Sejarah Kekalahan Jepang di Bulan Juni

Sejarah Kekalahan Jepang di Bulan Juni

Sejarah kekalahan Jepang dalam Pertempuran Midway, Pertempuran Saipan, dan Pertempuran Guam. Membuat posisi kekaisaran Jepang bukan lagi sekedar defensif tetapi jadi semakin kritis. Karena jangkauan sekutu yang makin mendekat ke daratan utama.

Setelah sukses besar dalam menunjukkan kekuatan militer Kekaisaran Jepang di Pearl Harbor 7 Desember 1941 dan menguasasi sejumlah negara di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Kekaisaran Jepang ternyata melakukan sedikit kesalahan dalam perhitungan. Sekecil apapun itu tentu akan sangat berpengaruh besar.

Contoh setelah berhasil merebut Asia Tenggara sekaligus memaksa Belanda, Inggris, Amerika Serikat dan Prancis hengkang dari negeri jajahannya masing-masing, mereka bingung ingin bergerak kemana. Apakah bergerak ke Asia Selatan untuk menaklukkan India, memperkuat kedudukan di kedua kawasan Asia Timur-Tenggara, melakukan serangan ke Amerika Utara, atau bergerak ke selatan lagi dan merebut Australia.

Pihak Kekaisaran Jepang memperkirakan bahwa Amerika Serikat takkan segera pulih pasca penyerangan Pearl Harbor. Nyatanya perhitungan itu keliru. Sebaliknya Amerika Serikat malah berhasil memberikan semacam shock therapy lewat Doolittle Raid pada tanggal 18 April 1942. Ketika pesawat-pesawat pengebom jenis B-25 Mitchel berhasil masuk dan membombardir sebagian Tokyo dari udara.

Serangan itu tentu mengejutkan Kekaisaran Jepang. Mereka sadar telah salah mengantisipasi. Alih-alih memperkirakan Amerika Serikat belum akan bangkit, nyatanya negeri Uncle Sam itu masih mampu memberikan pukulan dalam kondisi yang “masih sakit”. Tak hanya itu, Amerika Serikat telah memasang barikade pertahanan di sejumlah gugusan pulau Pasifik seperti di Midway. Untuk mengantisipasi terulangnya peristiwa Pearl Harbor.

Doolittle Raid cuma menargetkan sebagian kecil Tokyo, lebih khusus kawasan industri yang diduga punya potensi untuk membangun perlengkapan militer. Namun serangan kecil itu ternyata memberi dampak pada posisi Kekaisaran Jepang dalam Perang Pasifik.

Pertempuran Midway (4 – 7 Juni 1942), Sejarah Kekalahan Jepang Pertama

Dilatarbelakangi Doolittle Raid 2 bulan sebelumnya dan ambisi untuk menghancurkan seluruh armada Amerika Serikat yang masih tersisa. Laksamana Yamamoto yang sebelumnya telah sukses dalam serangan ke Pearl Harbor (7 Desember 1941) menjadikan Midway sebagai target berikutnya.

Supremasi militer kekaisaran Jepang memang telah mencapai puncaknya di bulan Maret 1942. Setelah menaklukkan Hindia Belanda (Indonesia) dan menguasai sumber-sumber minyak untuk menyokong armada militernya. Namun siapa sangka mereka justru mendapat pukulan kecil di Tokyo pada April 1942. Hal itu cukup mengejutkan sekaligus membuktikan bahwa Amerika Serikat meski sedang sakit akibat Pearl Harbor masih mampu memberi sedikit perlawanan.

Karenanya Midway, gugusan pulau karang di tengah Samudera Pasifik antara Jepang-Amerika Serikat, dipandang penting untuk dikuasai Kekaisaran Jepang. Dengan kekuatan 4 kapal induk pengangkut pesawat, 150 lebih kapal perang, 248 pesawat tempur, dan 16 pesawat amfibi. Yamamoto punya keyakinan besar akan mengulang sukses Pearl Harbor 6 bulan sebelumnya. Secara 4 kapal induk yang dibawa merupakan “veteran” Pearl Harbor: Akagi, Hiryu, Soryu dan Kaga.

Sementara Amerika Serikat hanya diperkuat 50 kapal perang (3 diantaranya Kapal Induk USS Yorktown, USS Enterprise, USS Hornet). Namun punya keunggulan dalam jumlah pesawat tempur. Selain diangkut 3 kapal induk, Amerika Serikat menempatkan ratusan pesawat tempur di Midway. Meski demikian pesawat tempur Amerika sejatinya bukanlah tandingan pesawat tempur Mitsubishi Zero milik Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.

Meski unggul di atas kertas siapa sangka ternyata semua rencana kekaisaran Jepang telah diketahui oleh Amerika Serikat melalui intelejennya. Disinilah keunggulan teknologi pada akhirnya ditaklukkan oleh kecerdasan. Segala rencana penyerbuan telah diketahui pasti. Dibawah Komando Admiral Nimitz, Amerika Serikat memilih untuk konsentrasi di Midway, suatu hal yang tak diperhitungkan oleh Kekaisaran Jepang yang nampaknya masih terbuai dengan keberhasilan meluluhlantak Pearl Harbor.

Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dibawah komando Laksamana Nagumo memancing armada Amerika Serikat dengan strategi memecah konsentrasi sebagian pasukannya ke Kepulauan Aleut dan sebagian lagi langsung menuju Midway. Namun Admiral Nimitz ternyata tak terpancing bahkan Kepulauan Aleut dinilai tak memiliki arti strategis. Memecah pasukan itu sendiri ternyata jadi kesalahan fatal.

Nagumo tak menyadari itu. Memang berhasil dalam serangan pertama atas Midway. Namun siapa sangka serangan itu justru membuat Angkatan Udara Amerika Serikat melakukan serangan balasan dalam jumlah besar. Semua armada langsung diterbangkan dari Midway. Serangan balasan itu tak diperhitungkan dengan baik. Malah berakibat fatal dengan tenggelamnya kapal-kapal induk milik Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.

Belum lagi kesalahan Nagumo yang justru memasang bom di pesawat-pesawat tempur Jepang yang mengakibatkan keunggulan mereka tak bisa dimanfaatkan dengan maksimal untuk membendung serangan udara Amerika Serikat. Kebijakan untuk mengganti bom ke torpedo ternyata memakan waktu dan jeda waktu sekitar 1 jam itulah yang menjadikan kapal-kapal induk sasaran empuk.

Bahkan Hiryu yang dalam kondisi rusak dan mundur dari pertempuran pun tetap jadi sasaran keganasan pesawat tempur Amerika Serikat. Pertempuran Midway berakhir dengan kemenangan Amerika Serikat. Sementara bagi kekaisaran Jepang inilah kekalahan telak pertama mereka sejak 1592. 4 Kapal Induk: Akagi, Hiryu, Soryu dan Kaga tenggelam. 3.000 tentaranya juga tewas. Nagumo sendiri diungsikan ke salah satu kapal penjelajah.

Sementara di Pihak Amerika Serikat, kerugian yang mereka alami hanya satu kapal induk (USS Enterprise) dan destroyer yang tenggalam, dengan jumlah tentara tewas yang lebih sedikit, yakni 307 orang. Berita Kekalahan dalam Pertempuran Midway ditutup-tutupi oleh Kekaisaran Jepang di dalam negeri maupun negeri jajahan agar tak kehilangan muka.

Sejarah Kekalahan Jepang: Pertempuran Saipan (15 Juni – 7 Juli 1944)

Sejak mengalami kehancuran nyaris total pada Pertempuran Midway, Kekaisaran Jepang tak lantas mengganti armada perangnya yang hancur total. Terutama mengganti 4 kapal induk veteran Pearl Harbor yang semuanya berhasil ditenggelamkan oleh Amerika Serikat. Sejak saat itu posisi Jepang jadi lebih defensif. Lebih buruk lagi kekaisaran Jepang cenderung meremehkan faktor intelejen sebagai bagian penting untuk memenangkan pertempuran.

Itu jelas terjadi di Midway dimana pihak lawan telah mengetahui secara detil jumlah armada hingga tanggal penyerangan melalui intelejennya. Hasilnya di 3 tahun kemudian Sejarah kekalahan Jepang di Perang Dunia ke-2 terus terjadi. Satu per satu gugusan pulau kecil di Pasifik berhasil direbut oleh tentara Sekutu dibawah komando Amerika Serikat. Diantaranya adalah Kepulauan Mariana, dimana Saipan, Tinian dan Guam berada di dalamnya.

Saat itu Kepulauan Mariana masih dalam kekuasaan Kekaisaran Jepang. Bahkan Laksamana Chuichi Nagumo selaku veteran Pearl Harbor dan Midway ditempatkan di sana. Tanggal 15 Juni 1944 pulau Saipan dijaga sekitar 32.000 pasukan Jepang dan siap menghadang serangan militer Sekutu. Dengan cara bertahan di bunker-bunker perlindungan.

Sekutu yang unggul jumlah personil dan persenjataan akhirnya mampu merebut sejengkal demi sejengkal Pulau Saipan. Sampai akhirnya pasukan Jepang menggunakan taktik terakhir yakni Serangan Banzai, bertempur sampai titik darah penghabisan. Dengan begitu pertempuran Saipan sudah bisa ditebak dimenangkan oleh Sekutu. Pulau ini sekarang sepenuhnya dikuasai Sekutu. Nagumo sendiri akhirnya memilih harakiri.

Pertempuran Saipan berlangsung selama kurang lebih 3 pekan. Jepang kehilangan hampir seluruh pasukannya sementara Sekutu hanya 3.426 serdadu dari total 67.451 orang. Tentang Pertempuran Saipan bisa dibaca di sini: Kisah Pertempuran Saipan (Pertempuran Banzai).

Pertempuran Guam (21 Juli – 10 Agustus 1944)

Sejatinya Guam berada dibawah administrasi Amerika Serikat sejak 1899 setelah sebelumnya sempat jadi Koloni Spanyol. Namun pada 10 Desember 1941 atau selang 3 hari setelah serangan ke Pearl Harbor, Kekaisaran Jepang berhasil merebut Guam dari Amerika Serikat dan menguasainya. Karenanya Amerika Serikat yang memimpin pasukan Sekutu ingin kembali merebut bagian dari Kepulauan Mariana itu.

Sukses besar merebut Pulau Saipan dalam Pertempuran Saipan yang berakhir pada 7 Juli 1944. Sekutu lantas mengarahkan target berikutnya ke Guam. Tujuannya agar seluruh Mariana dapat dikuasai dan semakin mudah untuk mendekati kepulauan dan daratan utama Jepang.

Serangan sekutu atas Guam dimulai pada 21 Juli 1944 dengan kekuatan 59.401 tentara dibawah pimpinan Mayor Jenderal Roy Geinger dan Laksamana Richmond K. Turner. Sementara untuk mempertahankan Guam, tentara kekaisaran Jepang mengandalkan 18.657 pasukan dibawah Letnan Jenderal Takeshi Takashina.

Meski kalah jumlah, tentara Kekaisaran Jepang masih bisa menahan serangan Sekutu selama kurang lebih 3 pekan dengan mengandalkan pasukan angkatan darat dan laut. Ditambah sejumlah tank. Akhirnya 10 Agustus 1944 Guam jatuh ke tangan Sekutu untuk selanjutnya dijadikan pangkalan militer. Terutama dalam rangka serangan ke kepulauan utama Jepang.

Selama operasi militer di Guam, tercatat Sekutu kehilangan lebih kurang 1.600 prajuritnya. Sementara kekaisaran Jepang kehilangan sedikitnya 11.000 prajurit. Termasuk di dalamnya dua perwira tinggi yaitu Letnan Jenderal Takeshi Takashina yang tewas pada 28 Juli 1944 dan penggantinya Letnan Jenderal Hideyoshi Obata (melakukan Seppuku pada 11 Agustus 1945).

Pelajaran dari Sejarah Kekalahan Jepang di Bulan Juni

Setiap peristiwa sejarah tentu ada pelajaran yang bisa kita ambil di dalamnya. Termasuk Sejarah Kekalahan Jepang dalam pertempuran yang terjadi di bulan Juni. Bahkan itu menjadi titik balik tentara kekaisaran Jepang dalam kampanye Perang Pasifik. Terutama pukulan telak di Midway. Unggul jumlah pasukan dan teknologi ternyata tak dibarengi kualitas intelejen yang memadai.

Terbukti Amerika Serikat malah berhasil memecah kode dan mengetahui detail serangan beserta kekuatan yang dimiliki oleh Tentara Kekaisaran Jepang. Ditambah lagi kesalahan strategi di lapangan makin menambah lengkap blunder yang dilakukan oleh pihak Kekaisaran Jepang. Kekalahan telak di Midway nyatanya tak direspon dengan perbaikan kualitas intelejen maupun penggantian armada tempur. Terutama 4 kapal induk.

Maka jadilah posisi Kekaisaran Jepang defensif selepas Midway. Alih-alih berbenah kekalahan di Midway dan sejumlah front malah ditutup-tutupi sedemikian rupa baik di dalam negeri maupun di negeri jajahan. Hingga akhirnya posisi kekaisaran Jepang semakin terjepit dengan jatuhnya sejumlah kepulauan di Samudera Pasifik ke tangan Sekutu dibawah pimpinan Amerika Serikat. Termasuk Kepulauan Mariana dimana Saipan dan Guam berada di dalamnya.

Posisi Sekutu jadi lebih dekat dengan wilayah utama Jepang. Inilah yang akhirnya memberikan kekalahan total bagi Kekaisaran Jepang hingga akhirnya menyerah tanpa syarat pada Sekutu. Terlebih setelah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi Bom Atom.

Pelajaran yang bisa kita ambi di sini ialah jangan terlalu puas dengan keunggulan sementara. Sukses di Pearl Harbor seperti membuat Kekaisaran Jepang terlena dan malah meremehkan kekuatan militer Amerika Serikat yang dianggap baru akan pulih dalam waktu lama. Nyatanya perkiraan itu salah dan dibuktikan lewat Doolitle Raid (April 1942). Meski sedang sakit, Amerika Serikat masih mampu memberi pukulan meski berskala kecil.

Kekalahan Jepang itu sendiri memang sudah diprediksi justru oleh salah satu panglima militer mereka sendiri. Disebut bahwa Jepang dengan kekuatan yang ada memang akan memenangkan pertempuran di 6 bulan pertama pasca Pearl Harbor. Namun tidak untuk bulan-bulan berikutnya. Prediksi itu ternyata benar.

Keberhasilan menyerang Pearl Harbor itu juga nyatanya tak diikuti serangan gelombang kedua. Setelah berhasil lewat kejutan pertama, mereka malah memilih balik kanan. Andai saja serangan kedua diluncurkan maka bisa saja Pearl Harbor sepenuhnya jatuh ke tangan Jepang dan akan merubah jalannya pertempuran. Padahal waktu itu Kekaisaran Jepang bisa saja merebut dan menguasai Pearl Harbor daripada sekedar memberi serangan kejutan.

Kisah Shoichi Yokoi

Ada kisah dibalik Sejarah Kekalahan Jepang khususnya pada Pertempuran Guam (21 Juli – 10 Agustus 1944). Seorang prajurit bernama Shoichi Yokoi yang menolak untuk menyerah dan memilih tetap bergerilya di pelosok Guam meski wilayah itu telah berhasil direbut kemvali oleh Amerika Serikat. Bahkan setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, Shoichi Yokoi memilih tetap bertempur dan menolak kalah.

Setelah dua dekade lebih perang berakhir, pada 24 Januari 1972, dua orang pemburu di Guam menemukan seorang paruh baya yang renta di dekat air terjun Talofofo. Pria yang belakangan diketahui bernama Shoichi Yokoi ini tidak lain adalah seorang tentara Jepang berpangkat kopral yang masih tersisa di hutan Guam dan sudah berumur 57 tahun.

Saat ditemukan di waktu senja, Yokoi sedang memasang perangkap ikan di dekat sungai. Yokoi dikejutkan dengan kedatangan dua pemburu yang juga sama-sama terkejut melihat Yokoi. Dilansir BBC, melihat pemandangan manusia-manusia lain setelah bertahun-tahun hidup sendiri, Yokoi segera meraih salah satu senapan para pemburu itu, tapi tenaganya terlalu lemah.

“Dia takut mereka [para pemburu] akan membawanya sebagai tawanan perang—yang akan menjadi aib terbesar bagi seorang tentara Jepang dan bagi keluarganya di rumah,” kata Omi Hatashin, keponakan Yokoi.

Para pemburu lantas menggiring Yokoi di bawah todongan senjata ke kantor polisi setempat. Ia juga sempat menangis memohon untuk dibunuh. Sesampainya di kantor polisi, ia menceritakan kisahnya sebagai seorang prajurit Jepang.

Beberapa minggu setelah penemuan Yokoi, ia diterbangkan kembali ke Jepang menggunakan jet sewaan. Ia menangis saat melihat Gunung Fuji, setelah hampir 28 tahun tidak bisa kembali ke kampung halaman.

Kepulangan Yokoi ke Jepang disambut meriah oleh warga dan disiarkan di televisi Jepang. Yokoi dianggap sebagai lambang kesetiaan kepada negara dan berhasil berjuang bertahan hidup di hutan sendirian. Ribuan orang Jepang berjejer di pinggir jalan raya seraya mengibarkan bendera Jepang menanti lewatnya Yokoi menuju desa asalnya.

Tidak sedikit publik Jepang yang tergerak memberikan santunan kepada Yokoi baik berupa uang, hadiah, hingga tawaran pernikahan. Di pemakaman keluarga, ia menangis melihat nisan bertuliskan namanya yang dianggap telah meninggal di Guam sejak 1944.

Referensi


Catatan Kecil:

Konten ini pernah dipost di situs Manglayang Foundation. Namun karena akan difokuskan untuk edukasi seputar Transportasi Umum, konten diluar itu dihapus dan yang ada kaitannya dengan Jepang dipindahkan ke sini. Masuk dalam Fly Me To Japan. Meski ini sejarah kelam Jepang dan masyarakat di sana nggak tertarik untuk membahas.


Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: