Kereta Api Argo Parahyangan Legenda Priangan Barat

Kereta Api Argo Parahyangan, Legenda Priangan Barat

Meski sekarang banyak pilihan, Kereta Api Argo Parahyangan masih tetap jadi pilihan utama traveling naik kereta dari Jakarta ke Bandung. Punya sejarah panjang dan beberapa kali ganti rangkaian. Bahkan sempat pula full ekonomi sehingga ada meme “Argo Kok Ekonomi”.

Kereta api terlaris dan paling diminati saat ini. Ketika jalan tol yang semula diharapkan bisa mempersingkat waktu tempuh antara Jakarta dan Bandung justru malah semakin macet. Terutama di akhir pekan dan musim-musim liburan. Karena itu pengguna jalan tol banyak yang melirik lagi kereta api sebagai moda transportasi untuk bepergian antar dua kota bertetangga itu.



Padahal keberadaan jalan tol yang mulai dibuka tahun 2004 pada awalnya sempat mematikan kereta api itu sendiri. Di tahun itu penumpangnya mulai mengalami penurunan. Bahkan penurunan yang mencapai jumlah signifikan. Semua beralih ke angkutan berbasis jalan raya. Khususnya mobil travel yang bisa point to point. Karena tak kuat menanggung rugi, PT. KAI akhirnya terpaksa mempensiunkan rangkaian kereta api legendaris yang telah beroperasi sejak 31 Juli 1971 dan menggantinya dengan brand baru di 27 April 2010

Ketika penggantinya mulai beroperasi, tingkat okupasi sedikit membaik. Meski belum sebagus sebelum ada jalan tol. Namun seiring berjalannya waktu dan perkembangannya, jalan tol kerap dilanda kemacetan. Hal ini dikarenakan banyak pengguna kendaraan pribadi dari Jakarta ke Bandung.

Kota Bandung sendiri kerap dilanda kemacetan parah terutama di akhir pekan. Terlebih lagi ketika mulai banyak proyek terutama di jalur Jakarta-Cikampek. Kemacetan jadi bertambah parah lagi. Alhasil kereta api mulai dilirik lagi dan kini menjadi sumber pemasukan utama bagi PT. KAI.

KA Parahyangan dan KA Argo Gede

Tentunya membahas tentang kereta api penghubung dua kota bertetangga takkan bisa lepas dari keberadaan dua kereta yang pernah dinas di jalur Priangan Barat tersebut. Sang legenda KA Parahyangan dan JB250 Argo Gede. Malah sebetulnya sebelum keduanya ada dari di era kolonial pun telah ada layanan kereta sejenis bernama De Vlugger Vier atau Si Empat Cepat.

Oke kita nggak akan bahas panjang lebar tentang sejarahnya di masa kolonial. Kita akan fokuskan dulu pada KA Parahyangan dan Argo Gede, sebagai pendahulu dari rangkaian kereta terlaris saat ini.

Lahirnya KA Parahyangan

KA Parahyangan mulai dinas pada 31 Juli 1971 dimana pertama kali dinas membawa rangkaian full K2 atau kereta bisnis. Diluncurkan langsung oleh Menteri Perhubungan Frans Seda. KA Parahyangan menjanjikan waktu tempuh Jakarta-Bandung 2,5 jam saja. Di masa-masa awal memang berhasil mencapai kecepatan tersebut meski dalam perjalanannya melambat.

KA Parahyangan waktu itu menggunakan livery krem orange seperti KA Mutiara Utara. Namun bedanya layanan kereta bisnis (K2). Awal masa dinas menggunakan rangkaian BW/K2 buatan Jerman (K2 60-an) ditarik lokomotif BB 301. Termasuk kereta unggulan pada saat itu. Adapun jadwal perjalananya pada tahun 1971


A. Djakarta – Bandung

R32R34R38
Djakarta06.3010.2415.30
Bandung09.3813.3518.24

B. Bandung – Djakarta

R33R35R39
Bandung05.5410.3014.49
Djatinegara08.26 / 08.2913.02 / 13.0517.21 / 17.24
Gambir08.46 / 08.4913.22 / 13.2517.41 / 17.44
Djakarta09.0313.3917.58

Satu unit BB301, BB301 27, sempat dicat dengan warna krem-oranye, menyamakan dengan warna kereta Parahyangan (Foto di Gallery)

Pada 1976, BB304 digunakan sebagai lok penarik Parahyangan. Namun, penggunaan BB304 hanya bertahan sekitar setahun. Pada 1977, CC201 digunakan untuk menarik Parahyangan. Pada 1978, rangkaian Parahyangan diganti dengan rangkaian kereta Bisnis baru buatan Jepang. Rangkaian K1 (kereta eksekutif) juga mulai dibawa meski hanya sebatas kereta sewa.

KA Parahyangan 1980-an: Tambah Kereta Eksekutif (K1), Rangkaian Panjang Hingga Latar Film Nasional

Adapun K1 -nya sendiri mulai rutin dibawa di era 1980-an. Tepatnya mulai tahun 1984. Disinilah kejayaan KA Parahyangan. Mulai dijadikan favorit masyarakat dan PJKA sempat menjalankan kereta ini dengan rangkaian panjang secara reguler.

Malah sekali waktu pernah membawa 14 kereta ditarik 2 lokomotif CC 201 (double traksi). Rangkaian bertambah panjang karena beberapa kereta disewa rombongan wisata salah satu SMA di Bandung. Kereta dengan rangkaian panjang biasa berjalan setiap Senin dari Bandung shubuh dan kembali lagi jam 9 pagi.

KA Parahyangan sering dijadikan latar sejumlah film nasional. Salah satu diantaranya Film Teraktor Benyamin (1975) yang dibintangi oleh (alm) Benyamin Sueb dan Hetty Koes Endang. Film ini mengangkat kisah tentang Benny, mahasiswa Pertanian tingkat akhir yang hendak melaksanakan penelitian di sebuah desa di kawasan Priangan Timur.

Ceritanya Benny naik KA Parahyangan dari Stasiun Jakarta Kota menuju Stasiun Bandung. Dilanjut rangkaian kereta lokal ke desa tempat penelitian yang disebut Wanajaya. Di atas kereta, Benny bertemu dengan Hetty, kawan satu kampusnya namun beda fakultas. Tahun 1975 kebetulan lokomotif uap masih beroperasi. Nah di film kereta lokal yang ditumpangi Benny dari Stasiun Bandung ditarik lokomotif uap.

Puncak Kejayaan KA Parahyangan di Tahun 1990-an

Meski jadi kereta unggulan di tahun 1980-an, nanun sejatinya puncak kejayaan KA Parahyangan barulah terjadi di tahun 1990-an. Transisi dari PJKA ke Perumka. Ditandai perubahan warna livery kereta secara signifikan. Semula berwarna krem-orange (atau putih-merah) berubah secara radikal jadi biru tua-biru muda untuk kereta eksekutif, biru tua-hijau untuk kereta bisnis, dan biru tua total untuk gerbong bagasi atau pembangkit. Sementara warna lokomotif berubah dari krem hijau jadi merah.

Tahun 1992 Perumka mencoba memasarkan tampilan baru kereta eksekutif dengan fasilitasnya yang baru juga. Dimana rangkaian tersebut diperkenalkan di KA Parahyangan. Kereta eksekutif yang dilengkapi fasilitas TV. Di tahun yang sama pula diujicobakan perjalanan KA Parahyangan yang menempuh waktu 2 jam 21 menit untuk keberangkatan pagi hari di lintas Bandung-Jatinegara.

Percepatan waktu tempuh ini sebagai langkah awal untuk proyek JB250. Dimana nanti Jakarta-Bandung dapat ditempuh dalam waktu 2 jam saja. Ketika jalur layang Manggarai-Jakarta Kota mulai dibuka terbatas, KA Parahyangan mendapat kesempatan untuk menggunakan jalur yang baru itu bersama KRL Jabodetabek. Khususnya untuk rute Bandung-Jakarta Kota.

Puncaknya di tahun 1993 ketika KA Parahyangan menduduki peringkat 1 dalam Gapeka 1993. Di sini keberangkatan awal KA Parahyangan mulai dirubah dari semula Stasiun Jakarta Kota menjadi Stasiun Gambir. Bersamaan dengan pengalihan jalur dari jalur lama ke jalur baru (layang) di segmen Manggarai-Gambir.

KA Argo Gede (JB 250) dan Penurunan fasilitas KA Parahyangan di era Millenium.

Tanggal 31 Juli 1995 Perumka meluncurkan KA Argo Gede (bersama Argo Bromo) sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke 50. Kedua KA ini: Argo Bromo dan Argo Gede merupakan rangkaian kereta api unggulan di masanya. Menawarkan kenyamanan dan kecepatan yang lebih dari layanan kereta lainnya. Bahkan diatas kereta eksekutif biasa.

KA Argo Bromo mengusung jargon JS950 alias Jakarta – Surabaya 9 jam saja (normalnya 12 jam). Sementara KA Argo Gede JB250 yakni Jakarta – Bandung 2 jam saja. Itu artinya mengungguli KA Parahyangan pada awal peluncurannya yakni 2,5 jam. Proyek JB250 akhirnya diberikan ke KA Argo Gede yang baru diluncurkan itu. Di saat yang sama pula mulai diperkenalkan lokomotif baru jenis CC203 yang punya akselerasi melebihi CC201.

Keberadaan KA Argo Gede dengan sejumlah kelebihannya tentu menggerus penumpang KA Parahyangan. Meski demikian KA Parahyangan masih diminati dan belum kehilangan pelanggannya. Bahkan di tahun 1998 jadwalnya mencapai 39 perjalanan. KA Parahyangan bahkan juga ditarik lokomotif CC203 disamping tetap menggunakan CC201 sebagai lokomotif dinasan utama.

Di 2001 PT. KAI meluncurkan KA Argo Gede II untuk melengkapi rangkaian yang telah ada. Seiring berjalan waktu, jadwal perjalananya pun terus bertambah. Seiring banyaknya rangkaian kereta baru yang dibeli KAI dari PT. INKA. Sayangnua di tahun-tahun ini mulai terjadi penurunan fasilitas di KA Parahyangan. Di antaranya fasilitas TV kereta eksekutif yang mulai ditiadakan.

Tak hanya itu bahkan di kereta eksekutif pun mulai ada penumpang berdiri. Banyaknya penumpang berdiri apalagi di kereta eksekutif jelas merupakan bukti telah terjadi penurunan kualitas pelayanan sang legenda. Di saat yang sama perjalanan KA Argo Gede juga ditambah sehingga banyak yang lebih memilih menggunakan si JB250 ketimbang sang Legenda. Meski waktu tempuh Argo Gede juga mulai berkurang.

Dihantam Tol Cipularang Hingga Akhirnya Harus Pensiun 26 April 2010

Tahun 2004 Jalan Tol Cipularang dibuka untuk pertama kalinya. Dimulailah periode kelam KA Parahyangan. Sudah penumpangnya tergerus KA Argo Gede sekarang harus bersaing lagi sama jalan tol yang menawarkan waktu tempuh lebih singkat. Alhasil banyak penumpang kereta beralih ke angkutan berbasis jalan raya seperti Travel. Terlebih Travel menawarkan kelebihan Point To Point malah bisa diantar sampe ke garasi rumah.

Inilah keunggulan yang jelas-jelas nggak dimiliki oleh KA Parahyangan. Okupasi sang legenda sempat membaik ketika PT KAI menurunkan harga tiket. Namun sayang pihak travel pun menjawab tantangan ini dengan memberi berbagai gelaran diskon. Sang Legenda akhirnya tingga menunggu waktu untuk dipensiunkan lantaran PT. KAI tak lagi sanggup menanggung kerugian yang sangat besar.

Tibalah saatnya tanggal 26 April 2010 menjadi akhir dari perjalanan panjang Sang Legenda di bumi Priangan barat. Ditandai dengan momen sadride yang diselenggarakan sejumlah komunitas. Seremonial untuk melepas kepergian KA Parahyangan yang telah puluhan tahun menemani. Sang Legenda pun pensiun di usianya yang ke-39 kurang 4 bulan (masih di 38 tahun)

Kereta Api Argo Parahyangan, Titisan Sang Legenda

Beberapa hari jelang pensiunnya KA Parahyangan, PT. KAI berencana akan melanjutkan operasional KA Argo Gede pasca 26 April 2010. Alasannya karena okupasinya masih lebih baik. Bahkan bisa terisi penuh di akhir pekan atau musim liburan. Tentunya dari segi kenyamanan pun jauh di atas sang legenda.

Sejumlah penyesuaian disusun. Mulai dari merubah jadwal untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam slot KA Parahyangan. Tak hanya itu, PT KAI bahkan ingin menambah layanan kereta bisnis (K2) sebanyak 1-2 kereta di KA Argo Gede. Di jam-jam tertentu untuk mengakomodasi penumpang kereta bisnis Parahyangan yang harus kehilangan layanan murah tersebut.

Meskipun sudah pasti pensiun, KA Parahyangan masih punya pelanggan setia. Khususnya di kereta bisnis (K2). Harga tiket murah tentunya jadi pertimbangan. Semula PT. KAI ingin mengakomodasi pelanggan setia ini ke dalam KA Argo Gede dengan menambahkan kereta bisnis di jam-jam tertentu dan penyesuaian jadwal. Namun mereka tetap tak ingin kehilangan KA Parahyangan yang sudah sangat melegenda.

Diadakanlah temu pelanggan dan akhirnya tercapailah titik temu yakni nama Kereta Api Argo Parahyangan yang akan mulai beroperasi 27 April 2010. Argo Gede berarti gabungan dua kereta dengan dua layanan berbeda. Kereta eksekutif argo ex-Argo Gede dan kereta bisnis ex-Parahyangan.

Bagi penumpang Argo Gede, mereka tetap bisa menikmati kenyamanan yang selama ini sudah mereka nikmati dengan layanan eksekutif argo. Jadi nama Argo Parahyangan dianggap semacam rebranding-nya Argo Gede. Sementara untuk penumpang Parahyangan, mereka tetap bisa menikmati layanan murah dalam wujud kereta bisnis (K2). Seperti biasa dinikmati ketika KA Parahyangan masih ada. Semua terakomodasi dalam satu rangkaian.

Kereta Api Argo Parahyangan akhirnya resmi beroperasi tanggal 27 April 2010. Tepat sehari setelah KA Parahyangan pensiun dan melaksanakan perjalanan dinas terakhirnya. Meski sang legenda telah purnatugas, namanya tetap ada dalam bentuk brand baru. Karenanya kereta ini disebut sebagai titisan sang legenda bahkan telah jadi legenda Priangan Barat.

Eksekutif Argo dan Bisnis, Kemudian Full Eksekutif di tahun 2011

Ketika pertama kali dinas satu rangkaian Kereta Api Argo Parahyangan membawa 4 kereta eksekutif argo (K1) dan 2 kereta bisnis (K2). Kadang juga 3 kereta eksekutif argo (K1) dan 3 kereta bisnis (K2). Okupasinya pun lumayan. Bahkan kereta ini jadi semacam percontohan untuk kereta bisnis tanpa ada penumpang berdiri. Pasalnya di tahun itu masih dibolehkan penumpang berdiri di kereta bisnis dan ekonomi.

PT. KAI terus mengevaluasi rangkaian baru hasil merger ini. Hingga di tahun 2011 karena peminat kereta eksekutif lebih tinggi, stamformasi kereta pun dirubah jadi Full Eksekutif. Meski masih tetap menjalankan rangkaian campuran sebanyak 4 trip, masing-masing 2 trip dari Jakarta dan 2 trip dari Bandung. Itupun belum ditambah idle Harina di akhir pekan sebagai Argo Parahyangan Tambahan. Saat itu KA Harina juga mulai menambah layanan kereta bisnis.

Kereta Bisnis AC di Tahun 2013

Menjelang akhir tahun 2012, PT KAI mulai menambahkan fasilitas AC di sejumlah rangkaian kereta bisnis dan ekonomi yang waktu itu masih menggunakan kipas angin. Penambahan ini tentunya untuk meningkatkan kenyamanan penumpang. Setelah penghapusan penumpang berdiri pada masa angkutan lebaran 2012. Jadi tiket yang dijual harus 100% dari kapasitas kereta.

Awal tahun 2013 rangkaian kereta bisnis di Argo Parahyangan mulai dilengkapi AC Split. Tentunya penumpang bisnis bisa merasakan fasilitas AC sebagaimana penumpang eksekutif. Dengan tarif yang lebih murah tentunya. Ini jadi kereta bisnis pertama yang dilengkapi AC Split, khususnya di lingkungan Daop 2 Bandung. Sebelumnya Daop 2 Bandung telah meluncurkan rangkaian KA Patas AC di rute Padalarang-Bandung-Cicalengka.

2016 Kembali Ke Eksekutif-Bisnis

Imbas dari kecelakaan kereta api di Petarukan tanggal 2 Oktober 2010, PT. KAI mengambil kebijakan penggunaan gerbong aling-aling. Yakni menambah satu kereta kosong dibelakang lokomotif. Kebijakan ini diwajibkan khususnya di lintas utama. Kereta Api Argo Parahyangan termasuk yang kena kebijakan ini. Biasanya membawa satu gerbong barang atau idle untuk dijadikan aling-aling.

Namun kebijakan ini perlahan mulai dihapus karena dinilai kurang efisien. Terlebih perusahaan ingin mengoptimalkan pemasukan. Terutama dari layanan penumpang. Penghapusan kebijakan aling-aling menjadikan titisan sang legenda kembali ke khitahnya di tahun 2016. Dengan layanan eksekutif argo-bisnis. Kereta bisnis yang biasa jadi aling-aling kini dipakai untuk mengangkut penumpang.

Jadilah dalam sekali jalan sebagian Kereta Api Argo Parahyangan menggunakan formasi 4 eksekutif argo, 1 kereta makan/kereta makan pembangkit, 1 kereta bisnis. Uniknya kereta bisnis dirangkaikan setelah kereta eksekutif terakhir (dari Jakarta) atau sebelum kereta eksekutif pertama (dari Bandung). Plus 4 perjalanan dengan formasi 4 eksekutif argo, 1 kereta makan/kmp, 3 kereta bisnis.

Layanan Kereta Ekonomi Argo Parahyangan

Masa angkutan lebaran 2016, PT KAI memperkenalkan rangkaian kereta ekonomi baru K3 16. Rangkaian kereta ini disebut-sebut sebagai terobosan baru kereta ekonomi. Disebut-sebut siap menggantikan kereta bisnis yang telah uzur dan disebut rasa eksekutif. Kereta ini mulai debutnya sebagai rangkaian tambahan lebaran 2016.

Selesai masa angkutan lebaran 2016, PT. KAI mengalokasikan trainset K3 16 itu ke 3 rangkaian kereta binsis (full K2), yakni:

  • KA Fajar Utama Jogja (Jakarta Pasar Senen – Jogjakarta PP)
  • KA Senja Utama Jogja (Jakarta Pasar Senen – Jogjakarta PP)
  • KA Mutiara Selatan (Bandung-Surabaya Gubeng-Malang PP)

Namun sayangnya pergantian rangkaian ini tak berjalan mulus. Para penumpang mengeluhkan jarak antar kursi yang terlalu sempit. Terutama penumpang KA Mutiara Selatan yang rutenya cukup jauh. Waktu itu baru diperpanjang sampai Stasiun Malang dari semula hanya ke Surabaya Gubeng. Banyaknya keluhan bahkan hingga ke media akhirnya membuat PT KAI untuk sementara waktu mengembalikan kereta bisnis di ketiga rangkaian kereta tersebut.

Kebijakan ini tentunya harus mengorbankan kereta bisnis yang dinas di kereta lain. Termasuk di Kereta Api Argo Parahyangan. Akhirnya titisan sang legenda tukar rangkaian dengan “adiknya” KA Mutiara Selatan. Alhasil layanan kereta ekonomi hadir untuk pertama kalinya sejak tahun 1971. Formasi pun berubah jadi 4 kereta eksekutif, 1 kereta makan pembangkit (MP3 16), 4 kereta ekonomi K3 16.

Bukan cuma hadir untuk pertama kalinya sejak era Parahyangan jadul. Keberadaan kereta ekonomi pun menjadikan Kereta Api Argo Parahyangan satu-satunya rangkaian kereta argo yang punya layanan kereta ekonomi.

Kereta Api Argo Parahyangan Premium

Setahun berselang PT. INKA kembali memproduksi rangkaian kereta ekonomi baru. Kali ini pake embel-embel premium (K3 17). Kereta baru ini untuk menyempurnakan trainset sebelumnya yang banyak dikeluhkan para pelanggan. Untuk rangkaian baru ini jarak antar kursi dibikin sedikit longgar dengan reclining seat. Jadi nggak paten kaya versi sebelumnya. Meski tetap 1/2 maju dan 1/2 mundur.

Sama seperti pendahulunya, kereta ekonomi premium memulai debutnya untuk angkutan Lebaran 2017. Baru setelah usai didinaskan secara reguler. Kebetulan segmen Jakarta-Bandung mulai banyak peningkatan. Kereta Api Argo Parahyangan yang ada mulai kewalahan menampung tingginya animo masyarakat. Bahkan sampai meminjam rangkaian kereta lain.

Tingginya minat tersebut menjadikan titisan sang legenda mendapatkan alokasi satu trainset K3 17 Premium. Kereta ini kemudian dinas secara reguler dengan nama Kereta Api Argo Parahyangan Premium. Rangkaian full ekonomi premium K3 17.

Argo Kok Ekonomi?

Beroperasinya Kereta Api Argo Parahyangan Premium secara reguler akhirnya memunculkan meme. Terutama di kalangan pecinta kereta api dan pengamat transportasi umum. Meme tersebut ialah Argo Kok Ekonomi? Untuk kali pertama ada kereta argo yang rangkaiannya full ekonomi. Meskipun ekonomi premium yang disebut-sebut setara kereta bisnis (K2).

Padahal saat pertama kali diperkenalkan 31 Juli 1995, kereta argo itu punya kelas dan keunggulan tersendiri. Jangankan sama kereta bisnis apalagi ekonomi. Dibandingin eksekutif biasa aja keliatan banget bedanya. Tapi anehnya ketika memasuki era PT. KAI terutama di tahun-tahun 2012 hingga 2017 kereta argo cuma tinggal brand aja. Karena rangkaiannya sering nangkring di kereta lain yang sejatinya kelas satwa.

Begitu juga eksekutif satwa seringkali nangkring di kereta argo. Kalo di Argo Parahyangan sih nggak usah heran. Memang masih ada Argo Bromo Anggrek dengan rangkaian istimewa. Tapi itupun punya saingan yakni Gajayana dengan K1 09-nya dan Argo Jati dengan K1 10-nya.

Nah pada akhirnya muncullah kereta argo dengan layanan full ekonomi premium. Kereta Api Argo Parahyangan Premium. Ditambah meme Argo Kok Ekonomi.

Argo Parahyangan Stainless Steel

Memasuki 2018 PT. INKA memperkenalkan kereta baru berbodi Stainless Steel. Kereta ini punya keunggulan sedikit kedap suara dan eksterior anti karat. Kereta stainless steel terdiri dari rangkaian kereta eksekutif, kereta ekonomi premium (K3 18), dan campuran eksekutif-ekonomi premium. Maret 2018 Kereta Api Argo Parahyangan mendapat kehormatan untuk mengoperasikan trainset 1 dari rangkaian kereta eksekutif full stainless steel.

Di saat yang sama pula rute perjalanan Argo Parahyangan mulai diperpanjang hingga Stasiun Kiaracondong. Tentunya untuk mengakomodasi para penumpang yang tujuan ke daerah Antapani, Arcamanik, Margahayu, Batununggal, Ciwastra dan sekitarnya. Seiring berjalannya waktu semua rangkaian eksekutif yang telah uzur dan dikeluhkan pelanggan mulai diganti dengan Stainless Steel.

Hal ini juga berlaku di Kereta Api Argo Parahyangan. Dimana setelah lebaran 2018 mulai mendapat lagi alokasi kereta eksekutif stainless steel untuk menggantikan rangkaian lama yang telah uzur. Rata-rata rangkaian lama itu bekas KA Argo Gede dan KA Argo Wilis. Juga ada alokasi dari kereta lainnya. Meski demikian kereta ekonomi K3 16-nya masih tetap bertahan hingga sekitar Maret 2019.

Dan akhirnya seluruh rangkaian ekonomi Argo Parahyangan diupgrade ke Stainless Steel. Menggunakan rangkaian ex-Tawang Jaya Premium dan ex-Mataram Premium. Juga beberapa kereta baru keluaran tahun 2019. Adapun K3 16-nya disimpan sebagai rangkaian cadangan. Sementara K3 17 ex-Argo Parahyangan Premum dimutasi ke Semarang untuk didinaskan sebagai KA Tawang Jaya Premium.

Add: KA Pangandaran dan Kereta Wisata

KA Pangandaran sebagai Pengembangan dari Kereta Api Argo Parahyangan

Kereta Api Argo Parahyangan sebelumnya juga telah mengoperasikan Kereta Wisata Priority secara reguler di beberapa rangkaian. Layanan ini dimulai sekitar tahun 2018. Mengikuti kebijakan PT. KAI yang mulai mengoperasikan kereta wisata secara reguler di beberapa rangkaian. Karena minat segmen Jakarta-Bandung sangat tinggi dan jadi tambang uang, Kereta Wisata turut dioperasikan dan dirangkaikan di KA Argo Parahyangan.

Bukan hanya itu, satu trainset Kereta Api Argo Parahyangan Full Eksekutif dan Kereta Api Argo Parahyangan Premium dikembangkan lagi jadi KA Pangandaran. Rutenya diperpanjang hingga ke Banjar. KA Pangandaran mulai beroperasi pada 2 Januari 2019. Semula rangkaiannya gabungan K1 stainless steel dan K3 17. Setelah datang trainset K3 18 ex Tawang Jaya Premium dan Mataram Premium, K3 17-nya diganti ke stainless steel untuk selanjutnya dimutasi ke Semarang.

Dioperasikannya KA Pangandaran per 2 Januari 2019 menandai akhir dari masa dinas Kereta Api Argo Parahyangan Premium. Sekaligus meniadakan meme yang sempat viral yakni Argo Kok Ekonomi. KA Pangandaran masih beroperasi hingga sekarang. Namun hanya satu kali perjalanan rute Gambir-Banjar PP. Sementara untuk Bandung-Banjar PP ditiadakan dan dikembalikan untuk memaksimalkan Argo Parahyangan.

Tetap Jadi Andalan

1 Desember 2019 bersamaan dengan dimulainya Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) baru tahun 2019 PT. KAI memperpanjang rute beberapa kereta hingga ke Jakarta. Kereta tersebut antara lain:

  • KA Argo Wilis, semula Bandung – Surabaya Gubeng PP jadi Gambir – Bandung – Surabaya Gubeng PP
  • KA Malabar, semula Bandung – Malang PP jadi Jakarta Pasar Senen – Bandung – Malang PP
  • KA Mutiara Selatan, semula Bandung – Surabaya Gubeng – Malang PP jadi Gambir – Bandung – Surabaya Gubeng – Malang PP
  • KA Turangga, semula Bandung – Surabaya Gubeng PP jadi Gambir – Bandung – Surabaya Gubeng PP

Perpanjangan rute ini menjadikan Kereta Api Argo Parahyangan bukan lagi pemain tunggal di koridor Jakarta-Bandung. Sebelumnya cuma ada 2 kereta lain bersama Sang Legenda Priangan Barat yang melayani koridor bertetangga ini: KA Pangandaran dan KA Serayu. Meski demikian KA Argo Parahyangan tetap jadi pilihan utama dilihat dari jadwal perjalanannya yang banyak.

Perpanjangan rute empat rangkaian kereta api tersebut tentunya sebagai respon atas tingginya minat penumpang koridor Jakarta-Bandung yang jadi tambang uang PT. KAI.

Galeri Foto Kereta Api Argo Parahyangan

Setelah panjang lebar cerita, sekarang saatnya memperlihatkan foto-foto sang legenda Priangan Barat kepada sobat sekalian. Foto mulai dari era Parahyangan jadul, Argo Gede, hingga Kereta Api Argo Parahyangan. Termasuk yang udah pake rangkaian stainless steel.

A. KA Parahyangan



B. KA Argo Gede



C. KA Argo Parahyangan



Kereta Api Argo Parahyangan idle Gajayana
Tingginya animo masyarakat terutama setelah jalan tol kerap dilanda kemacetan parah, ranhkaian yang ada semakin tak bisa langi menampung. Hingga akhirnya PT. KAI menjalankan kereta api Argo Parahyangan Tambahan dengan meminjam rangkaian kereta lain. Salah satu tangkaian yang pernah dipinjam ialah KA Gajayana dengan formasi Full K1 09 yang disebut-sebut kereta terbaik setelah Argo Bromo Anggrek K1 97



Jadwal Kereta Api Argo Parahyangan

Berikut jadwal perjalanan kereta api Argo Parahyangan rute Kiaracondong-Bandung-Gambir PP (Gapeka 2019):

A. Kiaracondong – Bandung – Gambir
KA/STKACBDCMIPWKBKSJNGGMR
3504.2007.10
3704.3504.5505.0806.3907.4808.0708.22
3906.4506.5809.3809.5610.12
5309.1009.2512.0312.2412.40
67F10.3010.4313.2413.4514.01
5511.1011.2313.5714.1514.31
4111.3511.5014.2314.4417.00
4313.3013.5014.0315.2816.3917.0017.16
4515.0015.1317.4118.0118.17
4717.4518.1018.2520.5421.1621.31
69F19.2519.3822.2522.4322.59
4920.4520.5922.2523.3223.5000.06
5122.0522.1800.4901.0701.23
65F22.5523.0901.2901.4702.02
Keteraangan:
ST = Stasiun // KA = Nomor Perjalanan KA
KAC = Kiaracondong // BD = Bandung // CMI = Cimahi // PWK = Purwakarta // BKS = Bekasi // JNG = Jatinegara // GMR = Gambir

B. Gambir – Bandung – Kiaracondong
KA/STGMRBKSPWKCMIBDKAC
3605.3006.0207.1008.3508.46
3806.1506.4809.3810.1010.20
5607.1210.2010.31
4008.5509.2812.0212.13
4210.4511.1713.5814.1814.28
5413.1013.4316.2216.33
68F14.2515.0017.2717.38
4415.4018.30
4617.4518.1820.4820.59
4818.4519.1821.5722.08
5022.0522.3701.1601.27
5222.5523.2701.5402.05
70F23.3000.0202.2902.40
66F00.4003.2903.40
Keteraangan:
ST = Stasiun // KA = Nomor Perjalanan KA
GMR = Gambir // BKS = Bekasi // PWK = Purwakarta // CMI = Cimahi // BD = Bandung // KAC = Kiaracondong

Referensi


6 thoughts on “Kereta Api Argo Parahyangan, Legenda Priangan Barat”

  1. Pingback: Trip Kereta Api Lodaya 2015 (Dalam Rangka Daurah) - Solo Traveling ID

  2. Pingback: Kereta Api Pangandaran, Sang Raja Priangan - Solo Traveling ID

  3. Pingback: Bandung Garut Naik Kereta Api Pangandaran - Solo Traveling ID

  4. Pingback: Penerbangan Bandung Jakarta dan Prospek Ke Depan - Manglayang ID

  5. Pingback: Jackal Holidays Travel Jakarta Bandung - Manglayang ID

  6. Pingback: Travel 4848 Bandung Nyaris Terlupakan - Manglayang ID

Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: