jadi Bandara Internasional”

  1. Pingback: Bandung ke Jogja Pesawat, Biar Tarik Tapi Cepat - Manglayang ID

  2. Pingback: Penerbangan Bandung Idealnya Jet: Banyuwangi, Surabaya, Palembang

Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: