01 Kereta Api Garut Potensi Transportasi Berbasis Rel

Kereta Api Garut dan Potensi Transportasi Berbasis Rel

Pasca selesainya reaktivasi, Kereta Api Garut punya potensi besar untuk berkembang ke depannya. Stasiun yang direaktivasi dibikin sangat megah. Bahkan disebut-sebut termegah di Asia Tenggara. Menyaingi Kuala Lumpur Central Station (KL Central). Hanya saja potensi tersebut harus benar-benar dioptimalkan. Masyarakat harus mulai disosialisasikan untuk menggunakan transportasi berbasis rel. Salah satunya lewat keberadaan rangkaian kereta api lokal (commuter) di wilayah itu.

Setelah 30 tahun mati suri, jalur kereta legendaris penghubung Cibatu-Garut akhirnya berhasil direaktivasi. Meski baru sebatas sampai Stasiun Garut Kota, paling nggak masyarakat Garut nantinya punya moda transportasi alternatif yang cepat dan nyaman. Tentunya bebas macet dimana ini jadi keunggulan tersendiri moda transportasi berbasis rel. Kembalinya si ular besi ke Swiss Van Java tentunya akan membangkitkan perekonomian masyarakat setempat. Terutama sektor Pariwisata yang jadi andalan Kabupaten Garut.

Bahkan sekarang ini mulai bermunculan sejumlah wacana rute KAJJ ke Stasiun Garut. Misalnya perpanjangan rute KA Argo Parahyangan yang semula cuma Gambir-Bandung nantinya diperpanjang jadi Gambir-Bandung-Garut di jam-jam tertentu. Juga perpanjangan rute KA Elok Cibatuan dari yang sebelumnya hanya sampai Stasiun Cibatu, dibablasin hingga ke Stasiun Garut yang bukan cuma direaktivasi tapi juga dibikin megah.

Belum lagi rencana semua kereta api jarak jauh Jawa Tengah dan Timur diberhentikan di Stasiun Cibatu. Dimana sekarang cuma KA Serayu saja yang berhenti di sana. Tujuannya lagi-lagi untuk mendukung jalur menuju Garut Kota yang telah direkativasi. Itu artinya dari Cibatu ke Garut akan ada semacam kereta feeder. Dalam rangka mendukung kereta-kereta jarak jauh tersebut. Makanya di beriita juga disebut dari Garut ke Jogja akan ada kereta.

Optimalisasi Kereta Api Garut melalui Lokalan.

02 Jalur Eksotis Lembah Mandalawangi di Kadungora Garut

Jalur sudah ada, semua perlengkapan seperti persinyalan sudah siap digunakan. Beberapa wacana kereta jarak jauh sudah berseliweran di media. Namun untuk mengoptimalkan potensi moda transportasi favorit masyarakat ini nggak cukup hanya mengandalkan rangkaian kereta api jarak jauh. Masyarakat setempat harus mulai diperkenalkan tentang pentingnya sebuah transportasi publik. Kereta api adalah satu diantaranya.

Moda transportasi massal yang punya satu keunggulan dibanding angkutan jalan raya yakni bebas macet. Apalagi Stasiun Garut sekarang udah dibikin sangat megah, disebut-sebut termegah di Asia Tenggara menyaingi Kuala Lumpur Central Station (KL Central). Namun sayangnya, sementara masih terlihat bahwa Perkeretaapian Garut begitu mengandalkan kereta api jarak menengah dan jarak jauh.

Padahal di Kabupaten Garut dan sekitarnya, stasiun bukan cuma yang besar-besar aja seperti Cibatu dan Garut. Jangan lupa masih ada Stasiun Leles, Karangsari, Halte Leuwigoong, Stasiun Warung Bandrek, Bumiwaluya dan Cipeundeuy di lintas utama Padalarang-Kasugihan. Adapun di lintas cabang ada Stasiun Pasirjengkol dan Wanaraja, selain 2 stasiun besar tadi. Nah potensi bagus ini harusnya bisa dioptimalkan melalui rangkaian kereta komuter (lokalan Garut).

Stasiun Cibatu jadi Central

Untuk mengoperasikan lokalan di Garut, semua sarana dan pra sarana tentunya harus siap. Memang untuk sekarang 99,99% sistem persinyalannya masih menggunakan mekanik. Termasuk di jalur Cibatu-Garut yang baru selesai direaktivasi. Tapi itu bukan masalah. Intinya masyarakat membutuhkan solusi moda transportasi massal yang aman, nyaman, cepat bebas macet, dan dengan tarif terjangkau.

Oke untuk sinyal mungkin bukan masalah. Sekarang potensi masing-masing stasiun tadi. Untuk lintas utama 3 stasiun yakni Leles, Karangsari dan Halte Leuwigoong potensinya cukup besar. Mereka adalah market utama KA Elok Cibatu saat ini. Cuma sayangnya KA Elok Cibatu jadwalnya terbatas. Itu juga nggak bisa dibilang lokalan murni, tapi lebih ke jarak menengah. Kalo nggak mau dibilang Lokal rasa KAJJ.

Warung Bandrek dan Bumiwaluya (Malangbong) saat ini tak ada aktivitas naik turun penumpang. Dua stasiun tersebut cuma melayani persilangan dan susulan KAJJ. Padahal kalo ada lokalan warganya bisa jadi akan menyambut dengan antusias. Selama (lagi-lagi) tarifnya nggak lebih mahal dari angkutan jalan raya. Duh typical Indonesia banget ya, perhitungan banget soal biaya. Hehehe….

Stasiun Cipeundeuy memang bukan stasiun besar. Tapi semua KAJJ wajib berhenti di sini untuk pengecekan rem. Karena sebelum dan sesudahnya melewati jalur yang sangat ekstrem. Sekarang udah mulai melayani naik turun penumpang. Cuma sayangnya cuma mengandalkan KAJJ. Lokalan jelas dibutuhkan untuk mendukung operasional Stasiun ini.

Adapun Stasiun Cibatu yang jadi titik temu antara lintas utama dengan lintas cabang menuju Garut bisa dijadikan Central Station. Dan memang sangat layak untuk itu. Fasilitas yang ada udah lebih dari memadai. Di sini punya Sub-Dipo Lokomotif yang bisa diupgrade jadi Dipo. Juga punya turntable. Nah penumpang yang hendak menuju Garut bisa turun di sini dan berganti kereta feeder menuju Stasiun Garut. Untuk itu jumlah feeder yang diberangkatkan dari Garut juga harus memadai.

Hal lain yang harus dipersiapkan ialah sistem ticketing. Gimanapun juga akan sedikit sulit bagi armada kereta di lintas utama untuk langsung menuju Stasiun Garut. Terutama dari arah Cipeundeuy. Apabila masih menggunakan kereta konvensional yang ditarik lokomotif. Secara lintas dari Cibatu ke Cipeundeuy lumayan ekstrem. Sehingga mau nggak mau tetap harus transit di Cibatu sebelum lanjut ke Garut.

Solusi yang bisa diterapkan ialah pemberlakuan satu tarif. Jadi penumpang yang turun di Cibatu nggak usah antri lagi untuk membeli tiket ke Garut. Walaupun sistemnya belum online dan masih pakai tiket thermal biasa. Cara seperti ini dulu pernah diterapkan di KCI (Sekarang KAI Commuter). Awal-awal pengenalan sistem Commuter Line di Jabodetabek tahun 2011 dan masih pakai tiket kertas. Cukup beli tiket satu kali aja. Tinggal sebut mau ke mana. Lintas Garut juga nggak seruwet Jabodetabek.

Dengan adanya rangkaian lokalan commuter di lintas utama maupun cabang, inSyaaAlloh Kereta Api Garut akan lebih bisa dimaksimalkan lagi. Nggak rasional dong dari Cibatu ke Cipeundeuy harus bayar 63.000 naik KA Serayu. Cuma ngandalin perpanjangan KA Argo Parahyangan dari Gambir juga kurang bisa menggali potensi si ular besi dengan lebih maksimal. Apalagi segmen Jakarta udah ada saingan Bus AKAP.

Memberhentikan semua rangkaian Jarak Jauh di Cibatu juga sama. Nggak akan efektif selama nggak ada feeder menuju Stasiun Garut. Masa iya harus parsialan KA Argo Parahyangan (kalo jadi diperpanjang) atau tungguin KA Elok? Makanya KA Lokalan memang diperlukan untuk memaksimalkan potensi perkeretaapian di Garut yang dulu pernah berjaya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: