McDonnell Douglas Pernah Dominasi Langit Nusantara

McDonnell Douglas Pernah Dominasi Langit Nusantara

McDonnell Douglas merupakan salah satu produsen pesawat legendaris. Produknya bahkan pernah mendominasi langit Nusantara. Namun sejak tahun 1997 perusahaan tersebut dibeli Boeing setelah mengalami kebangkrutan. Sejumlah armada pernah mengalami insiden serius, khususnya yang dioperasikan maskapai Indonesia.

[INFOGRAFIS] McDonnell Douglas Pernah Dominasi Langit Nusantara

Saat ini langit nusantara didominasi oleh pesawat keluaran Airbus dan Boeing. Airbus mengoperasikan jenis A320 untuk rute domestik. Pesawat narrow body yang satu ini memang terkenal irit dan aman. Menggunakan teknologi Fly By Wire. Adapun Boeing masih mengandalkan B737-800 dan B737-900. Tentunya seri terbaru. Walaupun sebagian kecil mungkin masih ada yang mengoperasikan tipe lebih jadul kaya B737-500 nya Trigana Air.

Selain dominasi kedua raksasa tadi, kita juga sering melihat burung besi jenis Mitsubishi CRJ 100 (dulu Bombardier CRJ 100). Pesawat ini dioperasikan Garuda Indonesia. Memang nggak sebanyak Boeing 737-800 NG dan dinas di sebagian rute aja. Ditambah lagi ATR-72, pesawat propeller biasa beroperasi di jalur perintis dan sebagian kecil rute domestik. Kalopun di kota utama, ATR-72 diterbangkan dari secondary hub seperti Bandara Adi Sucipto (JOG).

Nah itu kondisi sekarang ya, dominasi Airbus dan Boeing ditambah ATR-72 dan Mitsubishi CRJ 100. Pernah nggak kepikir bahwa dulu yang mendominasi langit nusantara justru bukan dari kedua raksasa produsen pesawat itu.

McDonnell Douglas Andalan Garuda Indonesia

Dekade 1960an, 1970an hingga 1980an awal-awal maskapai kebangaan nasional Garuda Indonesia pernah mengoperasikan banyak pesawat keluaran McDonnell Douglas. Di jalur domestik, jenis DC-9 yang paling dominan. Kalo diibaratin dengan kondisi sekarang, DC-9 di masanya pernah jadi andalan Garuda untuk menerbangi jalur domestik. Jadi benar-benar mendominasi langit Nusantara. Terutama di tahun 1980-an

Untuk penerbangan Internasional, Garuda mengoperasikan pesawat dari pabrikan yang sama. Namun jenis Douglas DC-8 dengan 4 mesin. Pesawat ini biasanya digunakan untuk rute penerbangan ke Eropa dan Asia Timur. Salah satunya rute legendaris Jakarta – Amsterdam. Penggunaan DC-8 untuk penerbangan internasional di tahun 1960 hingga tahun 1970-an. Sebelum diganti DC-10 dan Boeing 747 yang punya daya jelajah dan kapasitas lebih.

Garuda Indonesia juga pernah mengoperasikan McDonnell Douglas (MD) 11. Nggak tanggung-tanggung pesawat tersebut dipake untuk penerbangan ke Honolulu dan Los Angles. Meski penggunaan MD 11 nggak berlangsung lama.

MD 82 dan MD 90 Andalan Lion Air

Tahun 2003 ditandai dengan booming maskapai penerbangan bertarif murah atau kita kenal dengan sebutan LCC (Low Cost Carrier). Di antaranya ialah Lion Air. Maskapai yang identik dengan sosok Rusdi Kirana ini di tahun-tahun tersebut mengoperasikan jenis MD 82 bahkan jadi andalan baik domestik maupun internasional. Ini merupakan varian MD-80 pengembangan dari DC-9 di tahun 1982 (DC9 80).

Seiring berjalannya waktu, Lion Air mulai mengganti MD 82 dengan MD 90 yang lebih baru. Nah MD 90 ini base nya juga masih dari DC-9 dan dikembangkan di tahun 1990-an. Meski nggak dominan kaya di tahun 1980-an, McDonnel Douglas masih bisa ngimbangin Boeing di langit nusantara di eranya LCC Booming. Di sisi lain Airbus 320 baru mulai menghiasi langit nusantara sekitar tahun 2008.

Ketika varian MD 80 dan 90 dipake Lion Air, sejatinya McDonnell Douglas sebagai produsen udah nggak eksis lagi alias bangkrut. Sejak tahun 1997 perusahaan itu diakuisisi Boeing. Jadi hitungannya varian MD 80 dan 90 itu jatuhnya tetap Boeing juga. Kalo ada kerusakan atau urusan pemeliharaan pasti larinya ke Boeing. Karena produsen awalnya udah diakuisisi sejak 1997.

Memasuki tahun 2011, Lion Air mulai meninggalkan pesawat jenis ini dan beralih ke Boeing 737-800 dan Boeing 737-900 ER hingga Boeing 737 Max. Tak hanya itu, maskapai kepala singa merah ini juga mengoperasikan Airbus 320 yang dialokasikan ke anak usahanya, Batik Air, dan ATR-72 untuk Wings Air.

Insiden Serius Pesawat McDonnell Douglas

Dalam perjalannya menghiasi langit nusantara atau setidaknya dioperasikan maskapai Indonesia, pesawat buatan McDonnell Douglas pernah mengalami insiden. Beberapa diantaranya merupakan insiden serius yang sampe makan korban jiwa.

Tanggal 4 Desember 1974 sebuah pesawat jenis DC-8 milik Martinair (Flight 138) mengalami kecelakaan fatal di Maskeliya. Hanya beberapa saat sebelum mendarat di Katunayake Airport. Karena salah interpretasi petugas Approach Control sehingga meminta turun ke 2.000 feet ditambah perbedaan sistem navigasi, pesawat yang diproduksi tahun 1966 tersebut menabrak salah satu tebing Sapta Kanya (The Seven Virgins), jatuh dan hancur.

Insiden yang disebut Kecelakaan Pesawat Haji 1974 menewaskan semua penumpang dan kru. Meski Flight 138 dioperasikan oleh Martinair Holland, pesawat tersebut dicarter oleh Garuda Indonesia untuk keperluan angkutan Jamaah Haji Indonesia asal embarkasi Surabaya via Jalur Udara.

4 April 1987 DC-9 Garuda Indonesia nomor registrasi PK-GNQ jatuh dan terbakar di landasan Bandara Polonia menewaskan 26 awak dan penumpang serta 19 orang luka berat. Pada ketinggian 1.700 kaki menjelang mendarat, pesawat mengalami gangguan dalam cuaca buruk, hujan, kilat dan angin berkecepatan 4 knot.

13 Juni 1996 DC-10 milik Garuda Indonesia tergelincir dan terbakar di Bandara Fukuoka (FUK) Jepang setelah gagal take-off. Pesawat ini sedianya akan menuju Denpasar dan Jakarta. Korban 3 penumpang tewas dan 16 lainnya mengalami cedera. Penyebab pesawat tergelincir karena pilot membatalkan take off setelah mengetahui ada satu masalah.

30 November 2004 MD-82 milik Lion Air JT 568 dari Jakarta (CGK) mengalami overshoot dan tergelincir di Bandara Adi Soemarmo Boyolali Solo (SOC). Ketika menyentuh landasan, pesawat terus melaju hingga menabrak parimeter dan baru berhenti di area pemakaman tak jauh dari bandara. Kondisi pesawat hancur di bagian hidung bawah hingga hampir mencapai leading edge (ujung sayap).

Korban terbanyak penumpang yang duduk di bagian depan. Sebanyak 26 penumpang meninggal dan 55 lainnya luka-luka dalam insiden tersebut. Faktor cuaca menjadi biang keladi tragedi Lion Air itu.


Referensi

  • 13 Foto Dramatis 15 Tahun Tragedi Lion Air Solo. Solopos.Com
  • Douglas DC-8: Lambang Supremasi Penerbangan Jarak Jauh Garuda Indonesia di Era 60/70-an. Kabar Penumpang
  • DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an. Kabar Penumpang
  • DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia. Kabar Penumpang.
  • Sejarah Daftar Panjang Kecelakaan Pesawat Indonesia. Indonesia Tempo Doeloe

Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: