Kereta Api Pangandaran Sang Raja Priangan

Kereta Api Pangandaran, Sang Raja Priangan

Kereta Api Pangandaran melayani perjalanan antara Jakarta dan Banjar. Melintasi eksotisme alam Priangan Barat dan Priangan Timur. Meski bukan barang baru, layak disebut sebagai Raja Priangan. Punya potensi perpanjangan rute hingga Pangandaran.

Di masa lalu sebenarnya udah ada kereta api yang menghubungkan kedua kota. Terutama sobat traveler yang pernah menikmati era 1990-an pastinya nggak asing dengan KA Galuh, sebuah rangkaian kereta api ekonomi ketika itu melayani rute Jakarta Pasar Senen – Banjar. Okupasi kereta ini nggak bisa dibilang minim. Cuma tau sendiri kan kaya gimana kereta ekonomi dulu. Nggak sedikit penumpang yang ngambing alias nggak beli tiket. Makanya layanan kereta ini cuma bertahan sampe awal 2000-an.

Meski secara kasat mata terlihat laris, namun pembukuan menyatakan sebaliknya. Kereta ini merugi ditambah lagi kurang efisien. Karenanya penutupan menjadi opsi terbaik yang mesti diambil daripada menambah rugi operasional perusahaan. Secara awal Millenium adalah awal-awal PT. KAI. Jadi mau nggak mau harus bisa berbisnis. Belum lagi ada kereta lain yang juga bermain di rute yang sama, yakni KA Serayu. Belum lagi yang berangkat dari Bandung semanya berhenti di Banjar.

Sepeninggal KA Galuh otomatis penumpang tujuan Banjar diangkut KA Serayu (dari Jakarta) dan sejumlah kereta ekonomi lainnya yang dari Bandung seperti KA Kahuripan, Kutojaya Selatan dan Pasundan. Sekitar tahun 2006 PT. KAI mencoba menghidupkan lagi layanan kereta api Jakarta Banjar lewat KA Priangan Ekspress. Berbeda dengan pendahulunya, kereta ini melewati jalur loop line juga melayani keberangkatan dari Stasiun Tanah Abang.

Namun sayang operasional KA Priangan Ekspres hanya bertahan sebulan. Lagi-lagi gegara okupasi yang minim dan harga tiket yang ternyata masih lebih mahal daripada bus. Dimana Jakarta-Garut, Jakarta-Tasikmalaya dan Jakarta-Banjar sejatinya merupakan rute gemuk buat bus. Jangkauan bus itu sendiri ternyata lebih luas. Ditambah adanya Tol Cipularang yang membuat waktu tempuh bus menjadi sedikit lebih singkat.

Segmen Jakarta-Banjar lagi-lagi harus memanfaatkan KA Serayu. Sejak saat itu KA Serayu jadi satu-satunya pilihan bepergian buat warga Jakarta yang hendak ke Priangan Timur dan sebaliknya.

Kereta Api Pangandaran, Pengembangan dari Argo Parahyangan

Memasuki tahun 2018 keadaan berubah total. Tol Cipularang yang semula digadang-gadang bisa mempersingkat waktu tempuh Jakarta-Bandung hingga Priangan Timur ternyata semakin hari semakin macet. Ditambah lagi banyaknya proyek infrastruktur di Jalan Tol Cikampek. Jalan tol dan aksesnya yang semakin padat membuat kereta api kembali menjadi pilihan utama.

Mulai tahun tersebut Kereta Api Argo Parahyangan seperti jadi tambang uang buat PT. KAI. Hampir setiap hari okupasinya nyaris 100%. Malah kalo mau naik kereta ini harus booking dulu 2 pekan sebelum berangkat kalo nggak mau kehabisan tiket. Rangkaian kereta reguler tak lagi mampu menampung animo masyarakat segmen Jakarta-Bandung. Hingga PT. KAI pun memanfaatkan sejumlah rangkaian idle untuk dioperasikan sebagai Kereta Api Argo Parahyangan Tambahan.

Kereta Api Pangandaran dari Jakarta ke Priangan Timur

Ditambah lagi permintaan masyarakat Priangan Timur supaya PT. KAI kembali mengoperasikan kereta api jurusan Jakarta. Karena sejak 2007 mereka cuma punya pilihan KA Serayu saja. Melihat tingginya minat akhirnya operator mengembangkan layanan Kereta Api Argo Parahyangan. Rutenya yang semula cuma sampe Stasiun Bandung (atau mentok-mentoknya Kiaracondong) diperpanjang jadi sampe ke Banjar.

PT. KAI melakukan rebranding terhadap layanan yang diperpanjang ke Banjar ini dengan nama Kereta Api Pangandaran. Diluncurkan mulai 2 Januari 2019 kereta ini memanfaatkan rangkaian Kereta Api Argo Parahyangan Premium dan Kereta Api Argo Parahyangan Tambahan (rangkaian sendiri full eksekutif). Selama 6 bulan pertama PT. KAI memberlakukan harga promo sebesar Rp 1.000,00 untuk segmen Bandung-Banjar.

Ketika tarif promo diberlakukan, animo masyarakat sangat tinggi. Malah kebanyakan cuma pengen kekeretaan doang. Terutama mereka yang jarang sekali bahkan nggak pernah naik kereta ikut memanfaatkan momen tersebut. Namun sayangnya nggak dibarengi dengan perilaku disiplin masyarakat pengguna dalam menjaga fasilitas yang ada. Selama berlaku tarif promo banyak sekali fasilitas yang rusak. Terutama di kereta eksekutif.

Semester kedua tahun 2019 tepatnya bulan Juli, PT. KAI mulai memberlakukan tarif normal. Segmen Gambir-Bandung mengikuti tarif Kereta Api Argo Parahyangan. Bandung-Banjar Rp 100.000 (eksekutif) dan Rp 50.000 (premium). Sementara full trip Gambir-Banjar Rp 250.000 (eksekutif) dan Rp 150.000 (premium). Ketika tarif normal mulai berlaku terjadi penurunan okupasi signifikan khususnya di segmen Bandung-Banjar.

Satu Rute Gambir-Banjar

Interior Kereta Api Pangandaran

Kereta Api Pangandaran melayani rute Gambir-Banjar PP. Namun ketika pertama kali diluncurkan tersedia dua pilihan yakni Gambir-Banjar PP dan Bandung-Banjar PP. Sayangnya setelah beroperasi selama setahun segmen Bandung-Banjar okupasinya sangat minim bahkan nyaris kosong. Sementara untuk Gambir-Banjar masih lebih baik dan masih terbantu segmen Gambir-Bandung yang booming.

Mulai bulan Maret 2020 PT. KAI akhirnya meniadakan rute Bandung-Banjar dan hanya menjalankan satu rute saja yakni Gambir-Bandung. Dimana konsekuensinya keberangkatan dari Stasiun Gambir jadi maju ke jam 05.30 WIB dari semula jam 07.50 WIB. Pemberhentian pun ditambah Stasiun Bekasi dari sebelumnya melintas langsung. Untuk Bandung-Banjar keretanya dialihkan untuk memperkuat Kereta Api Argo Parahyangan.

Dengan hanya fokus di Gambir-Banjar PP jelas makin mengokohkan posisi Kereta Api Pangandaran sebagai raja Priangan. Meski sekarang 4 rangkaian kereta api: Argo Wilis, Malabar, Mutiara Selatan dan Turangga diperpanjang hingga Jakarta dan tentunya ikut menggarap segmen Jakarta-Banjar. Sehingga lebih banyak pilihan.

Meski demikian Kereta Api Pangandaran masih jadi pilihan utama traveler dari Jakarta yang hendak menuju Priangan Timur. Karena tarifnya masih lebih murah daripada keempat kereta di atas.

Kereta Api Pangandaran dan Potensi Perpanjangan Rute ke Pangandaran

Nama Kereta Api Pangandaran diambil dari Pantai Pangandaran, objek wisata pantai unggulan di Priangan Timur khususnya Kabupaten Pangandaran. Sejatinya dari Banjar ke Pangandaran sudah tersambung rel kereta api dengan suguhan pemandangan eksotis dan melewati terowongan Wilhelmina sepanjang 1 km. Semula terowongan ini adalah yang terpanjang di Indonesia sebelum MRT Jakarta beroperasi di tahun 2019.

Sayangnya jalur eksotis ini ditutup di awal 1980-an karena okupasi minim akibat kalah bersaing dengan angkutan jalan raya dan sarana yang sudah uzur. Sempat akan diaktifkan lagi tahun 1997 tapi keburu krisis moneter sehingga rencana itupun buyar. Jalur menjadi non-aktif total selama puluhan tahun. Tahun 2018 angin segar dihembuskan Gubernur Jawa Barat yang ingin menghidupkan lagi jalur non-aktif tersebut untuk meningkatkan perekonomian.

Salah satunya Banjar-Pangandaran. Keberadaan Kereta Api Pangandaran sejatinya tak lepas dari rencana tersebut. Meski untuk sementara rutenya mentok Stasiun Banjar. Tak menutup kemungkinan pada saatnya nanti jalur menuju Pangandaran hidup lagi, rute Kereta Api Pangandaran diperpanjang sampai ke sana. Jadi pas sama namanya, Kereta Api Pangandaran tujuan akhir Pangandaran.

2 thoughts on “Kereta Api Pangandaran, Sang Raja Priangan”

  1. Pingback: Bandung Garut Naik Kereta Api Pangandaran - Solo Traveling ID

  2. Pingback: Revitalisasi Stasiun Garut (Catatan Perjalan Juli 2019) - Solo Traveling

Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: