Stasiun Banjaran Riwayatmu Kini

by Oct 4, 2021All Exciting Adventures, Getting Around Bandung0 comments

Salah satu peninggalan sejarah, Stasiun Banjaran, di jalur KA Bandung-Ciwidey masih relatif utuh dan dikenali. Namun sayangnya seperti halnya lintasan ini secara umum, jalur kereta di sini banyak yang sudah tertimbun aspal.



Sukses menghubungkan Batavia dan Priangan di tahun 1884 dan 1902, Pemerintah Kolonial Belanda melalui Staatspoorwegen membangun sejumlah lintas cabang yang langsung terhubung dengan daerah penghasil komoditas unggulan. Tujuannya jelas untuk mempercepat pengangkutan menuju Pelabuhan Tanjung Priok di Batavia. Untuk selanjutnya komoditas itu diekspor ke luar negeri dan menambah pemasukan ke kas negara.

1 Juni 1918 Staatspoorwegen mulai mengerjakan jalur Bandung-Soreang sebagai bagian dari lintas cabang Bandung-Ciwidey. Adapun jalur dimulai dari Stasiun Cikudapateuh melewati Cibangkong, Buah Batu, Bojongsoang, Dayeuh Kolot, dan Banjaran. Pembangunan dilanjutkan hingga menembus Ciwidey 18 Maret 1921. Peresmiannya 13 Februari 1921 untuk Bandung-Soreang dan 17 Juni 1924 segmen Soreang-Ciwidey. Jalur di Bandung Selatan ini melewati Sungai Citarum yang berada di Dayeuhkolot.

Setelah Indonesia merdeka, jalur ini masih tetap dipergunakan dan masih memegang peranan penting untuk pergerakan ekonomi di wilayah selatan. Sebagaimana pembangunan jalur kereta api yang merangsang pertumbuhan bagi daerah-daerah di sekitarnya. Pengangkutan hasil bumi jadi lebih cepat. Terlebih di zaman itu infrastruktur jalan raya belum begitu baik.

Stasiun Banjaran, Ditutup Gegara Kurang perawatan dan Kalah Saing

02 Bangunan Utama Stasiun Banjaran, Emplasemen dan Bekas Crane Barang

Transisi kekuasaan ke zaman Orde Baru ternyata berdampak poda perkembangan moda transportasi berbasis rel. Terutama di lintas-lintas cabang. Tak terkecuali Bandung-Ciwidey. Rezim Militer itu lebih menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur jalan raya dan mendatangkan banyak angkutan jalan raya seperti truk dan colt. Bahkan diklaim punya keunggulan dari sisi fleksibilitas ketimbang kereta api yang hanya point to point (stasiun ke stasiun).

Terutama di tahun 1970-an, jalur Ciwidey boleh dibilang berada di titik nadir akibat kebijakan tersebut. Pemasukan dari angkutan penumpang turun. Bahkan di akhir hayatnya hanya mengandalkan angkutan barang dan itupun jalannya cuma sepekan dua kali. Puncaknya ialah Tragedi Cukanghaur pada bulan Juli 1972. Sebuah kereta api mengangkut kayu terguling ke sawah dan menewaskan 3 orang. Diduga akibat kelebihan muatan.

Sejak kecelakaan itu tak pernah ada lagi kereta yang melintas di sini. Perbaikan pun hanya ala kadarnya. Hingga akhirnya memasuki tahun 1980-an jalur ini ditutup total. Tentu saja alasannya karena sudah tua, minim perawatan, dan kalah bersaing dengan angkutan jalan raya.

Emplasemen Jadi Jalan Aspal dan Bekas Crane Barang

Ditutupnya lintas cabang Bandung-Ciwidey otomatis ikut menutup Stasiun Banjaran juga. Sisa-sisa kejayaan itu masih bisa dijumpai saat ini. Bangunan stasiun masih berdiri meski kondisinya jauh dari kata terawat. Sekilas terlihat seperti semacam gudang.

03 Bekas Gudang

Begitupun infrastruktur pendukung stasiun seperti bekas emplasemen, bangunan gudang, hingga bekas crane barang semuanya masih ada. Cuma sayangnya rel sudah sangat sulit ditemukan. Bahkan emplasemen kini berubah jadi jalan aspal dan akses keluar masuk warga menuju kawasan perkampungan.

Sudah banyak wacana untuk menghidupkan kembali jalur bersejarah ini. Malah sejak pertengahan 1990-an. Apalagi lintas Cibangkong-Cibangkong Lor ketika itu masih dipakai untuk mengangkut peralatan militer menuju kompleks TNI yang sebetulnya punya akses jalan rel yang terhubung dengan jalur ini di dekat Halte Cibangkong Kota Bandung. Sayangnya satu petak tersisa ini pun sekarang sudah non-aktif dan banyak diokupasi penduduk.

Bukan perkara mudah untuk menghidupkan lagi jalur ini, juga Stasiun Banjaran. Karena telah banyak diokupasi itu tadi. Bahkan telah berdiri pusat-pusat perekonomian seperti Transmart Buah Batu misalnya. Mall tersebut berada tepat di atas badan jalur kereta, khususnya area parkirannya. Belum lagi kawasan real estate di sekitarnya. Butuh waktu lama dan biaya yang tak sedikit. Belum lagi menghadapi persengketaan dengan warga maupun pengusaha pemilik sentra-sentra ekonomi speerti Transmart tadi

%d bloggers like this: