Terowongan Lampegan Asal Usul Nama dan Cerita

Terowongan Lampegan, Asal Usul Nama dan Cerita

Terowongan Lampegan di jalur legendaris Jakarta Bandung via Sukabumi Cianjur ternyata punya asal usul nama dan cerita. Pernah ambruk di tahun 2001 hingga menghentikan operasional kereta jurusan Sukabumi. Di sini juga pernah jadi saksi sejarah Perang Kemerdekaan. Sekarang udah aktif lagi namun masih bisa dijadikan destinasi wisata sejarah.

Trekking jalur kereta Sukabumi Cianjur selagi masih PSBB Total periode April – Juni 2020 kurang lengkap rasanya kalo belum mengintip sebuah bangunan bersejarah yang jadi batas wilayah antara Cianjur dan Sukabumi. Bangunan tersebut berbentuk terowongan untuk dilewati kereta api. Udah eksis sejak tahun 1882 dengan panjang 686 meter. Jelas terowongan kereta api tertua di Indonesia.

Posisinya di antara Stasiun Cireungas dan Stasiun Lampegan. Begitu mulai masuk dari mulut terowongan, mulai deh kita merasakan aura mistis yang ada di dalamnya. Karena itu jelas apabila kita mau melintas di situ harus bisa menjaga sikap. Nggak boleh banyak bertingkah. Bahkan sekedar memutar musik pun sebaiknya jangan dilakukan di sekitar apalagi di dalam. Khawatir mengganggu makhluk tak kasat mata yang menghuni terowongan itu.

Asal Usul Terowongan Lampegan Dari Ucapan “Laam Pegang (Pegan)”

Terowongan ini dibangun mulai tahun 1879 hingga 1882 sebagai bagian dari jalur kereta api Buitenzorg-Bandung via Sukabumi-Cianjur. Jalur ini dibangun nggak lain untuk kepentingan ekonomi pemerintah kolonial Belanda. Terutama mempercepat pengangkutan hasil bumi ke Batavia sebelum diekspor ke luar negeri via Pelabuhan Tanjung Priok.

Awalnya jalur udah terbangun dari Batavia ke Buitenzorg. Dioperasikan oleh perusahaan swasta Nederland Indische Stroomtraam Maatschappij (NIS) yang sebelumnya telah berhasil membangun dan operasikan jalur kereta api dari Semarang ke Solo dan Jogja. NIS memang ingin melanjutkan jalur itu hingga ke kawasan Priangan demi memenuhi kebutuhan pemerintah kolonial.

Namun karena terkendala biaya pembangunan, akhirnya proyek diambil alih Staatspoorwagen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Belanda. Singkat cerita dibangunlah jalur menuju Priangan melalui beberapa tahap. Cukup menantang lantaran kontur alam pegunungan. Termasuk harus menerobos bukit di Cimenteng, Cianjur (bangun terowongan).

Terowongan Lampegan aslinya Cimenteng

Makanya ketika awal selesai dibangun, terowongan sepanjang 686 meter ini namanya Terowongan Cimenteng. Terus kalo gitu nama Lampegan dari mana ya? Gini, ceritanya ada petugas lagi inspeksi di jalur itu. Lantas masuk ke terowongan dan diingetin untuk memegang lampu. Dalam bahasa atau dialect Belanda disebut “Laam Pegan”. Jadi Laam itu lampu atau cahaya. Pegan berarti pegang (dialect Belanda).

Ada lagi cerita dimana seorang kondektur kereta teriak “Laam pegan” ke lokomotif. Maksudnya supaya masinis menghidupkan lampu karena akan masuk Terowongan Cimenteng. Nah dari situ warga sekitar menangkapnya dengan sebutan Lampegan. Entah benar atau nggak yang jelas di kemudian hari, nama Lampegan lebih ngetop daripada Cimenteng.

Bukan cuma sejarah perkeretaapian di Indonesia dan Tanah Priangan, Terowongan Kereta Api Lampegan juga pernah jadi saksi sejarah Perang Kemerdekaan. Di sinilah basis gerilya para pejuang dari kalangan TNI maupun Laskar dalam menghadapi Agresi Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia (1946-1948). Termasuk cerita pembelotan seorang tentara Belanda yang memilih gabung TNI, Pricen.

Destinasi Wisata Sejarah

Kini terowongan telah aktif lagi dan rutin dilewati KA Siliwangi rute Sukabumi-Cipatat PP. Buat kamu yang ingin berwisata, Terowongan Lampegan direkomendasikan jadi destinasi wisata sejarah. Biar gimanapun juga ini adalah bangunan Heritage, terowongan kereta api pertama di Indonesia, bahkan mungkin aja di Asia Tenggara. Tujuannya supaya kita nggak melupakan begitu saja.

Terowongan Lampegan dari arah Stasiun Cireungas

Cuma mesti diingat, sebelum berwisata ke terowongan terutama kalo kamu pengen masuk ke dalam, izin dulu sama Pihak Stasiun Lampegan (Kepala Stasiun). Biasanya sih dikasih izin karena Terowongan ini cuma melayani perjalanan KA Siliwangi. Beda sama Terowongan Sasaksaat yang traffic-nya padat. Jadi disini kamu bisa dapat dua yakni wisata sejarah dan wisata petualangan.

Berpetualang melintasi terowongan tertua di Indonesia dari Lampegan hingga ke arah Cireungas. Walaupun nggak nyampe ke Stasiun Cireungas-nya. Tapi ya itu tadi, izin sama Kepala Stasiun Lampegan yang paling penting. Tak kalah penting juga menjaga sikap. Jangan sekali-kali memutar musik ketika berada di sekitar apalagi di dalam terowongan..

Di antara adab-adab sebelum memasuki terowongan, Baca Bismillah, terus minta perlindungan ke Alloh Ta’ala. Bisa ditambah baca 3 Surat (Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas) dan Ayat Kursi. Itu buat kamu yang beragama Islam ya. Untuk Non-Muslim bisa disesuaikan dengan keyakinan masing-masing. Intinya sih jaga sikap dan adab. Percaya atau nggak, namanya makhluk tak kasat mata (jin) itu memang ada.

Terus apakah kita nggak ngasih sesuatu ke Kepala Stasiun Lampegan? Kalo mau ngasih misalnya makanan ringan kaya roti Pisang Bollen dan semisalnya boleh-boleh aja. Hitung-hitung sebagai tanda terima kasih karena udah ngasih izin berwisata di Terowongan Lampegan.

1 thought on “Terowongan Lampegan, Asal Usul Nama dan Cerita”

  1. Pingback: Stasiun Lampegan, Pos Pertama Sebelum Terowongan - Manglayang ID

Leave a Comment

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: