Masa Sulit Maskapai Penerbangan

Masa Sulit Maskapai Penerbangan

Masa Sulit Maskapai penerbangan di tahun 2020. Efek dari Pandemi Covid-19 yang belum berakhir. Sejumlah maskapai terancam gulung tikar bahkan ada yang menyatakan berhenti beroperasi. Ada juga yang beralih ke bisnis kuliner hingga aqiqah demi menyelamatkan kelangsungan bisnis perusahaan.

Tak terasa kita udah mulai memasuki penghujung tahun 2020. Sekitar 2-3 bulan lagi kita akan masuk fase pergantian tahun dari 2020 ke 2021. Namun ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. 2020 ini sepertinya menjadi tahun yang unik. Kenapa? Sepanjang tahun kita mengalami hal-hal yang nggak biasa. Misalnya harus beraktivitas dari rumah. Sehingga hari minggu dan hari-hari biasa kaya nggak ada beda.

Itu semua gegara Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung sejak awal tahun. Indonesia sendiri pertama kali melaporkan adanya kasus Coronavirus tersebut di bulan Maret 2020. Memang agak terlambat bahkan diduga sebetulnya virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, itu udah masuk Indonesia sejak sebelum Maret 2020. Coronavirus membawa dampak besar bagi keseharian masyarakan. Demikian pula untuk sektor-sektor ekonomi, salah satu yang paling terdampak ialah pariwisata.

Bahkan untuk pariwisata aja sejak pertama kali virus ditemukan udah kena dampak. Ketika pemerintah Kota Wuhan memutuskan untuk menutup total kota tersebut otomatis nggak ada aktivitas pariwisata di sana. Begitupula maskapai penerbangan nggak ada yang terbang ke sana. Indonesia sendiri memang nggak ada penerbangan langsung kecuali transit via Kuala Lumpur atau Beijing untuk ke Wuhan.

Bulan Maret 2020 Indonesia kali pertama melaporkan adanya kasus positif Covid-19. Padahal di bulan itu sedang dalam periode pemesanan tiket kereta api Lebaran 2020. Kereta reguler memang udah kelar pada saat kasus pertama itu diumumkan ke publik dan masih menunggu pembukaan untuk tiket kereta tambahan. Namun apa yang terjadi, karena pandemi makin meluas PT. KAI akhirnya menutup operasional angkutan penumpang.

Tradisi tahunan mudik pun ditiadakan. Otomatis nggak ada yang namanya kereta tambahan. Meski masih ada kereta yang beroperasi sifatnya terbatas dan harus dengan persyaratan yang lumayan ketat. Dunia penerbangan juga sama. Malah itu tadi, sebelum Maret 2020 udah mulai terdampak. Penerbangan menuju Wuhan distop sejalan dengan kebijakan Lockdown pemerintah setempat.

Masa Sulit Maskapai Penerbangan: Karyawan Dirumahkan, Banting Setir hingga Tutup

Pandemi yang udah berlangsung hampir sepanjang tahun menjadikan 2020 ini sebagai tahun kelam dunia pariwisata dan transportasi umum. Tak terkecuali maskapai penerbangan. Masa-masa sulit ini mau nggak mau membuat perusahaan harus mengambil sejumlah langkah untuk meminimalisir dampak kerugian akibat menurunnya jumlah penumpang.

Mulai dari kebijakan merumahkan karyawan, banting setir ke bisnis lain, hingga menutup operasional baik yang sifatnya sementara maupun permanen. Kebijakan pertama diambil ketika fase-fase awal Lockdown atau PSBB kalo di Indonesia. Ketika PSBB mulai sedikit dilonggarkan dengan kebijakan AKB (Aktivitas Kenormalan Baru) yang menitikberatkan pada protokol kesehatan ketat maskapai mulai sedikit bernapas.

Namun sayangnya karena ada syarat lain seperti menyertakan surat Rapid Test Non-Reaktif atau PCR Test Negatif membuat orang jadi malas bepergian menggunakan transportasi umum termasuk pesawat. Hasilnya sejumlah maskapai mulai mengalami kesulitan keuangan. Lantas yang terjadi maskapai dihadapkan pada dua pilihan: banting setir ke bisnis lain atau tutup sementara/permanen.

Dua maskapai terkenal yakni Thai Airways dan AirAsia memilih kebijakan banting setir ke bisnis lain. Tujuannya supaya bisa tetap survive di masa pandemi. Thai Airways misalnya mulai merambah bisnis kuliner dengan jualan gorengan. Sedangkan AirAsia malah mulai menggarap bisnis aqiqah. Adapun maskapai lain coba bertahan dengan mengoptimalkan layanan Cargo.

Meski demikian nggak semua maskapai mampu dan bisa banting setir. Sehingga pilihan paling berat harus diambil yakni tutup permanen. Cathay Pasific Group, maskapai penerbangan yang berbasis di Hong Kong mengumumkan akan menutup secara permanen Cathay Dragon dalam rangka restrukturisasi perusahaan. Padahal Cathay Dragon merupakan jembatan udara dari Hong Kong menuju daratan Tiongkok, bahkan sudah punya rute internasional ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Ada juga yang hanya menutup sementara operasionalnya sampai Pandemi Covid-19 benar-benar mereda. Seperti diambil oleh maskapai penerbangan nasional swasta, Transnusa. Maskapai pengoperasi ATR-72 dan banyak layani rute perintis ini memutuskan untuk tutup sementara. Alasannya untuk mengurangi beban operasional akibat rendahnya okupasi.

Maka dengan demikian tahun 2020 ini bisa disebut sebagai tahun kelamnya pariwisata dan transportasi umum. Termasuk maskapai penerbangan. Kita berharap semoga dengan adanya Vaksin Covid-19 yang akan mulai diedarkan di bulan November dan Desember 2020 bisa meminimalisir bahkan mengakhiri pandemi yang telah berlangsung hampir setahun lamanya. Sehingga pariwisata dan transportasi bisa kembali bergerak.

Leave a Comment

Your email address will not be published.