Stasiun Bandung dan Sejarah Kereta Api Priangan

Stasiun Bandung selesai dibangun dan mulai beroperasi 17 Mei 1884. Menandai dibukanya jalur kereta api dari Batavia ke Priangan via Sukabumi-Cianjur. Tonggak sejarah perkeretaapian Priangan yang tak lepas dari eksploitasi hasil bumi oleh pemerintah kolonial Belanda.

Rupanya Coronavirus bukan cuma bikin orang ketakutan atau bikin semua rencana jadi buyar. Terutama rencana untuk traveling. Termasuk mudik Lebaran. Terlebih pemerintah sudah mengeluarkan larangan mudik di tahun 2020 ini untuk memutus rantai penyebaran virus yang ditemukan di Wuhan itu. Coronavirus telah mengalihkan pikiran kita menjadi fokus ke sana. Sampai kerap melupakan segala hal. Termasuk melupakan sejarah.

Presiden pertama kita pernah bilang jangan sekali-kali melupakan sejarah. Pernyataan yang terkenal dengan sebutan Jasmerah. Jujur Coronavirus telah membuat kita melupakan sejarah. Termasuk sejarah yang terkait dengan transportasi umum. Satu kebutuhan yang sangat menunjang aktivitas traveling. Tanpa adanya transportasi umum, mobilitas sobat akan terhambat.

Hari ini, 17 Mei 2020 pada 136 tahun yang lalu Kota Bandung mencatatkan sejarahnya. Dimana untuk pertama kalinya kereta api mulai masuk ke sini. Ya, di tanggal inilah Stasiun Bandung selesai dibangun, diresmikan dan mulai beroperasi. 17 Mei 2020 merupakan tonggak sejarah terhubungnya Jakarta dan Bandung dengan jaringan rel kereta api. Dimana waktu itu jalurnya melewati Bogor, Sukabumi dan Cianjur.

Eksploitasi Hasil Bumi

Dibangunnya jalur kereta api dari Batavia (Jakarta) ke Priangan tak bisa dilepaskan dari keberadaan hasil bumi seperti teh, kina dan kopi. Komoditas yang sangat dibutuhkan untuk menambah kas pemerintahan Kolonial Belanda. Jalan akses memang sudah ada. Dimana Jalan Posweg antara Anyer dan Panarukan sudah selesai dibangun lebih dulu.

Namun pengangkutan melalui jalan raya ternyata memakan waktu yang lumayan lama. Apalagi saat itu masih jarang kendaraan bermesin. Pengangkutan masih banyak dilakukan oleh kendaraan seperti delman, gerobag, dan jasa kuli-kuli panggul. Itupun tak sepenuhnya memanfaatkan Jalan Raya Posweg. Kadang pengangkutan dioper via Sungai seperti Sungai Citarum menggunakan transportasi sungai seperti perahu. Itupun bergantung kondisi cuaca.

Atas alasan itu pemerintah kolonial Belanda memandang perlu untuk membangun moda transportasi kereta api yang kala itu dinilai lebih cepat, murah dan efisien. Potensi hasil bumi yang melimpah di Bumi Priangan membuat pihak Belanda sangat ingin membangun jaringan kereta api yang terhubung langsung dengan Batavia.

Waktu itu Batavia dan Buitenzorg sudah terhubung rel kereta api sejak 1871. Merupakan jalur kedua yang berhasil dibangun di Indonesia setelah sebelumnya jalur Semarang-Tanggung pada 1867. Semua lintasan ini dioperasikan oleh NIS (Nederland Indische Spoortrammaatschappij), operator kereta api swasta Hindia Belanda yang berkantor di Gedung Lawang Sewu.

Pihak pemerintah ingin agar jalur tersebut diteruskan hingga ke pelosok Priangan. Namun pihak NIS sedikit keberatan karena alasan anggaran. Hingga akhirnya proyek tersebut dikerjakan oleh pemerintah melalui perusahaan kereta api-nya yang bernama Staat Spoorwegen (SS).

Proses Pembangunan Mulai 1878

Pembangunan jalur kereta api dari Buitenzorg menuju Priangan memulai tahapannya pada tahun 1878. Adapun proses pembangunan infrastrukturnya dimulai pada 25 Desember 1881 secara bertahap meliputi:

  • Bogor – Sukabumi, 1881-1882
  • Sukabumi – Cianjur, 1882-1883
  • Cianjur – Bandung, 1883-1884

Semua jalur selesai dibangun dan tersambung ke Bandung pada bulan Februari 1884 hingga akhirnya resmi beroperasi 17 Mei 1884 seiring dengan pembukaan Stasiun Bandung. Tak hanya itu, pemerintah Kolonial memperpanjang jalur ini hingga ke Cicalengka. Dimana jalur menuju Cicalengka mulai beroperasi 10 September 1884. Tersambungnya Batavia dan Priangan (Bandung-Cicalengka) jelas mempermudah angkutan komoditas hasil bumi. Selain juga untuk mempermudah mobilitas penumpang antar daerah.

Stasiun Bandung Layani Perjalanan Kelas Komersial

Kini Stasiun Bandung telah jauh berkembang. Tak cuma layani angkutan penumpang lokal. Lebih dari itu merupakan pusat layanan perjalanan kereta api jarak jauh kelas komersial. Pastinya kelas komersial dengan tarif sedikit lebih mahal daripada kereta ekonomi bersubsidi. Adapun layanan ekonomi subsidi saat ini dipusatkan di Stasiun Kiaracondong di sebelah timur Kota Bandung.

Stasiun memiliki 2 bangunan, yakni sisi utara dan selatan. Bangunan di sebelah utara khusus melayani penumpang kereta api jarak jauh kelas komersial ke berbagai destinasi. Antara lain tujuan Bekasi, Cirebon, Jakarta, Kroya, Kutoarjo, Malang, Priangan Timur, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta. Di sini juga terdapat area komersial seperti mini market, coffee shop, resto hingga boutique. Customer Service berada di sini.

Gedung baru di sisi utara mulai dibangun pertengahan 1980-an. Selesai dan mulai digunakan di awal tahun 1990-an. Awalnya gedung ini khusus untuk penumpang KA Parahyangan tujuan Jakarta. Dalam perkembangannya penumpang yang mau ke arah timur juga dilayani di sini. Hingga saat ini “gedung baru” benar-benar diperuntukkan penumpang jarak jauh sepenuhnya.

Adapun sisi stasiun selatan merupakan bangunan lama yang mulai beroperasi 17 Mei 1881 tadi. Bangunan bergaya art deco ini sejatinya bukanlah bangunan asli Stasiun Bandung ketika pertama kali beroperasi. Tapi merupakan bentuk renovasi besar-besaran pemerintah kolonial pada tahun 1928 dan selesai 1930-an. Dulu di sini terdapat tugu peringatan HUT Staatspoorwegen ke 50 (5 Juni 1926). Namun sayang tugu ini sudah tak ada lagi dan diganti monumen loko uap.

Sebelum ada gedung baru, semua layanan dipusatkan di stasiun selatan ini. Aksesnya bisa dijangkau dari alun-alun Kota Bandung bahkan tak jauh dari kawasan Pasar Baru Bandung yang telah eksis sejak era kolonial Belanda. Di sini juga terdapat terminal kecil bernama St.Hall untuk layanan transportasi lanjutan terutama angkot dan elf. Saat ini juga melayani Trans Metro Bandung tujuan Antapani.

Ketika gedung baru selesai dan mulai difungsikan awal 1990-an, stasiun selatan dialihkan untuk melayani penumpang lokal dan ekonomi jarak jauh. Seiring berjalan waktu di awal millenium baru keberangkatan kereta ekonomi dipusatkan di Stasiun Kiaracondong. Hingga akhirnya stasiun selatan dikhususkan penumpang kereta lokal tujuan Cibatu, Cicalengka, Padalarang dan Purwakarta. Meski demikian penumpang jarak jauh masih bisa masuk dan keluar melalui pintu selatan.

Demikian sejarah singkat Stasiun Bandung yang kini berulang tahun ke 136. Sayang di usianya kini stasiun dalam kondisi sepi penumpang sebagai dampak langsung dari Coronavirus. Semoga wabah ini cepat berakhir dan stasiun bersejarah ini bisa bangkit kembali bahkan lebih baik dari sebelum wabah datang.

3 thoughts on “Stasiun Bandung dan Sejarah Kereta Api Priangan”

  1. Pingback: Wisata Lokomotif Cepu (Perhutani KPH Cepu) - Solo Traveling ID

  2. Pingback: Kereta Api Argo Parahyangan Jakarta Bandung - Solo Traveling ID

  3. Pingback: Kereta Api Argo Parahyangan, Legenda Priangan Barat - Solo Traveling

Leave a Comment

Your email address will not be published.