Pesawat N250 Terbang Perdana 10 Agustus 1995

Pesawat N250 Terbang Perdana Jadi Hari Teknologi Nasional

10 Agustus 1995 Pesawat N250 Terbang Perdana. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari Teknologi Nasional. Untuk pertama kalinya bangsa Indonesia akhirnya bisa membuat pesawat sendiri. Meski masih turboprop, sudah berteknologi canggih di masanya. Sayang impian besar ini dihancurkan oleh IMF.

Adalah Professor Baharudin Jusuf Habibie rohimahulloh yang berhasi membuat bangsa ini terbang tinggi. Beliau merupakan arsitek dirgantara nasional. Proyek N250 sejatinya sudah dirintis sejak 1986 direncanakan sebagai pesawat perintis jarak pendek hingga menengah.

Sebagai negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau-pulau kecil, transportasi udara jelas memegang peranan penting. Selama ini Indonesia sangat tergantung produsen luar negeri. Termasuk untuk pesawat perintis. Memang Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) –sekarang PT. Dirgantara Indonesia– sudah berhasil membangun pesawat perintis NC 212 dan CN 235.

Cuma masalahnya kedua pesawat tersebut masih meggunakan lisensi dari Cassa (Spanyol). Sekalipun dirakit di Indonesia. Karenanya sebagai Menteri Riset dan Teknologi, BJ Habibie ingin agar putra putri terbaik bangsa Indonesia bisa membuat pesawat terbang sendiri. Tujuannya tentu saja untuk mengurangi ketergantungan impor dari luar negeri. Secara untuk kebutuhan transportasi antar pulau juga.

Pesawat N250 Terbang Perdana 10 Agustus 1995

Pesawat N250 Terbang Perdana Memupus Semua Keraguan

Eyang Habibie mendapat tantangan dari Pak Harto untuk bisa menerbangkan pesawat produksi dalam negeri. Tanggal 10 Agustus 1995 tantangan itu akhirnya terjawab. Sempat diliputi keraguan karena banyak yang memprediksi pesawat nggak akan bisa terbang. Malah nggak sedikit juga yang memperkirakan pesawat akan jatuh. Ternyata semua anggapan miring itu terbantahkan.

Disaksikan langsung oleh Pak Harto (Presiden), Ibu Tien, dan sejumlah pejabat negara ketika itu. Akhirnya Pesawat N250 Terbang Perdana selama 55 menit di atas kota Bandung. Momen tersebut disiarkan ke seluruh negeri hingga ke luar negeri. Menunjukkan bahwa putra putri terbaik Indonesia akhirnya bisa produksi dan menerbangkan pesawat sendiri.

N250 memang jenis pesawat turboprop untuk jarak pendek hingga menengah. Namun sudah menggunakan teknologi canggih di masanya yakni fly by wire. Dimana apabila terjadi kesalahan kecil pilot, sistem komputer pada pesawat bisa back up. Prototype yang berhasil diterbangkan itu akhirnya diberi nama “Gatot Kaca”. Setahun kemudian “Gatot Kaca” dipamerkan di Indonesia Air Show.

Jadi Primadona di Paris Air Show 1997

Keberhasilan N250 mengudara pada tahun 1995 membuat pesawat kebanggaan negeri itu dipertunjukkan di salah satu event kedirgantaraan terbesar dunia, yakni Paris Air Show 1997. Untuk membuktikan bahwa Indonesia sudah mampu memproduksi turboprop sendiri. Seluruh negara dunia melihat kehebatan dan kecanggihan pesawat N250 yang sudah menggunakan teknologi Fly By Wire.

“Kita sebagai negara berkembang mampu menunjukkan ke dunia kita advance di bidang teknologi. Pada 1997 N250 terbang ke Paris Air Show dan menunjukkan ke dunia Indonesia telah mampu dan sudah di depan,” (Irlan Budiman, Plt. Corporate Secretary PT. Dirgantara Indonesia).

Keberhasilan anak bangsa membuat N250 sempat membuat sejumlah negara produsen pesawat khawatir. Mereka takut akan tersaingi oleh Gatot Kaca. Teknologi Fly By Wire dan Flight Control menjadikan N250 setara bahkan lebih canggih dari ATR yang juga jenis turboprop. Di tahun 1990-an itu belum ada yang menandingi.

N250 sebetulnya direncanakan akan dibuat 4 prototype. Prototype 1 dinamakan Gatot Kaca telah berhasil terbang dan dibawa ke Paris Air Show. Prototype ke-2 dinamakan Kericing Wesi. Sementara prototype ke-3 dan 4 masih dalam tahap pembuatan badan pesawat. Pembuatan prototype ini dalam rangka memperoleh sertifikasi sebelum diproduksi secara massal.

3 Tahun Setelah Pesawat N250 Terbang Perdana

Ambyar di Tangan IMF

Sayangnya 3 tahun setelah pesawat N250 terbang perdana dan mengguncang dunia, Indonesia dihantam badai Krisis Moneter. Krisis ini memukul sejumlah sektor. Perekonomian nasional terpuruk. Nilai tukar dollar tak terkendali dan terjadi gelombang PHK secara besar-besaran. Keadaan krisis ini akhirnya membuat pemerintah meminta bantuan IMF selaku lembaga donor untuk mengatasi krisis ekonomi.

Namun IMF mengajukan sejumlah syarat agar bisa memberi bantuannya berupa pinjaman lunak kepada Indonesia. Di antara syarat dan itu adalah syarat paling berat ialah menghentikan pendanaan untuk pengembangan pesawat N250. Pdahal IPTN sendiri kondisinya nggak jelek-jelek amat. IPTN selain mengembangkan N250 juga sedang menggarap bagian sayap pesanan Airbus.

Apa mau dikata, perjanjian akhirnya ditandatangani juga oleh Pak Harto pada tanggal 15 Januari 1998. Otomatis impian Indonesia untuk memproduksi pesawat N250 secara massal hancur. 5 bulan setelah penandatanganan itu, Pak Harto lengser dari kursi kepresidenan dan digantikan Pak Habibie. Ironisnya lagi, ketika perjanjian dengan IMF itu ditandatanangi, Pak Habibie yang menjabat sebagai Wakil Presiden tak terlihat.

Sebelum penandatanganan itu, sudah ada rencana untuk membangun pesawat N2130 bermesin jet. Apabila program N250 berhasil. Rencana produksi N2130 untuk mengurangi ketergantungan impor pesawat dari luar negeri. Bila N250 didesign untuk jarak pendek dan menengah, seperti ATR sekarang, N2130 bisa beroperasi secara regional. Misalnya ke negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapore dan Malaysia.

Tapi apa mau dikata. Gegara perjanjian dengan IMF itu. Jangankan N2130 yang baru dibikin miniatur, N250 aja akhirnya cuma jadi 1 prototype Gatot Kaca. Kondisinya sampe sekarang masih terparkir di salah satu hangar PT. Dirgantara Indonesia. Malah disebut udah nggak bisa terbang lagi dan butuh biaya besar untuk mengembangkan lagi.


Referensi:


Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: