Stasiun Jakarta Kota Idealnya Jadi Central Station di Jakarta

Stasiun Jakarta Kota, Idealnya Jadi Central Station

Stasiun Jakarta Kota yang merupakan bagian dari Kawasan Kota Tua Jakarta di Kotamadya Jakarta Barat merupakan salah satu bangunan yang punya sejarah panjang. Dikenal dengan nama lain Beos. Sangat ideal menjadi Jakarta Central Station seperti halnya Tokyo Station.

Siapa nggak kenal bangunan stasiun megah peninggalan kolonial yang masih berdiri dengan gagahnya di salah satu sudut Kawasan Kota Tua Jakarta. Lebih tepatnya berada di “pintu masuk” Kawasan Kota Tua bagian selatan. Secara administratif gedung ini masuk wilayah Kotamadya Jakarta Barat. Posisinya sangat strategis. Diapit dua kawasan perbelanjaan yakni Glodok dan Mangga Dua.



Sebagai salah satu warisan era Kolonial Belanda, sudah pasti stasiun ini punya sejarah panjang. Baik dari sisi perkembangan Kota Batavia di masa lalu. Maupun fungsi aslinya sebagai stasiun kereta api yang melayani perjalanan antar kota dari Batavia tujuan berbagai kota di Pulau Jawa.

Namun apabila kita telusuri sejarahnya lebih jauh, dulunya stasiun ini hanya melayani perjalanan menuju kawasan Timur Batavia seperti Mester Cornelis (Jatinegara), Bekasi, dan Karawang. Bangunannya pun jauh lebih kecil daripada yang kita sering liat sekarang. Untuk perjalanan antar kota justru dilayani di stasiun lainnya, Batavia Noord. Sebelum akhirnya semua dipusatkan di sini.

Meski sempat beberapa dekade menjadi central station, fungsi tersebut perlahan mulai pudar. Terutama memasuki tahun” 2000-an. Hingga akhirnya Stasiun ini hanya menjadi stasiun pusat-nya KRL Commuter Line dimana semua perjalanan KRL dan terminusnya di sini. Kecuali Loop Line yang memulai dan mengakhiri perjalanan di Stasiun Jatinegara. Padahal stasiun ini sangatlah ideal menjadi Jakarta central station layaknya Tokyo Station.

Batavia Zuid, BOS dan BEOS

Membahas stasiun besar ini rasanya nggak akan lengkap tanpa membahas sejarah awalnya. Keberadaan stasiun megah di kota tua Jakarta tak lepas dari dua hal yakni Batavia Zuid dan BOS. Tahun 1880-an terdapat dua operator kereta api di Batavia yakni NIS (Nederlandsch Indische Spoorwegmaatchappij) dan BOS (Batavia Ooster Spoorwegmaatschappij).

Hall Utama Stasiun Jakarta Kota

Tahun 1871 NIS membuka jalur Batavia – Buitenzorg dengan titik keberangkatan awal Stasiun Batavia Noord. Inilah stasiun kereta api tertua yang ada di Batavia. Saat ini bangunannya sudah tak ada. Namun jejaknya masih bisa ditemui yakni dibelakang gedung BNI 46.

Sementara BOS mengoperasikan kereta api dari Batavia ke arah timur sesuai dengan namanya Batavia Ooster Spoorwegmaatchappij yang secara bahasa artinya Perusahaan Kereta Api Batavia Timur. BOS memulai perjalanannya dari Batavia Zuid menuju Mester Cornelis (Jatinegara), Bekasi hingga Karawang. Melalui jalur Kampung Bandan-Pasar Senen sekarang. Baik NIS maupun BOS adalah perusahaan swasta.

Tahun 1868 BOS menjual jalurnya kepada perusahaan kereta api nasional Hindia Belanda, StaatSpoorwegen (SS). Disusul kemudian pada 1913 giliran jalur NIS dibeli oleh SS. Pengambilalihan semua jalur oleh SS ditindaklanjuti dengan penataan semua rute yang ada di Batavia. Pastinya penataan juga berdampak pada beberapa stasiun dimana ada stasiun yang dikembangkan, tetap dipertahankan, atau ditutup.

Keberadaan dua stasiun di pusat kota memang kurang efisien. Karena itu SS ingin menyatukan dengan membangun stasiun baru yang jauh lebih representatif. Tahun 1926 SS menutup Stasiun Batavia Zuid untuk direnovasi besar-besaran menjadi sebuah stasiun besar. Selama masa renovasi itu semua keberangkatan kereta api dialihkan ke Stasiun Batavia Noord.

Stasiun ini diarsiteki oleh Frans Johan Louwrens Ghijsels, seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung. Menggunakan gaya arsitektur art deco yang sebetulnya sederhana. 8 Oktober 1929 stasiun yang baru diresmikan oleh Gubernur Jenderal Andries Cornelies Dirk de Graeff (1826-1831). Awalnya bernama Batavia Benedenstand atau Batavia Stand. Ada juga yang menyebut Batavia Centrum.

Praktis sejak saat itu Batavia Benedenstand menjadi stasiun utama di Batavia menggantikan Batavia Noord dan Batavia Zuid. Setelah Batavia Benedenstand beroperasi praktis SS menutup Batavia Noord. Stasiun inlah yang setelah Indonesia Merdeka dikenal dengan nama Stasiun Jakarta Kota.

Asal Usul Nama Stasiun Beos

Ternyata stasiun besar ini punya nama lain yakni Stasiun Beos. Jadi gini asal usulnya. Dulu kan waktu masih Batavia Zuid operatornya BOS (Batavia Ooster Spoorwegmaatschappij), nah di lidah orang pribumi suka kepeleset jadi BeOS. Terus ada versi keduanya Beos yang artinya singkatan dari Batavia En OmStreken atau Batavia dan sekiarnya.

Maklum Batavia Benendstand Station ketika baru dibuka jadi stasiun sentral di Batavia. Melayani perjalanan ke berbagai kota mulai Bogor, Bekasi, Karawang, hingga Bandung. Belum lagi pembangunan jalur menuju Stasiun Tanjung Priok yang nantinya terintegrasi dengan angkutan laut.

Pusatnya KRL Commuter Line

Pusatnya KRL Commuter Line kecuali Yellow Line

Kini Stasiun Jakarta Kota jadi pusatnya KRL Commuter Line. Hampir Semua perjalanan KRL tersedia di sini mulai jurusan Bekasi, Bogor, Depok, hingga Tanjung Priok. Hanya rute loop line yang keberangkatannya dilayani dari Stasiun Jatinegara. Sementara Tangerang Line dari Station Duri dan Green Line jurusan Serpong dan Rangkasbitung dari Stasiun Tanah Abang. Di sini juga ada layanan feeder ke Stasiun Kampung Bandan.

Untuk perjalanan jarak jauh baru melayani Kereta Api Kutojaya Utara jurusan Kutoarjo, Kereta Api Menoreh jurusan Semarang Tawang dan kereta api Jayakarta jurusan Surabaya Gubeng. Stasiun ini juga melayani stabling rangkaian jarak jauh yang diberangkatkan dari Stasiun Gambir. Mengingat di sini terdapat Dipo kereta api Jakarta Kota (JAKK).

Stasiun Jakarta Kota Sangat Ideal Jadi Stasiun Sentral

Stasiun Jakarta Kota ketika pertama kali diresmikan merupakan stasiun sentral di Batavia. Posisi ini belum goyah setelah Indonesia merdeka. Dimana hampir 90% perjalanan kereta api jarak jauh antar kota diberangkatkan dari sini. Demikian pula perjalanan KRL pun dipusatkan di sini. Termasuk untuk jurusan ke Tangerang dan Serpong. Namun kini fungsi tersebut perlahan mulai hilang.

Interior yang Mirip Stasiun Eropa

Justru yang sekarang jadi stasiun sentral malah stasiun Gambir di Merdeka Timur. Secara fisik memfungsikan stasiun Gambir sebagai sentral itu kurang tepat. Karena tak ada layanan KRL yang berhenti di sini. Paling hanya ada Transjakarta Busway saja ditambah Taksi dan Transportasi Online. Ditambah lagi hanya kereta komersial yang diberangkatkan dari sini.

Karena itu kementerian Perhubungan merencanakan akan memindah semua kereta api jarak jauh ke Stasiun Manggarai dan menjadikannya sebagai stasiun sentral yang baru. Menggantikan stasiun Gambir sekarang. Namun apakah itu sudah tepat? Memang Stasiun Manggarai yang awalnya dibangun StaatSpoorwegen (SS) punya jalur lebih banyak, punya Dipo dan jadi titik temu jalur dari selatan, timur, barat dan utara. Cukup ideal tapi saat ini masih belum strategis. Karena minim area parkir.

Justru soal kelengkapan, Stasiun Jakarta Kota malah lebih lengkap dibanding Stasiun Gambir maupun Manggarai. Di sini jadi terminus KRL. Tersedia integrasi antarmoda terutama dengan Transjakarta. Ditambah nantinya akan ada Stasiun MRT dan jadi bagian dari jalur MRT fase 2 dari Bundaran HI ke Kampung Bandan. Sudah itu akses ke sejumlah tempat wisata lebih dekat dari sini. Selain Kawasan Kota Tua Jakarta, juga dekat ke kawasan wisata Ancol di Jakarta Utara. Bahkan jadi bagian dari Kawasan Kota Tua Jakarta.

Jadi sejatinya Stasiun jakarta Kota ideal untuk jadi Jakarta Central Station. Sebagaimana Tokyo Station di Jepang. Malah Tokyo Station nggak keliatan seperti stasiun kereta, malah jadi semacam kota kecil di tengah hiruk pikuk Tokyo.

5 thoughts on “Stasiun Jakarta Kota, Idealnya Jadi Central Station”

  1. Pingback: Wisata Lokomotif Cepu (Perhutani KPH Cepu) - Solo Traveling ID

  2. Pingback: Kereta Api Argo Parahyangan Jakarta Bandung - Solo Traveling ID

  3. Pingback: Kereta Api Argo Parahyangan, Legenda Priangan Barat - Solo Traveling

  4. Pingback: Peninggalan Sultan Agung di Museum Fatahillah - Manglayang ID

  5. Pingback: KRL Jogja dan Kalioso, Gasruk Duluan - Manglayang ID

Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: