Perjalanan ke Jogja 1946 (3 Januari 1946)

Perjalanan ke Jogja 1946 dalam rangka menyelamatkan eksistensi Negara Republik Indonesia yang masih seumur jagung. Teror tentara NICA Belanda terus berlangsung hingga mengganggu jalannya pemerintahan. Pada tanggal 3 Januari 1946 diberangkatkan sebuah rangkaian kereta api sebanyak 8 gerbong yang mengangkut Presiden, Wakil Presiden, keluarga beserta jajaran menteri kabinet dari Pegangsaan Jakarta menuju Jogja.

[INFOGRAFIS] PERJALANAN KE JOGJA 1949 (3 Januari 1949)

Baru aja memproklamasikan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 bukan berarti persoalan selesai. Belanda sebagai negara yang pernah menjajah belum mau mengakui. Lebih dari itu dengan segala cara berusaha menduduki kembali Indonesia. Dalam arti menjajah lagi. Dengan membonceng tentara Sekutu (Inggris) yang datang ke Indonesia dalam misi melucuti dan memulangkan tentara Jepang.

Tentara Sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces in The Netherlands East Indies) dibawah pimpinan Jenderal Sir Phillip Christison mulai datang tanggal 24 September 1945. Hanya sebulan lebih sedikit dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Selain melucuti tentara Jepang, mereka juga punya tugas membebaskan para tawanan perang yang ternyata dipersenjatai dengan alasan keamanan.

Sejak kedatangan tentara Sekutu yang dibonceng Belanda, situasi dan kondisi di Jakarta jadi kacau. Baik kalangan pemuda dan pejuang maupun Sekutu saling menebar teror satu sama lain. Di saat yang sama usia pemerintahan Republik baru seumur jagung. Belum punya kepolisian negara yang terstruktur dan kuat, masih mengandalkan peninggalan Jepang. Sementara laskar-laskar perjuangan semakin tumbuh dan berkembang.

Mulai Persiapan Perjalanan ke Jogja, 1 Januari 1946

Memasuki awal 1946, pemerintah mengadakan rapat darurat karena kondisi tak kondusif di Jakarta bisa membahayakan kelangsungan pemerintahan. Setelah datang tawaran dari Sultan Hamengku Buwono IX untuk pindah ke Jogja, Presiden Sukarno memerintahkan pimpinan kereta api secara langsung dan rahasia untuk mempersiapkan kereta api khusus atau juga dikenal Kereta Luar Biasa untuk mengangkut presiden, wakil presiden, keluarga dan jajaran menteri kabinet dari Jakarta ke Jogja.

Balai Yasa Manggarai dikasih tugas untuk mempersiapkan kereta tersebut secepatnya. Rangkaian kereta yang akan dipake dulunya pernah mengangkut Gubernur Jenderal Belanda. Kondisinya masih layak meski nggak dinas sejak 1942. Disiapkan 8 rangkaian kereta penumpang dengan formasi:

  • Lokomotif C2849
  • kereta 1, gerbong barang dan bagasi
  • Kereta 2, kereta penumpang kelas 1 dan 2
  • Kereta 3, kereta penumpang kelas 1 dan 2
  • Kereta 4, restorasi (kereta makan)
  • Kereta 5, kereta tidur kelas 1
  • Kereta 6, kereta tidur kelas 2
  • kereta 7, kereta inspeksi khusus Presiden
  • kereta 8, kerena inspeksi khusus Wakil Presiden

Selama masa persiapan, penjagaan Balai Yasa Manggarai semakin diperketat.

Hijrah Secara Rahasia

Tanggal 3 Januari 1946 jam 18.00 rangkaian kereta yang udah dipersiapkan tersebut berhenti tepat di belakang rumah Presiden Sukarno, Jalan Pegangsaan Timur No.56, posisinya berdekatan sama Halte Pegangsaan di blok Manggarai-Cikini. Sekarang halte itu udah nggak ada seiring pembangunan jalur elevated di awal 1990-an. Kereta melaju pelan seolah langsir dan masuk jalur 6 Stasiun Manggarai. Barang-barang yang udah disiapkan dinaikkan ke atas kereta dalam keadaan kereta berjalan pelan.

Perjalanan Hijrah Secara Rahasia pun dimulai. Dari Manggarai ke Jatinegara laju kereta masih pelan sekitar 25 km/jam dalam kondisi gelap-gelapan untuk mengecoh patroli Belanda. Pengamatan dilakukan di sekitar Viaduct Matraman, di petak Jatinegara-Cipinang-Klender disusun gerbong barang kosong untuk melindungi jalannya KLB. Begitu masuk Stasiun Klender lampu mulai dinyalakan. Selanjutnya dari Stasiun Bekasi kecepatan KLB dipercepat 60 km/jam.

Hal ini dikarenakan wilayah Bekasi pada saat itu masih berada dibawah kendali para pejuang Pro-Republik. Sehingga perjalanan KLB menuju Jogja bisa lebih aman. Jam 20.00 WIB kereta tiba di Stasiun Cikampek. Sejauh ini hijrah secara rahasia demi menyelamatkan roda pemerintahan cukup berhasil terlebih di jam 01.00 WIB yang artinya udah tanggal 4 Januari 1946 KLB masuk Stasiun Purwokerto. Berarti udah 2/3 perjalanan dilewati.

Akhirnya Nyampe di Jogja, 4 Januari 1946

Setelah menempuh perjalanan mencekam, deg-degan, dan sangat rahasia, tepat jam 07.00 WIB pagi, KLB rombongan Presiden Sukarno tiba di Stasiun Tugu Jogja. Perjalanan menuju Jogja dalam rangka menyelamatkan Republik berhasil. Eksistensi Republik Indonesia yang masih seumur jagung terselamatkan. Kedatangan rombongan itu disambut hangat Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Jogja dipilih atas pertimbangan berada di antara 2 bentang alam yakni Gunung Merapi di sisi utara dan Samudera Hindia di sisi selatan. Keduanya membentuk semacam sumbu imaginer dalam satu garis lurus dengan Tugu Jogja, Alun-Alun Utara Jogja, Istana Keraton Jogja, Alun-Alun Selatan. Pertimbangan kedua karena persahabatan antara Ratu Juliana dan Sultan HB IX . Disamping tawaran dari Sultan juga dimana situasi dan kondisi Jogja yang jauh lebih aman.

Terhitung mulai tanggal 4 Januari 1946 ibukota Republik Indonesia berada di Jogja. Selama kurang lebih 3 tahun sampai akhir 1949 pasca pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda. Sukses perjalanan di malam hari itu tak lepas dari peran sejumlah kru kereta berikut:

  • Pengawas: Soegito (DL), Soedarjo (DL), Soeharjono (DL), B.S, Anwir (DL), Mansur Lubis (DL)
  • Lokomotif: Husin (masinis), Murtado, Mulud, Suad
  • Mekanik: Tukimin, Kun Hai, Irie
  • Listrik: Hidayat
  • Kondektur: Sostrosardono, Sujono
  • Restorasi: Sukatma (chef), Moh. Saleh, Sulaiman
  • Pelayan KA: Sapel, Kasban, Amir, Kasim, Adjie, Subandi, Rahali, Jiman, Slamet, Djahidin, Nata, Ilyas.

Peranan mereka nggak bisa dikesampingkan dalam perjalanan ke Jogja 1946 yang bersejarah itu. Berkat jasa-jasa mereka juga pada akhirnya bisa menyelamatkan pemerintahan Republik Indonesia. Untuk selanjutnya bisa menjalankan rodanya di Jogja.


Referensi


1 thought on “Perjalanan ke Jogja 1946 (3 Januari 1946)”

  1. Pingback: Ibukota Indonesia di Jogja, 4 Januari 1946 - Manglayang ID

Leave a Comment

Your email address will not be published.