Stasiun Lampegan Pos Pertama Sebelum Terowongan

Stasiun Lampegan, Pos Pertama Sebelum Terowongan

Terletak hampir di depan mulut terowongan, Stasiun Lampegan bisa jadi bos pertama sebelum kamu yang pengen berpetualang masuk melintas bangunan bersejarah tersebut. Secara jalur keretanya sekarang udah aktif dan dilewati kereta meski cuma satu. Tetap mesti izin lebih dulu ke pihak stasiun untuk ditentukan waktu untuk berpetualang di situ.

Sebagai peninggalan sejarah dalam wujud terowongan kereta api tertua di Indonesia (bahkan mungkin di Asia Tenggara), pastinya Lampegan menarik untuk dikunjungi dan dijadikan destinasi wisata. Baik wisata sejarah maupun petualangan. Kepengen merasakan sensasi sekedar ngadem atau melintas di terowongan yang memiliki panjang 686 meter itu.

Stasiun Lampegan dekat Terowongan Tertua di Indonesia

Rasa penasaran pasti muncul. Terlebih banyak cerita ini dan itu seputar bangunan bersejarah tersebut. Apalagi yang bernuansa mistis. Memang sih terowongan Lampegan kental dengan nuansa mistis. Ketika awal diresmikan aja Pemerintah Kolonial Belanda lewat operator Staatspoorwagen (SS) sampe mengadakan semacam upacara adat. Dalam rangka memberi persembahan di situ.

Kalo orang asing aja sampe ngasih persembahan, apalagi kita yang pribumi asli. Menjaga sikap selama berada di sana jelas wajib hukumnya. Sebelum masuk entah itu pengen ngadem doang atau melintas wajib baca Bismillah. Bahkan bila perlu dilanjut dengan membaca doa-doa seperti surat pendek dan ayat kursi (terutama buat yang beragama Islam).

Memutar musik keras-keras jelas nggak boleh dilakukan di sana. Karena dikhawatirkan akan mengganggu para makhluk tak kasat mata yang menghuni tempat itu. Imbasnya ke kita juga. Sepanjang jalan akan dibuat nggak nyaman bila sampe melakukan itu.

Stasiun Lampegan, Sebelum Masuk atau Lintas Izin Dulu Ya

Menjaga etika bukan cuma ketika berada di sekitar atau di dalam terowongan. Sebelum masuk dan berpetualang kamu juga tetap harus meminta izin lebih dulu ke pihak terkait. Dalam hal ini Stasiun Lampegan, melalui Kepala Stasiun. Karena ini menyangkut soal safety juga. Memang cuma satu kereta yang melintas, tapi kamu juga mesti tau jadwal perjalanan kereta tersebut.

Stasiun Lampegan Sebagai Pos Pertama Izin ke Kepala Stasiun

Untuk menjangkau tempat bersejarah ini memang sangat mudah. Tinggal naik KA Siliwangi terus turun di Stasiun. Tunggu keretanya berangkat lagi baru deh kita bisa mengurus segala perizinan sama pihak Stasiun. Terus soal dikasih atau nggak itu tergantung pihak stasiun.

Biasanya sih kalo dikasih izin untuk melintas paling cuma boleh sampe sisi seberang. Jadi nggak bisa kita lanjut trekking sampe ke Stasiun Cireungas. Itu karena pihak Stasiun akan memperhitungkan jadwal perjalanan KA Siliwangi dari Lampegan ke Sukabumi sampe balik lagi dari Sukabumi. Lagi-lagi masalah safety. Walaupun cuma satu kereta tetap nggak boleh abai sama safety.

Pos Kedua dan Pos Ketiga di Mulut Terowongan

Memang nggak sedikit yang suka melintas terowongan itu. Tapi tetaplah adab harus dijaga. Kepala Stasiun adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas wilayah tersebut. Termasuk terowongan yang dulunya bernama Cimenteng itu. Jadi jangan turun dari kereta terus nyelonong aja masuk terowongan.

Stasiun adalah pos pertama dan kita minta izin dulu sama Kepala Stasiun sebagai penanggung jawab. Selanjutnya mulut terowongan adalah “pos kedua”. Dimana kita membaca Bismillah sebelum masuk ke dalam. Itu juga sama dengan meminta izin “penghuni” tempat bersejarah itu.

Nah begitu nyampe di sisi Cireungas, sebelum masuk lagi juga mesti baca Bismillah. Buat kamu yang petualang (lintas), bagian di Kabupaten Sukabumi ini adalah “pos ketiga”. Jangan lupa selama di terowongan jaga sikap. Seperti udah dibilang tadi jangan sekali-kali putar musik keras-keras di dalam Terowongan Lampegan. Oke selamat berpetualang, jangan lupa minta izin dulu ya……

Turtable yang Berubah Jadi Kolam

Bekas Turntable Stasiun Lampegan

Ternyata ada satu spot bersejarah yang nyaris terlupakan. Padahal ini sama bersejarahnya kaya terowongan. Spot apakah itu? Bekas Turntable Stasiun Lampegan. Ini memang bukan stasiun besar. Bahkan dulu boleh jadi cuma sekedar halte. Tapi kok bisa ya ada turntable? Sebetulnya bukan cuma ini doang sih. Stasiun bahkan pernah punya gudang jaraknya kurang lebih 1,5 meter dari mulut terowongan. Sayang sekarang udah hilang.

Balik lagi ke turntable, kira-kira fungsinya untuk apa ya? Kalo di Cicalengka jelas, secara dulu itu pernah jadi stasiun terminus sebelum dilanjut ke arah Garut hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan turntable yang ada di Cicalengka masih aktif sampe sekarang. Buat memutar drensine dan sejenisnya untuk sarana inspeksi petugas PT. KAI. Cuma di Stasiun Lampegan untuk apa ya?

Intinya tetap sama untuk memutar lokomotif. Di jaman lokomotif uap dulu kan cuma bisa berjalan satu sisi secara long hood. Karenanya membutuhkan turntable. Bisa jadi untuk memutar loko apabila mengalami gangguan dan sejenis sehingga harus balik ke stasiun asal. Termasuk untuk loko penariknya. Karena itu tadi Steam Loco (SL) hanya bisa berjalan satu sisi.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: