Jakarta Islamic Centre (JIC) dan Semangat Perubahan

Jakarta Islamic Centre (JIC) di Koja Jakarta Utara. Berdiri di bekas lokalisasi terkenal Kramat Tunggak yang didirikan di era Gubernur Ali Sadikin. Kini jadi simbol semangat perubahan ke arah positif.

Bangunan masjid megah ini berada tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok di Utara Jakarta. Areanya sangat luas bahkan hampir bersaing dengan Masjid Istiqlal yang terletak tak jauh dari kawasan Monas. Bahkan tempat ini boleh jadi semacam kota mandiri. Bukan hanya masjid tapi di sini juga ada hotel. Sangat ideal untuk sebuah pusat dakwah Islam khususnya di ibukota Jakarta.

Padahal sebelum jadi masjid yang disebut-sebut termegah dan terbesar di Asia Tenggara, kawasan ini sarat dengan citra negatif. Jadi simbolnya pergaulan bebas dan pusat penyebaran virus HIV. Atau dengan kata lain merupakan area lokalisasi.

Sejarah Kelam Kramat Tunggak

Kramat Tunggak kini telah berubah total menjadi sebuah pusat dakwah dan pendidikan Islam bernama Jakarta Islamic Centre (JIC). Di sini sering digunakan untuk tempat menyelenggarakn kegiatan pengajian. Baik yang berskala kecil maupun skala besar. Namun tentunya tempat ini punya sejarah kelam di masa lalu sebagai tempat maksiat.

Tahun 1970-an di era kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin. Beliau risih melihat banyaknya pelacuran di jalan-jalan ibukota. Aktivitas pekerja seks dinilai tak terkendali. Sehingga beliau punya ide untuk menempatkan mereka di satu tempat lokalisasi. Dipilihlah kawasan kramat Tunggak di Jakarta Utara sebagai tempat lokalisasi untuk menampung para pekerja seks komersial. Tujuannya agar pemprov DKI Jakarta bisa lebih mudah mengawasi gerak gerik mereka.

Kebijakan ini tentunya menuai kontroversial. Setelahnya terbit pula kebijakan mendirikan Casino untuk warga Jakarta. Beliau ingin menarik pajak dari aktivitas perjudian dalam rangka menambah kas Provinsi DKI Jakarta. Sebab mereka yang doyan judi seringnya malah di luar negeri seperti Singapore atau Macao. Karena itu beliau ingin agar uangnya masuk ke kas pemprov untuk pembangunan Jakarta itu sendiri.

Keberadaan Lokalisasi Kramat Tunggak maupun Judi Legal jelas membuat Beliau mendapat penilaian negatif. Khususnya dari kalangan umat Islam. Karenanya beliau mendapat julukan Gubernur Maksiat. Sampai-sampai istri beliau pun tak lepas dari julukan madame hwahwe (salah satu jenis permainan judi).

Ternyata Pak Gubernur tetap bergeming dengan kebijakan kontroversialnya itu. Karena melihat ada manfaat yang lebih besar. Yakni untuk membangun Jakarta modern dengan semua fasilitas yang dibutuhkan publik seperti perbaikan jalan raya beserta sarana dan pra-sarananya, sekolah-sekolah, fasilitas kesehatan, hingga mendirikan Pasar Induk Beras di Cipinang.

Kramat Tunggak dari Lokalisasi ke Jakarta Islamic Centre (JIC)

Jakarta Islamic Centre (JIC) di Bekas Lokalisasi Kramat Tunggak

Hingga di akhir masa jabatan Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jakarta, aktivitas prostitusi di Kramat Tunggak tetap berjalan Bahkan terus hingga tahun 1990-an. Di tahun 1970-an ketika baru pertama kali dibuka, terdapat 300 WTS dengan 76 orang germo. Jumlah ini terus bertambah setiap tahunnya. Hingga di tahun 1999 jelang penutupan Lokalisasi, jumlahnya mencapai 1.615 WTS dibawah asuhan 258 germo/mucikari. Mereka tinggal di 277 unit bangunan yang memiliki 3.546 kamar.

Berkembangnya lokalisasi ini menimbulkan masalah baru pada masyarakat di sekitarnya sekaligus mempertaruhkan citra Jakarta. Kondisi demikian menimbulkan desakan tiada henti dari berbagai elemen masyarakat agar Lokalisasi Kramat Tunggak ditutup. 31 Desember 1999 Lokalisasi Kramat Tunggak resmi ditutup untuk selanjutnya Pemda DKI Jakarta membebaskan lahan ex-Lokalisasi tersebut.

Setelah pembebasan lahan, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso memiliki ide untuk mendirikan Islamic Centre. Gagasan ini dimulai pada tahun 2001. Lanjut masterplannya keluar tahun 2002. Tahapan pembangunannya sendiri mulai tahun 2003 berdasarkan SK Gubernur KDKI No. 99/2003 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelola Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre).

April 2004 Badan Pengelola Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamci Centre) diangkat/dilantik melalui SK Gubernur KDKI Jakarta No. 651/2004.

Simbol Semangat Perubahan ke Arah Positif

Simbol Semangat Perubahan ke Arah Positif

Berdirinya Jakarta Islamic Centre di area bekas lokalisasi Kramat Tunggak menjadi simbol semangat perubahan ke arah positif. Tentunya spirit yang harus kita miliki. Sebagai manusia kita tentu takkan pernah lepas dari kesalahan. Sealim apapun kita pasti pernah punya masa lalu yang kelam. Sama juga dengan Kramat Tunggak yang pada akhirnya bisa melepaskan diri dari bayang-bayang kelam seks bebas di masa lalu. Menjadi sebuah Pusat Dakwah dan Pendidikan Islam di Ibukota.

Jakarta Islamic Centre (JIC) sebetulnya punya visi bukan sekedar merubah hitam jadi putih. Bukan hanya sekedar membangun masjid besar di area bekas lokalisasi. Lebih dari itu JIC ditarget menjadi simpul peradaban sekaligus kebangkitan Islam di Indonesia dan Asia Tenggara.

Jakarta Islamic Centre (JIC) Jadi Host Daurah Nasional AsySyariah

Jakarta Islamic Centre (JIC) digunakan Kegiatan Sebesar Daurah Nasional AsySyariah

Sejak tahun 2017 Jakarta Islamic Centre telah menjadi host atau tempat diselenggarakannya kegiatan Daurah Nasional AsySyariah. Kegiatan Tabligh Akbar namun lebih pada Pesantren Kilat dengan peserta dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini diisi oleh ulama dari Timur Tengah, seperti Kerajaan Arab Saudi.

Kegiatan ini oertama kali diadakan di Depok pada tahun 2003. Seiring perkembangan waktu dipindah ke Jogjakarta, tepatnya Masjid Agung Manunggal Bantul. Pemilihan lokasi tersebut tentu atas berbagai pertimbangan. Diantaranya daya tampung masjid dan di Jogja sendiri banyak kegiatan keagamaan.

Karena animo peserta yang setiap tahunnya semakin meningkat akhirnya Masjid Agung Manunggal Bantul tak lagi mampu menampung jama’ah yang besar. Apalagi banyak yang berasal dari luar kota dan membutuhkan penginapan. Atas dasar itu mulai 2017 Daurah Nasional AsySyariah dipindah ke Jakarta Islamic Centre (JIC) yang fasilitasnya sangat lengkap.

Leave a Comment

Your email address will not be published.