Jalan Posweg Daendles, Infrastruktur Pertama

Jalan Posweg Daendles adalah infrastruktur pertama penghubung Pulau Jawa dari ujung Barat ke Timur. Mulai dibuka 1811 dan jadi jalur penting hingga sekarang

Dibangun selama 3 tahun (1808-1811). Jalan raya ini sekaligus menjadi infrastruktur pertama di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Terutama untuk moda transportasi berbasis jalan raya. Terlepas dari segala kontroversinya. Jalan raya penghubung Anyer-Panarukan ini jadi jalur penting hingga kini. Bahkan lebih dulu ada sebelum jalur kereta api pertama dibangun.



Jalur kereta api pertama yang menghubungkan Semarang-Tanggung dibangun pada 1867, disusul Batavia-Buitenzorg (1871). Tanggal 17 Mei 1884 untuk pertama kalinya jalur kereta api tembus ke Tanah Priangan. Dari Batavia ke Bandung via Cianjur.

Namun sayang ternyata bukan infrastruktur kereta api yang lebih dulu ada di bumi Nusantara. Melainkan jalan raya yang dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Herman Willem Daendles (1808-1811). Artinya jalan raya sudah ada 46 tahun lebih awal sebelum jalur kereta api pertama di Jawa beroperasi. Jalan raya ini membentang dari Anyer ke Panarukan.

Jadi dengan kata lain Pulau Jawa sudah tersambung jaringan jalan raya secara utuh jauh sebelum ada rel kereta api. Pembangunannya sendiri bermula ketika Gubernur Daendles mendarat di Batavia pada 1808. Kemudian melakukan perjalanan menuju Anyer selama 4 hari. Waktu tempuh ini jelas sangat lama. Apalagi jika musim hujan tiba jalan sama sekali tak bisa dilewati karena tergenang air dan lumpur.

HW. Daendles yang diangkat oleh Napoleon Bonaparte untuk mengurus Hindia Belanda punya misi lain selain membangun jalan raya Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 km. Misi tersebut antara lain mempertahankan Pulau Jawa dari Serangan Inggris, Melakukan Sentralisasi dan Modernisasi Sistem Pemerintahan, Membenahi Sistem Administrasi Jawa.

Jalan Posweg Daendles Mulai Anyer-Batavia-Buitenzorg

Daendles memulai pembangunan jalan raya bersejarah tersebut dari Anyer ke Batavia dan Buitenzorg. Di segmen ini tak ada kendala berarti. Dalam artian tinggal memperkuat struktur jalan yang sudah ada sebelumnya. Tujuannya agar waktu tempuh Anyer-Batavia bisa dipersingkat. Jarak keduanya 40 km dengan medan datar.

Sebenarnya Daendles tak sepenuhnya membangun jalan baru dari Nol. Melainkan hanya menghubungkan jalan-jalan yang telah ada sebelumnya supaya menjadi satu kesatuan. Di antaranya adalah ruas Anyer-Batavia hingga ke Buitenzorg. Di sini sudah ada infrastruktur jalan raya dan di sini Daendles tak harus mengerjakan dari Nol. Tapi tinggal memperkuat strukturnya dan menjadikannya satu kesatuan.

Membangun Jalan Baru dari Buitenzorg ke Cirebon

Dari Buitenzorg, Daendles ingin melanjutkan proyek jalan raya ini hingga Cirebon. Dimana Cirebon merupakan kota pelabuhan yang sangat penting di masa itu. Namun untuk menghubungkan keduanya mau tidak mau harus membangun jalan baru. Masalahnya di sini jalan baru dibangun melewati medan yang cukup sulit, yakni pegunungan di Tanah Priangan.

Pembangunan ruas jalan Buitenzorg-Cirebon menunggu panen Kopi dan Padi. Tanaman Kopi telah menjadi komoditas hasil bumi unggulan di masa itu. Tentunya memiliki nilai jual tinggi yang bisa menambah kas pemerintahan kolonial Belanda. Sebelum pembangunan infrastruktur Jalan Posweg telah ada kebijakan Tanam Paksa Kopi (Koffie Steelsel). Pembangunan ruas jalan Bogor-Cirebon diputuskan 25 April 1808 dan pengerjaannya dimulai awal Mei 1808.


Bagian Jalan Posweg Daendles di Parapatan Lima Kota Bandung
Bagian Jalan Posweg Daendles ruas Buitenzorg-Cirebon di kawasan Parapatan Lima Kota Bandung. Jalan Peninggalan Herman Willem Daendles sekarang menjadi jalan Jenderal Ahmad Yani dari Parapatan Lima ke Cicaheum. Lalu ke Ujung Berung, Cibiru, Cileunyi, hingga menuju Cirebon melewati Cadas Pangeran Sumedang.

Melibarkan Institusi Militer

Sadar medan yang berat nggak bisa dihandle oleh pekerja biasa, Daendles memutuskan untuk memperbantukan institusi Militer dalam rangka pembangunan ruas jalan dari Buitenzorg ke Cirebon melalui Bandung dan Sumedang. Bahkan bagian ini berada dibawah koordinasi militer.

Kolonel Von Lutzow ditunjuk Daendles jadi semacam koordinator untuk menangani pembangunan jalan raya di sini. Kareta itu tadi, medan yang berat nggak bisa dihandle peralatan pertukangan biasa. Sehingga dibutuhkan peralatan militer seperti meriam dan sejenisnya agar bisa memapas perbukitan bila memang dibutuhkan. Selain itu para pekerja juga menghadapi ancaman serangan binatang buas.

Alam Priangan sebelumnya memang merupakan hutan lebat dan perkebunan. Namun punya potensi ekonomi yang bagus. Daerah ini merupakan penghasil komoditas unggulan seperti Kina, Kopi dan Teh. Keberadaan perbukitan dan hutan perawan yang tentunya dihuni binatang buas jadi satu kesulitan tersendiri. Sehingga butuh bantuan militer agar infrastruktur jalan bisa cepat selesai.

Jalur antara Buitenzorg dan Cirebon ini melewati Cisarua, Cianjur, Bandung, Cadas Pangeran dan Sumedang. Konturnya didominasi oleh pegunungan dan perbukitan. Inilah yang jadi jalur Jakarta-Bandung via Puncak sekarang. Ternyata jalan raya tersebut merupakan bagian dari jalan Daendles yang fenomenal dan kontroversial tentunya.

Titik Km 0 Bandung

Di ruas ini ada satu titik yang dinamakan Km 0 Bandung. Saat ini merupakan sebuah monumen yang berada tepat di depan Hotel Savoy Homan Bidakara Bandung. Di sini Gubernur Daendles menancapkan tongkatnya dan berkata, “Zorg, dat als ik terug kom hier een staad is gebouwd” (Usahakan, ketika saya kembali ke sini, daerah ini telah dibangun sebuah kota).


Tepat Depan Hotel Savoy Homan BIdakara Terdapat Tugu KM0 Bandung
Tepat di depan hotel ini terdapat titik Km 0 Bandung

Waktu itu pengerjaan Jalan telah melewati sungai Cikapundung di tahun 1810. Pada 25 September 2010 bupati Bandung Wiranatakusumah II mendapat perintah untuk memindahkan pusat pemerintahan kabupaten dari Krapyak (Dayeuh Kolot) ke daerah tempat Daendles menancapkan tongkatnya itu. Tentu wilayah itu sekarang masuk Pusat Kota Bandung. Sehingga Wiranatakusumah dianggap sebagai bapak pendiri Kota Bandung.

Sejarah Kelam Cadas Pangeran dan Perlawanan Pangeran Kornel

Pembangunan jalan Posweg Daendles telah mencapai wilayah yang saat ini dikenal sebagai Kota Bandung. Karena targetnya mencapai Cirebon, pembangunan pun dilanjutkan melewati wilayah Sumedang. Nah disinilah pembangunan terhadang oleh kondisi alam yang sangat ekstrem. Namun Daendles tetap bersikukuh jalan harus tersambung hingga Cirebon.

Pengerjaan berlanjut walaupun harus menggunakan sistem kerja paksa. Dimana para pekerja dipaksa untuk membangun jalan dengan kondisi alam esktrem yang didominasi hutan belantara. Sehingga trase ini termasuk yang paling banyak memakan korban. Kemampuan masyarakat pekerja yang terbatas ditambah perbekalan yang kurang memadai membuat pembangunan akhirnya tak sesuai jadwal.

Akibat bekerja di hutan belantara banyak pekerja yang kena penyakit atau tewas dimangsa binatang buas seperti macan dan ular. Tak sedikit pekerja terjatuh dari jurang cadas ketika sedang bekerja. Salah seorang sesepuh bahkan menyebut Jalan Cadas Pangeran dibangun oleh darah Pribumi yang bekerja dibawah perintah Belanda. Disebutkan pula bahwa disini terdapat banyak makam tanpa nama untuk mengubur para pekerja tadi.

Banyaknya pekerja pribumi yang tewas menjadi perhatian tersendiri bagi Pangeran Kusumahdinata atau yang lebih dikenal Pangeran Kornel selaku Bupati Sumedang. Bersama jajarannya, Pangeran Kornel menyusun rencana pemberontakan terhadap Daendles.

Langkah pertama adalah mencegat Daendles di tengah proyek, dimana Gubernur Jenderal tersebut memang rutin mengontrol pembangunan jalan posweg. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang, Daendles merasa senang disambut oleh penguasa setempat.

Namun sebenarnya sambutan itu adalah bentuk protes keras atas apa yang terjadi di wilayahnya. Pangeran Kornel menyalami Daendles dengan tangan kiri sambil tangan kanan memegang keris Naga Sastra. Pandangan tajam tertuju ke arah Daendles. Bahkan Pangeran Kornel ketika itu mengajak duel satu lawan satu. Lebih baik mengorbankan dirinya daripada mengorbankan rakyat banyak.

Mendapat sambutan seperti itu akhirnya Daendles berjanji pengerjaan akan diambil alih oleh pasukan Zeni Belanda. Sementara rakyat Sumedang hanya membantu saja. Sayang janti tinggal janji. Akhirnya semua sepakat memberontak meski akhirnya bisa dipadamkan karena kekuatan yang tak seimbang. Pangeran Kornel akhirnya gugur dieksekusi mati.

Perlawanan Pangeran Kornel atas kesewenang-wenangan dalam pembangunan Jalan Posweg Daendles di wilayah Sumedang diabadikan dalam sebuah monumen. Ruas Bandung-Cirebon via Cadas Pangeran sendiri jaraknya 3 km. Walapun diwarnai jatuhnya banyak korban dan pemberontakan, pembangunan jalan akhirnya bisa menembus Cirebon.

Pekerja Dari Luar

Pengerjaan ruas jalan Bogor-Cirebon lebih banyak melibatkan pekerja dari luar wilayah tersebut. Hal itu dikarenakan pekerja setempat sudah terkena kewajiban budidaya Kopi. Pekerja yang dikerahkan terutama dari wilayah Jawa. Adapun rincian jumlah pekerjanya:

  • Cisarua-Cianjur 400 orang
  • Cianjur-Rajamandala 150 orang
  • Rajamandala-Bandung 200 orang
  • Bandung-Parakanmuncang 50 orang
  • Parakanmuncang-Sumedang 150 orang
  • Sumedang-Karangsembung 150 orang

Banyaknya pekerja disesuaikan dengan panjang jalan dan beratnya medan.

Jalur Pantura Cirebon ke Surabaya

Setibanya di Karangsembung Cirebon, terjadi masalah kehabisan dana dan sebagian tanah milik Sultan Cirebon. Untuk menyiasatinya Daendles menekan Sultan agar menyediakan tanah untuk dibangun jalan dengan imbalan diberi akses pengangkutan kopi dan memberi pemasukan untuk sultan. Residen Cirebon meminta agar jalan Posweg Daendles melewati wilayahnya, dan wilayah Karesidenan Pekalongan. Jalurnya memanjang melewati Pantai Utara.

Untuk menyiasati kehabisan dana, Daendles mengumpulkan semua penguasa pribumi untuk melanjutkan pembangunan menuju Surabaya. Meminta untuk menyediakan pekerja dengan sistem kerja wajib untuk raja. Jalur Cirebon Surabaya ditempuh di sepanjang pantai utara Jawa dengan pertimbangan semuanya tanah pemerintah. Sehingga tak mengganggu wilayah raja-raja Pribumi. Para bupati setuju dan pengerjaan dilanjutkan.

Jalan Posweg Daendles Berakhir di Panarukan

Ketika berkunjung ke Surabaya bulan Agustus 1808, Daendles memandang perlu ada jalan yang penghubung Surabaya ke arah timur. Ujung Timur (oosthoek) merupakan adalah daerah potensial untuk tanaman tropis seperti gula dan nila. Pembangunan dimulai September 1808.

Titik akhir ujung Timur adalah Panarukan. Mengapa bukan Banyuwangi? Dianggap tak punya potensi sebagai pelabuhan ekspor. Panarukan dipilih karena dekat dengan lumbung gula di Besuki dan dengan partikelir yang menghasilkan tanaman-tanaman tropis penting.

Setelah jalan raya Anyer-Panarukan selesai Daendles mengeluarkan 3 peraturan:

  • Aturan umum pemanfaatan jalan raya, pengaturan pos surat dan pengelolaannya, penginapan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kereta pos, komisaris pos, dinas pos dan jalan (12 Desember 1809)
  • Penyempurnaan jalan pos dan pengaturan tenaga pengangkut pos beserta gerobaknya (16 Mei 1810)
  • Penggunaan pedati atau kereta kerbau, baik untuk pengangkutan barang milik pemerintah maupun swasta dari Batavia, Priangan, Cirebon, sampai Surabaya (21 November 1810)

Hingga saat ini Jalan Posweg Daendles tetap menjadi jalur penting untuk menunjang perekonomian. Terutama di daerah Pantura. Sebelum adanya tol Trans Jawa, jalan raya bersejarah ini hampir selalu jadi favorit pemudik. Walaupun kerap dilanda kemacetan parah.

Sayangnya proses pembangunan jalan bersejarah ini memakan banyak korban jiwa. Dimana korban jiwa terbanyak berada di Cadas Pangeran. Sumber Inggris menyebut pembangunan jalan raya Anyer Panarukan memakan korban jiwa 12.000 orang.


Referensi


2 thoughts on “Jalan Posweg Daendles, Infrastruktur Pertama”

  1. Pingback: Jalur KA Jakarta Bandung via Cianjur - Solo Traveling ID

  2. Pingback: Situ Ciburuy Padalarang Bandung - Manglayang ID

Leave a Comment

Your email address will not be published.