Sejarah Kekalahan Jepang di Bulan Juni

Serangan Pesawat Tempur Kamikaze Jadi Benteng Terakhir

Serangan Pesawat Tempur Kamikaze jadi benteng terakhir Kekaisaran Jepang pada periode akhir Perang Dunia ke-2 (1944-1945). Dimulai pada Pertempuran Teluk Leyte hingga Pertempuran Okinawa. Melatarbelakangi Serangan Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Kekaisaran Jepang terus mengalami kemunduran, terutama setelah Pertempuran Midway 4-7 Juni 1942 dan terbunuhnya ahli strategi perang Isoroku Yamamoto (18 April 1943) dalam sebuah serangan udara penyergapan oleh tentara Sekutu di Pulau Bougenville Papua New Guinea. Sejak saat itu militer Kekaisaran Jepang seperti mengalami kebuntuan taktik karena tak ada lagi ahli strategi secakap Yamamoto.

Satu per satu wilayah pendudukan di Pasifik berhasil direbut oleh tentara Sekutu. Kedudukan di Selatan, khususnya Asia Tenggara, mulai terganggu oleh tentara Inggris yang juga tergabung dalam blok Sekutu. Bersama Amerika Serikat, Australia dan Belanda.

Di tahun 1943 Inggris mulai mengusik kebeadaan mereka di Burma untuk mendapatkan kembali koloninya. Walaupun akhirnya harus mengalami kejadian amat sangat tragis, Tragedi Pulau Ramree. Bukan tewas oleh serangan Inggris tapi dimansa oleh makhluk predator di sana. Hingga menyisakan 20 personil saja dari total 1000 personel dalam satu garnisun. Terlepas kisah ini yang ternyata jadi kontroversi.

Balik lagi ke Pasifik, supremasi Amerika Serikat seperti tak bisa dibendung. Mereka jelas telah bangkit dari kekalahan telak akibat bombardir dadakan kekaisaran Jepang atas Pearl Harbor. Pihak Sekutu bahkan telah berhasil menguasai Pulau Morotai di Maluku Utara (September 1944).

Jenderal Douglas MacArthur sendiri memimpin langsung penyerbuan dan pengambil alihan bekas wilayah Kesultanan Tidore ini dari Kekaisaran Jepang. Didudukinya Morotai menjadikan jalan untuk mengambil kembali Filipina terbuka lebar.

Banyak mengalami kerugian dan tak ada inovasi strategi untuk membendung Sekutu menjadikan Kekaisaran Jepang kini hanya fokus mempertahankan daratan utama mereka dari serangan armada tempur Sekutu. Mengingat banyak koloninya yang telah jatuh atau berhasil diambil alih kembali.

Serangan Pesawat Tempur Kamikaze Pertama di Pearl Harbor

Kekaisaran Jepang mengambil kebijakan harus mempertahankan tanah tumpah darah mereka dengan segala cara. Termasuk dengan cara serangan berani mati atau yang dikenal dengan nama Kamikaze. Menyerang kedudukan musuh dengan mengorbankan diri sendiri. Dalam rangka memberi dampak kerugian yang besar di pihak musuh.

Taktik Kamikaze memang mulai digunakan di periode akhir Perang Dunia ke-2. Di saat posisi kekaisaran Jepang semakin terjepit dan lebih banyak fokus mempertahankan daratan utamanya. Pihak militer membentuk kesatuan khusus yang dilatih menerbangkan pesawat terbang yang sudah dirancang khusus untuk ditabrakkan ke objek vital seperti armada kapal laut. Pesawat ini dilengkapi dengan peledak.

Sejatinya serangan pesawat tempur kamikaze pertama kali terjadi pada penyerbuan ke Pearl Harbor 7 Desember 1941. Ketika Fusata Iida, seorang penerbang Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang), bersama squadron udara dari Kapal Induk Soryu menyerang Pangkalan Udara Kaneohe. Perlawanan yang diberikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat pun hanya seadanya.

Namun sebuah tembakan mengenai tangki bahan bakar pesawat Mitsubishi A6M yang diterbangkan Fusata Iida. Sadar bahwa dirinya pasti akan jatuh dalam kondisi begini, Fusata Iida yang pernah mengajar coba membuktikan pengajarannya. Yakni apabila pesawat tertembak dan sudah pasti akan jatuh, maka dirinya akan menabrakkannya ke objek milik musuh.

Ucapan ini dibuktikan Fusata Iida yang akhirnya menabrakkan “Zero” tersebut ke Kaneohe Air Base. Pangkalan Udara itupun jadi objek yang hancur akibat serangan kejutan Kekaisaran Jepang atas Pearl Harbor yang jadi awal Perang Dunia ke-2 di Front Pasifik (Perang Pasifik). Inilah serangan kamikaze pertama meski pada saat itu belum dijadikan sebagai strategi perang utama.

Serangan Pesawat Tempur Kamikaze di Pertempuran Teluk Leyte. 23 – 26 Oktober 1944

Akhirnya taktik kamikaze mulai dipergunakan saat pertempuran Teluk Leyte Filipina tanggal 23 – 26 Oktober 1944. Inilah salah satu pertempuran laut terbesar sepanjang sejarah Perang Dunia ke-2. Banyak melibatkan armada kapal laut. Baik di pihak Kekaisaran Jepang maupun Sekutu (khususnya Amerika Serikat yang ingin mengambil lagi Filipina dibantu Australia). Kekaisaran Jepang telah menguasai Filipina sejak 1942.

Serangan kamikaze secara massive terjadi dalam pertempuran ini. Tercatat sekurang-kurangya 5.000an Pilot Kamikaze tewas dalam pertempuran ini. Namun di sisi lain berhasil menenggelamkan 34 kapal Induk Amerika Serikat, 2 diantaranya ialah USS Columbia dan USS Mississippi. Selain itu 2 kapal induk dan 3 destroyer mengalami kerusakan.

Angkatan Laut Kekaisaran Jepang kehilangan 4 kapal induk, 3 kapal perang, 6 kapal penjelajah berat dan 4 kapal penjelajah ringan. Pertempuran ini akhirnya dimenangkan oleh Sekutu. Tanggal 1 Januari 1945 Jenderal Douglas MacArthur mendarat di Filipina, seolah membuktikan ucapannya, “Saya akan kembali ke sini”.

Serangan Kamikaze di Pertempuran Iwo Jima

Walaupun nggak menggunakan taktik serangan menggunakan pesawat tempur yang telah dilengkapi bahan peledak untuk ditabrakkan ke objek milik musuh, bukan berarti serangan macam ini nggak pernah terjadi di Pertempuran Iwo Jima (19 Februari – 24 Maret 1945). Pertempuran ini disebut-sebut paling berdarah sepanjang sejarah Perang Dunia ke-2. Bagi Sekutu, keberadaan Iwo Jima sangat penting untuk memudahkan langkah menguasai wilayah utama Jepang satu per satu.

Tentara Kekaisaran Jepang dibawah pimpinan Tadamichi Kuribayashi memilih menggunakan model strategi bertahan di parit (bunker). Tujuannya untuk menghambat gerak maju Sekutu menuju Puncak Suribachi di Pulau tersebut. Kuribayashi bahkan melarang pasukannya menggunakan serangan Banzai apalagi Kamikaze.

Taktik tersebut memang berhasil menghambat gerak pasukan Sekutu. Meski terus terdesak, kekaisaran Jepang tetap nggak mau menyerah dan memilih berperang sampai mati. Serangan Kamikaze baru terjadi pada saat senjata anti tank berhasil dihancurkan. Ketika pimpinan Divisi Anti-Tank, Masao Hayauchi, melakukan serangan ini menggunakan peledak dengan target Tank Sekutu.

Pertempuran Iwo Jima berakhir dengan kemenangan Sekutu. Salah satu momen ikonik disini ialah pemasangan bendera Amerika Serikat di Puncak Suribachi. Memakan korban 19.000 prajurit Kekaisaran Jepang dan 6.821 marinir Amerika Serikat. Bagi korps marinis Amerika Serikat, ini adalah pertempuran paling berdarah sepanjang sejarah. Kuribayashi sendiri nggak pernah diketahui kabarnya. Namun diduga mengalami sakit dan bunuh diri.

Pertempuran Okinawa, Jalan Menuju Serangan Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki

Puncak dari serangan pesawat tempur Kamikaze terjadi pada pertempuran Okinawa, 1 April – 22 Juni 1945. Di sini jelas posisi Kekaisaran Jepang sudah di ujung tanduk. Kehilangan banyak koloni di Pasifik. Bahkan Taiwan, Filipina hingga Morotai telah jatuh ke tangan Sekutu. Praktis kini tinggal fokus untuk melindungi daratan utama Jepang dari serangan Sekutu.

Sedikit info, Prefecture Okinawa merupakan wilayah terluar Jepang. Terdiri dari gugusan kepulauan yang dinamakan Kepulauan Ryukyu. Terdiri dari 3 kepulauan utama: Okinawa, Miyako dan Yaeyama. Posisinya berada di antara Pulau Kyushu (paling selatan di daratan utama Jepang) dan Taiwan.

Nah wilayah terluar ini berusaha diduduki oleh Sekutu. Tujuannya nggak lain agar membuka jalan untuk menyerang daratan utama Jepang. Tentu saja hal ini nggak diinginkan kekaisaran Jepang. Dengan berbagai cara Okinawa harus bisa dipertahankan. Sampai titik darah penghabisan. Untuk mempertahankan pulau yang nggak pernah tersentuh salju ini, Kekaisaran Jepang sampe ngerahin anak-anak pelajar usia 14-17 tahun lho

Di pertempuran Okinawa Jepang mengarahkan 67..000 tentara reguler dan sekitar 9.000 tentara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (IJN) di pangkalan angkatan laut Oroku, serta didukung oleh 39.000 orang Okinawa lokal yang direkrut ikut berperang.

Tanggal 1 April 1945 armada Amerika Serikat mulai mendarat di Okinawa. Dimulailah serangan pesawat tempur kamikaze sebanyak 1.500 pesawat dalam 7 gelombang. Meski berusaha dicegah, serangan ini berhasil membuat 36 kapal tenggelam, 368 kapal rusak, 4.900 orang terbunuh atau tenggelam, 4.800 orang terluka, dan 763 pesawat hilang.

Meski demikian Pihak Sekutu akhirnya berhasil menguasai Okinawa. Itu berarti tinggal sejengkal lagi menuju daratan utama Jepang. Kapok dengan serangan kamikaze yang seolah nggak abis-abis, Sekutu mulai memikirkan cara lain yang bisa membuat Kekaisaran Jepang menyerah tanpa syarat.

Akhirnya dipilihlah opsi serangan bom atom di Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945. Sebuah bom atom “Little Boy” berkekuatan 15.000 Ton dijatuhkan dari pesawat Enola Gay dan meledak di atas Kota Hiroshima. Masih belum mau menyerah juga, tanggal 9 Agustus 1945 lagi serangan bom Atom di Nagasaki. Ditambah pernyataan perang dari Uni Soviet sehari sebelumnya dan serangan atas Manchucko, Korea dan Kuril di hari yang sama.

Karenanya kurang dari sepekan setelah bom atom dan serangan besar-besaran Uni Soviet, Kekaisaran Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. InSyaaAlloh tentang penyerahan Jepang akan ada pembahasan tersendiri.

Referensi


Catatan Kecil:

Konten ini udah pernah tayang di situs Manglayang Foundation. Tapi karena situs tersebut mau digunakan untuk sarana edukasi tentang Transportasi Umum maka konten yang nggak ada kaitan termasuk ini dipindahkan ke tempat lain. Kebetulan karena konteks nya sejarah kekalahan Jepang jadi bisa masuk ke Fly Me To Japan. Sekalipun orang Jepang nggak ada ketertarikan membahas sejarah kelam mereka itu.


Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: