Oktober Kelabu Transportasi Umum

Oktober Kelabu Transportasi Umum

Oktober Kelabu Transportasi Umum. Berbagai peristiwa kelam yang menimpa transportasi umum di Indonesia. Mulai Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987, Tragedi Hercules Condet 5 Oktober 1991, PLH Trowek 25 Oktober 1995 hingga Tragedi Petarukan Pemalang 2 Oktober 2010.

Sejarah kelam di bulan Oktober mungkin itulah yang menimpa beberapa transportasi massal di negeri ini. Tragedi kecelakaan maut yang memakan korban hingga ratusan jiwa terjadi di bulan ini. Tercatat ada 4 musibah besar yang menimpa transportasi umum di Indonesia. Kejadian yang menjadikannya sebagai kecelakaan kereta api terbesar di Indonesia hingga kini. Ada juga musibah jatuhnya pesawat angkut militer selepas perayaan HUT TNI tanggal 5 Oktober.

Meski demikian ada dua lagi tragedi kecelakaan besar namun mulai sedikit terlupakan. Sebuah insiden anjlokan kereta hingga menyebabkan 3 rangkaian terperosok ke dalam jurang dalam. Satu lagi insiden sebuah kereta ditabrak dari belakang ketika sedang berhenti di sebuah stasiun untuk menunggu persilangan dan persusulan di jalur utara Jawa. Kala itu jalur belum sepenuhnya double track.

Berikut sejumlah insiden kecelakaan besar yang terjadi di bulan Oktober. Hingga menjadikannya sebagai Oktober Kelabu Transportasi Umum. Dimulai dari urutan tahun kejadian:

Tragedi Bintaro 1 (19 Oktober 1987)

Boleh jadi inilah tragedi terbesar yang nggak akan pernah hilang dari sejarah dan akan selalu diingat. Di Senin pagi 19 Oktober 1987, dua buah kereta lokal beda kelas yakni kereta api cepat (patas) bernomor 220 rute Tanah Abang-Merak dan sebuah kereta lokal nomor 225 rute Rangkasbitung-Jakarta Kota bertabrakan adu banteng di kawasan Pondok Betung Bintaro Jakarta Selatan.

Tragedi Bintaro 1 terjadi akibat kesalahan manusia (human error) dalam hal ini petugas PPKA dan masinis. Dalam insiden ini KA 225 direncanakan untuk bersilang dengan KA 220 di Stasiun Sudimara. Namun pada saat itu Stasiun Sudimara dalam keadaan penuh. Selain KA 225, terdapat satu KA Indocement (jalur 2) jurusan Jakarta dan gerbong penumpang tanpa lokomotif di jalur 3.

Kesalahan pertama terletak pada PPKA Stasiun Serpong yang tetap memberangkatkan KA 225 tanpa mengecek dulu kondisi Stasiun Sudimara. Terbukti KA 225 terlambat 5 menit dan stasiun sudah dalam kondisi penuh sehingga tak mungkin disilang KA 220 di situ. PPKA Stasiun Sudimara berniat untuk memindahkan persilangan ke Stasiun Kebayoran. Jadi dengan kata lain KA 220 harus menunggu KA 225 di sana.

Namun yang terjadi malah KA 225 melanjutkan perjalanan ke Kebayoran. Sementara KA 220 juga sudah diberangkatkan menuju Sudimara. Dua kereta berada di satu jalur yang sama. Tabrakan pun tak bisa dihindari. Kedua kereta bertabrakan adu banteng di tikungan letter S daerah Pondok Betung Bintaro. Tercatat 150 korban meninggal dunia dalam Tragedi Bintaro 1 tanggal 19 Oktober 1987.

Hingga kini Tragedi Bintaro 1 masih tercatat sebagai kecelakaan terparah dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Dilihat dari banyaknya jumlah korban. Peristiwa sejarah yang akan selalu dikenang dari generasi ke generasi. Bahkan sampai dibuat Film Tragedi Bintaro. Karenanya Tragedi Bintaro 1 masuk dalam Oktober kelabu Transportasi Umum.

Tragedi Hercules Condet (5 Oktober 1991)

Lazimnya perayaan ulang tahun berlangsung secara meriah. Tak terkecuali HUT TNI ke-46 pada tanggal 5 Oktober 1991. Namun sayangnya kemeriahan itu seketika berubah menjadi duka cita. Sebuah pesawat angkut militer jenis Hercules C-130 tujuan Bandara Husein Sastranegara (BDO) Bandung mengalami mati mesin 3 menit setelah take off dari Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) Jakarta.

Pesawat buatan Lockheed Martin tersebut jatuh, terbakar dan hancur berkeping di kawasan pemukiman padat penduduk Condet Jakarta Timur. Menimpa Bangunan Balai Latihan Kerja (BLK) Batu Ampar Condet. Tragedi Hercules Condet memakan korban 132 meninggal dunia, termasuk kru pesawat dan seorang security BLK Batu Ampar. Hanya satu korban selamat yakni Bambang Sugandi alias Bambang Hercules.

PLH Trowek (25 Oktober 1995)

Oktober kelabu Transportasi Umum khususnya di moda transportasi kereta api ternyata nggak berhenti di tanggal 19 Oktober 1987. Masih di bulan Oktober terdapat satu peristiwa bersejarah yang nyaris terlupakan. Boleh jadi karena TKP-nya masuk katagori daerah terpencil di Kabupaten Tasikmalaya. Jauh dari ibukota sehingga minim sorotan media. Apalagi sampe dibikin film.

Tanggal 25 Oktober 1995 dini hari dua buah rangkaian kereta yakni KA Galuh dan KA Kahuripan digabung jadi satu di Stasiun Cibatu karena lokomotif penarik KA Galuh yang berangkat dari Jakarta Pasar Senen tujuan Banjar mengalami kerusakan (mogok). Penggabungan ini untuk mengurangi keterlambatan KA Galuh. Namun nyatanya malah berujung bencana.

Jalur kereta yang ekstrem terdiri dari tanjakan dan turunan mengakibatkan lokomotif KA Kahuripan mengalami blong (gagal fungsi). Hingga akhirnya mengalami anjlok tepat di jembatan Trowek Kabupaten Tasikmalaya. 4 kereta terlempar ke arah kanan, 1 diantaranya masuk jurang sedalam 10 meter. PLH Trowek 1995 makan korban 20 orang, 90 luka berat, dan 246 luka ringan.

Penyebab kecelakaan karena masalah teknis. Beda dengan Tragedi Bintaro 1 yang lebih ke human error akibat miskoordinasi antar PPKA dan masinis.

Tragedi Petarukan Pemalang (2 Oktober 2010)

Musibah yang mengawali era baru PT. KAI bersama dirut terbaik sepanjang sejarah. Ketika KA Senja Utama Semarang sedang berhenti di Stasiun Petarukan Kabupaten Pemalang Jawa Tengah untuk menunggu persilangan dan persusulan. Sebab waktu itu double track Jakarta-Surabaya via utara masih mentok di Stasiun Petarukan.

Otomatis selepas Stasiun Petarukan masih single track. Sehingga harus gantian menggunakan jalur kereta. Awalnya KA Senja Utama Semarang disilang KA Senja Kediri. Namun belum bisa diberangkatkan karena harus mengalah sama KA Argo Bromo Anggrek yang kelasnya lebih tinggi. Nah disinilah petaka itu terjadi. KA Argo Bromo Anggrek melanggar sinyal dan nyelonong masuk ke jalur yang diisi KA Senja Utama Semarang.

Tabrakan dari arah belakang pun tak bisa dihindari. Satu gerbong sampai hancur tak lagi terbentuk. Sebanyak 34 orang tewas dan puluhan lainnya luka dalam kecelakaan tersebut. Tragedi Petarukan Pemalang tercatat sebagai kecelakaan kereta terparah kedua setelah Tragedi Bintaro 1 dilihat dari jumlah korban meninggal dunia.

Sebetulnya masih ada insiden lain diluar 4 tersebut. Namun yang berhasil dirangkum baru 4 yakni Tragedi Bintaro 1, Tragedi Hercules Condet, PLH Trowek 1995 dan Tragedi Petarukan Pemalang.

1 thought on “Oktober Kelabu Transportasi Umum”

  1. Pingback: Tragedi Bintaro, Petaka di Senin Pagi - Manglayang ID

Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: