Jalur KA Ciwidey dan Potensi Ekonomi

by Oct 6, 2021All Education Is Fun0 comments

Jalur KA Ciwidey memang punya potensi ekonomi bagus, khususnya dalam menunjang sektor pariwisata. Meskipun demikian, bukan perkara mudah untuk mengaktifkan kembali lintasan kereta api yang telah non-aktif sejak awal 1980-an ini. Terutama setelah Dayeuhkolot hingga Kota Bandung sudah banyak terokupasi rumah penduduk hingga pusat perbelanjaan.

Masih menyambung konten sebelumnya tentang Stasiun Banjaran yang tentu nggak akan bisa dipisahkan sama jalur kereta api penghubung Kota Bandung dan Ciwidey. Dulu pemerintah kolonial Belanda bikin jalur ini untuk mempercepat pengiriman hasil bumi ke pelabuhan Tanjung Priok via Bandung. Secara jalur Batavia-Bandung via Cikampek udah lebih dulu selesai dibangun. Berbeda dengan jalur Cianjuran, lintasan yang dibuka tahun 1902 tersebut terhitung lebih pendek.

Kebetulan daerah Ciwidey dan sekitarnya adalah penghasil teh, kopi, dan kina yang bisa jadi komoditas ekspor Pemerintah Hindia Belanda. Sehingga butuh moda transportasi yang cepat dan efisien untuk mengangkut hasil bumi tadi ke pelabuhan.

Namun sayangnya kejayaan si ular besi di era kolonial hingga fase-fase awal Kemerdekaan Indonesia buyar begitu saja ketika memasuki era Orde Baru. Pemerintah Militer waktu itu orientasinya malah lebih membangun infrastruktur dan angkutan jalan raya. Mulailah muncul angkutan macam Colt dan Truk yang dianggap lebih fleksibel. Alhasil si ular besi harus terima nasib kalah bersaing.

Jalur KA Ciwidey: Kecelakaan Maut dan Terlambat Sadar

Tahun 1971 sebuah rangkaian kereta api barang dari Ciwidey ke Bandung melintasi sebuah daerah di dekat Soreang bernama Cukanghaur. Lantaran kelebihan muatan kereta yang terdiri dari 3 gerbong ditarik loko uap inipun akhirnya terguling ketika melewati jalur menurun. Kecelakaan maut ini memakan korban 3 orang dimana salah satunya adalah Kepala Stasiun Ciwidey yang ikut dalam perjalanan.

Pasca kecelakaan maut tersebut nggak ada yang namanya perbaikan di jalur Ciwidey. Kalopun ada cuma seada-adanya. Malah ada kesan dibiarkan mangkrak dan semakin uzur dimakan usia. Memang di saat kejadian disebut udah nggak ada lagi layanan kereta penumpang di jalur itu. Lantaran orang lebih memilih ban karet yang dianggap lebih cepat dan fleksibel.

Cuma kereta barang itu aja satu-satunya yang masih jalan. Itupun nggak setiap hari tapi hanya 2 kali sepekan, yakni Senin dan Kamis. Warga menjuluki rangkaian itu “Kereta Senin-Kamis”. Dan setelah mengalami kecelakaan di Cukanghaur nggak ada lagi kereta yang melintas di jalur Ciwidey. Hingga akhirnya jalur ditutup total awal dekade 1980-an.

Saat ditutup masih ada lintas yang semi-aktif yakni petak antara Halte Cibangkong Lor dan Cibangkong menuju kompleks TNI. Jalur tersebut biasanya digunakan untuk mengangkut peralatan militer. Bahkan menjelang tahun 2000-an sempat ada wacana ingin menghidupkan lagi jalur legendaris ini. Sayang gegara krisis ekonomi 1998 semua tinggal wacana. Bahkan pasca pergantian milenium kegiatan angkutan peralatan militer menggunakan kereta api pun dihentikan.

Hingga jadilah jalur ini non-aktif total. Meskipun telah terjadi sejak masa-masa awal non aktif, okupasi atas lahan rel non-aktif ini semakin menjadi pada saat pergantian millenium. Bukan cuma bangunan semi-permanen, tapi juga permanen.

Di petak Cibangkong Lor misalnya, sejak tak ada lagi kegiatan mengangkut peralatan militer, jalur pun jadi semakin diokupasi. Bahkan ada madrasah yang berdiri di atas jalur rel kereta. Pembangunan pusat-pusat perbelanjaan seperti Trans Studio dan Transmart semakin memperparah. Bahkan Transmart yang lokasinya di Buah Batu dibangun tepat di atas jalur kereta.

Sementara itu pariwisata di Ciwidey makin menggeliat. Tiap akhir pekan dan libur panjang akses jalan ke sana selalu dilanda kemacetan parah. Meskipun telah ada Tol Soroja. Kondisi demikian memunculkan lagi wacana reaktivasi. Namun sayangnya pihak operator maupun dinas terkait terlambat menyadari bahwa sebagian besar jalur rel kereta Ciwidey telah beralih fungsi.

Memang kita masih bisa menyaksikan ada bekas bangunan stasiun seperti ex-Stasiun Banjaran berikut infrastruktur penunjangnya. Keberadaan sisa-sisa rel dan bentang jembatan di petak Banjaran-Soreang. Nggak jarang pula ada rel yang menggantung.

Bukan Perkara Mudah dan Butuh Waktu Lama

Makanya itu reaktivasi jalur KA Ciwidey bukan perkara mudah. Bahkan butuh waktu lama. Nggak semudah mengaktifkan lagi jalur kereta ke Garut yang jaraknya terbilang masih pendek dan okupasi masih belum terlalu parah. Begitu juga jalur Nambo dan Tanjung Priok-Jakarta Kota yang relnya masih utuh dan belum ada bangunan di atasnya.

Sepanjang lintasan jalur KA Ciwidey terutama wilayah Kota Bandung dan sekitaran Bojongsoang telah banyak berdiri bangunan permanen. Salah satunya Transmart itu tadi. Meski PT KAI masih mengklaim sebagai pemilik sah, bukan perkara mudah juga untuk bisa mengambil kembali. Mengingat nggak sedikit pihak pemilik asset bangunan juga mengklaim itu adalah miliknya. Malah bisa jadi punya sertifikat.

Kalo udah begini pastinya akan memakan proses yang sangat panjang. Terjadinya sengketa nggak bisa dihindari lagi. Terutama bila pemilik aset di atas jalur rel kereta mengklaim sebagai pemilih sah dan ada bukti hitam di atas putih.

 

Bekas jembatan dan rel kereta yang menggantung di petak Banjaran-Soreang. Meski punya potensi, bukan perkara mudah untuk mengaktifkan lagi jalur KA Ciwidey

%d bloggers like this: