KRL Jogja dan Kalioso Gasruk Duluan

KRL Jogja dan Kalioso, Gasruk Duluan

KRL Jogja dan Kalioso, ketika sebuah rangkaian KRL yang dibawa dari Jakarta untuk nantinya dinas di jalur Prameks belum apa-apa udah mengalami insiden di Jembatan Kalioso. Mengakibatkan pantograf dan AC terlepas dari kedudukannya. Ditambah lagi gasruk di peron Stasiun Kalioso.


KRL Jogja dan Kalioso Gasruk Duluan

Akhir Oktober 2020 lalu diwarnai dengan sebuah insiden yang cukup mengherankan. Seperti kita ketahui akhir-akhir ini sedang hangat-hangatnya pembahasan seputar pengoperasian KRL di koridor Jogja dan Solo sebagai pengganti KA Prameks yang selama ini jadi andalan transportasi berbasis rel di wilayah bekas Kesultanan Mataram tersebut.

Rencana ini sejatinya udah lama. Pengoperasian KRL di Bumi Mataram. Mengingat okupasi KA Prameks yang terus meningkat sementara armadanya sendiri terbatas dan kadang mengalami kerusakan. Karenanya dibutuhkan sebuah terobosan transportasi umum berbasis rel yang bisa mengangkut lebih banyak penumpang dengan headway maksimum 20 menit. Maka dipilihlah KRL seperti di Jabodetabek.

Penumpang Prameks memang bukan hanya dari kalangan turis, tapi juga commuters (pekerja kantoran, mahasiswa hingga pelajar). Jadi disini udah ideal banget rangkaian KRD tersebut diganti KRL supaya bisa lebih optimal.

KRL Jogja dan Kalioso, Belum Apa-Apa Udah Gasruk Duluan

Tahun 2020 dimulai dengan tahapan awal pembangunan Listrik Aliran Atas (LAA) di sepanjang koridor Jogjakarta hingga Solo Balapan. Pandemi Covid-19 dan sedikitnya angkutan kereta penumpang yang beroperasi membuat pembangunan LAA dipercepat. Hingga di bulan Oktober 2020 sudah siap untuk digunakan.

Armadanya sendiri udah ada satu yang ready. KRL jenis Kfw buatan INKA yang sebelumnya mengisi jalur pink line antara Tanjung Priok-Jakarta Kota maupun sekedar feeder dari Stasiun Jakarta Kota ke Stasiun Kampung Bandan Jakarta. Nah ada satu armada yang khusus didatangkan dari Jepang. Armada ini adalah Series 205-M23 dari Musashino Line yang terdiri dari 8 kereta.

Diangkut dari Jepang lalu mendarat di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, kereta ini langsung dikirim ke Depok untuk dilakukan pengecatan ulang. Hingga akhirnya dikirim menuju Solo Balapan. Tentunya setelah tiba di sana lebih dulu diujicoba di jalur Prameks yang telah dielektrifikasi. Pengiriman akan menggunakan lokomotif dan melewati jalur utara berbelok melewati Kedungjati, atau jalur pertama di Indonesia menuju Solo.

Namun pada saat kereta melintas di jalur legendaris itu terjadilah suatu insiden yang kita sendiri nggak menghendaki itu. Jembatan Kalioso ternyata terlalu pendek buat 205-M23 Series. Alhasil rangkaian mengalami gasruk. Pantograf dan box AC terlepas dari kedudukannya. Nggak hanya itu begitu masuk Stasiun Kalioso lagi-lagi bagian bawahnya gasruk menyenggol peron. Jadilah gasruk dua kali.

Duh, belum apa-apa keretanya udah gasruk duluan, udah rusak duluan meskipun sebenarnya masih bisa jalan. Tapi kan kalo nggak ada pantograf percuma aja. Masa iya susah-susah bangun LAA nggak taunya 205-M23 Series malah didinasin layaknya 203 Series punya Philippines National Railway (PNR) yang dimodifikasi sedemikian rupa terus ditarik lokomotif?

Tentunya kabar insiden gasruk di Kalioso ini menyebar dengan cepat. Bahkan hingga ke negara asalnya, Jepang. Pengiriman tersebut dianggap serampangan dan mendapat kritik tajam dari pecinta kereta di negeri Sakura. Sampe-sampe Mantan Dirut KAI ikut-ikutan mengkritik bekas perusahaannya gegara insiden yang dianggap konyol itu.

Jembatan Kalioso Nan Legendaris

Sedikit mengulas tentang Jembatan Kalioso, tentunya insiden gasruk KRL Jogja dan Kalioso mau nggak mau membuat kita sedikit mereview tentang jalur ini. Jalur kereta api Semarang-Solo udah eksis sejak 1867 meski pada awalnya cuma sampe Stasiun Tanggung. Jalur telah mencapai Solo pada tahun 1884 yang ditandai dengan pembangunan dan operasional Stasiun Solo Balapan untuk pertama kalinya.

Lantas jalur ini diperpanjang hingga ke Jogjakarta. Jalur legendaris ini punya percabangan ke Ambarawa via Stasiun Kedungjati yang sekarang masih berstatus non-aktif. Nah tentang jembatan Kalioso itu sendiri, walaupun mungkin bukan jembatan pertama yang dibangun, intinya udah ada sejak awal jalur beroperasi. Perkiraannya di tahun 1884 itu bersamaan tersambungnya jalur hingga ke Solo.

Nah balik lagi ke insiden belum apa-apa udah gasruk, kebanyakan jembatan-jembatan lama seperti Kalioso hanya bisa dilewati oleh kereta biasa. Makanya sejumlah KA yang melintas di sini seperti KA Brantas, KA Bangunkarta, KA Joglosemarkerto, KA Matarmaja dan KA Majapahit aman-aman aja. Bahkan dulu juga pernah ada KRD Holec yang lewat sini, yakni KRD Banyubiru.

Sayangnya jembatan itu nggak siap untuk dilewati kereta yang ukurannya lebih tinggi seperti 205-M23 Series ex-Musashino Line. Karena diasumsikan bisa ujung-ujungnya terjadilah gasruk tadi. Makanya itu pengiriman batch-2 nanti yang rencananya akan lewat sini lagi nggak akan dalam keadaan utuh. Bagian Box AC dan Pantograf kemungkinannya bakal dilepas hingga kereta tiba di Solo.

Tentunya kita nggak mau toh calon kereta masa depan di Tanah Mataram harus mengalami gasruk lagi? Apalagi sampe benar-benar nggak bisa beroperasi? Sayang dong investasi gede buat bangun LAA. Masa iya cuma dilewatin Kfw doang? Padahal rencananya armada KRL di Tanah Mataram bakal lebih banyak daripada KA Prameks saat ini. Supaya headway bisa 20 menitan.

1 thought on “KRL Jogja dan Kalioso, Gasruk Duluan”

  1. Pingback: Ada Apa Dengan Kereta Api Indonesia? - Manglayang ID

Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: