Situ Sangkuriang Sebuah Surga Tersembunyi

by Apr 9, 2020All Exciting Adventures, Getting Around Bandung0 comments

Situ Sangkuriang boleh aja terpencil. Pamornya boleh aja kalah dari Situ Bagendit di Garut. Tapi sejatinya ini adalah sebuah surga tersembunyi di Bandung. Berada di kawasan Perkebunan Kina milik PTPN 8 dan di Kaki Gunung Bukit Tunggul.


Nggak banyak yang tau keberadaan tempat wisata yang satu ini. Nggak banyak juga wisatawan yang datang ke sini. Boleh jadi karena posisinya kurang strategis. Nggak ada transportasi umum lewat. Keterbatasan akses komunikasi (sinyal handphone).

Namun dengan segala keterbatasannya. Danau kecil di kaki Gunung Bukit Tunggul ini nggak boleh dipandang sebelah mata. Boleh aja terpencil dan susah ke sana. Tapi nggak bisa diabaikan begitu saja.

Disinilah tantangan kita untuk menaikkan pamornya. Sebagai satu dari sekian banyak pesona di Tanah Priangan. Bagian dari keindahan alam Indonesia juga tentunya. Karena Priangan bagian dari NKRI juga toh. Jadi nggak bisa diabaikan begitu saja.

Nggak ada transportasi umum sebetulnya bukanlah masalah. Kita masih bisa mencari solusi lain. Sekalipun itu perlu merogoh kocek dalam-dalam. Semua akan terbayar dengan keindahan danau kecil yang tersembunyi ini. Biarpun begitu untuk ke sana nggak perlu Paspor juga toh.

Situ Sangkuriang, Pesona di Kaki Gunung Bukit Tunggul

Situ Sangkuriang nggak sebesar Danau Toba. Pamornya masih kalah sama Situ Bagendit di Garut yang masih sama-sama di Bumi Parahyangan. Hanya danau kecil di Kaki Gunung Bukit Tunggul. Namun sebenarnya disinilah letak pesona dan keindahannya.

Dari namanya apakah ada kaitannya sama cerita Sangkuriang? Menurut beberapa sumber bisa jadi demikian. Ditambah lagi cerita tentang Gunung Bukit Tunggul yang awalnya merupakan pohon besar. Terus Sangkuriang menebang pohon itu. Memanfaatkan kayunya untuk dibuat perahu. Demi memenuhi syarat meminang Dayang Sumbi yang tak lain ibunya sendiri.

Ada yang menyebut pula sejatinya Sangkuriang sebetulnya mukim di wilayah Timur. Jadi kalo ditelusuri lebih detil wilayah Timur yang dimaksud adalah sekitaran Gunung Bukit Tunggul hingga Gunung Manglayang. Nama terakhir juga dikaitkan dengan cerita Sangkuriang. Yakni bendungan untuk membendung aliran Sungai Citarum Purba.

Nah karena keinginannya nggak tercapai. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Sangkuriang marah lantas menendang perahu yang belum sepenuhnya jadi hingga jauh ke Barat. Perahu itu jatuh dalam posisi terbalik. Hingga jadilah Gunung Tangkubanparahu.

Entah benar atau nggak dongeng itu. Yang jelas Gunung Bukit Tunggul termasuk jajaran pegunungan di Kawasan Bandung Utara (KBU). Secara ilmiah masih berasal dari letusan Gunung Sunda Purba.

Balik lagi ke Situ Sangkuriang. Apakah danau kecil ini termasuk ekosistem alam? Ataukah hanya sebuah danau buatan? Mengingat kawasan ini juga punya Curug Batu Sangkur yang jadi salah satu mata air Sungai Cikapundung. Sebuah sungai yang membelah Kota Bandung.

Apapun itu yang jelas Situ Sangkuriang merupakan surga tersembunyi di Bandung. Pesona di Kaki Gunung Bukit Tunggul.

How To Get There?

Untuk ke sana memang agak susah. Nggak ada transportasi umum. Pilihan paling pas naik kendaraan pribadi atau sewa.

Danau kecil tersebut masuk dalam kawasan Perkebunan Kina milik PT. Perkebunan Nusantara 8 (PTPN 8). Begitupula Curug Batu Sangkur, mata air Sungai Cikapundung.

Untuk ke sini ada dua alternatif. Keduanya bisa diakses kendaraan pribadi maupun sewa. Alternatif pertama dari Lembang via Maribaya terus ke arah timur hingga ketemu Pos Jaga. Sebagai tanda telah masuk kawasan PTPN 8. Jaraknya lumayan jauh. Kondisi jalan sempit dan sedikit rusak.

Perjalanan malam nggak begitu direkomendasikan karena minim penerangan. Bus ukuran besar nggak bisa masuk dan lewat jalan ini. Paling bus ukuran kecil atau bahkan sekelas mobil minibus.

Alternatif kedua dari Alun Alun Ujungberung ambil jalan ke arah utara. Jalan terus sampe ketemu pos jaga PTPN 8. Nah jalur Maribaya dan Ujung Berung ketemunya di sini.

Naik ojol bisa nggak? Kalo lewat Ujung Berung kayanya kurang rekomendasi. Mengingat kawasan itu sampe sekarang masih jadi zona merah ojol. Paling sewa ojek konvensional dari alun-alun. Meski harus merogoh kocek dalam-dalam. Usahakan sewanya pulang pergi.


%d bloggers like this: