Tokyo Central Station Bukan Sekedar Stasiun Kereta

by May 1, 2020Fly Me To Japan0 comments

Tokyo Central Station atau lebih dikenal dengan nama Tokyo Station adalah stasiun kereta api terbesar di Tokyo. Di sini pusat sekaligus terminusnya Shinkansen. Sejumlah perjalanan kereta lokal dan intercity juga dipusatkan di sini. Ternyata tempat ini bukan sekedar stasiun kereta api. Bahkan lebih mirip sebuah kota kecil.

Bahas stasiun kereta nih ya, seharusnya ini masuk ke Transportasi Jepang, tapi karena fungsinya yang melebihi sebuah stasiun kereta api jadi aja masuk ke Wisata Jepang. Memang fungsi sebagai tempat mobilitas dan naik turun penumpang masih ada di sini. Tapi lebih dari itu juga merupakan kawasan komersial. Malah udah kaya mall aja. Lebih dari itu udah jadi semacam kota kecil di dalam kota besar.

Sebagai stasiun kereta api, disinilah titik awal sekaligus terminusnya Shinkansen. Untuk rute Tokaido Sanyo ke Hakata di Kyushu dan rute Joetsu dan Hokkaido ke arah utara. Selain Shinkansen, kereta limited express antar kota (intercity) sebagian besar masih dipusatkan di sini. Meski untuk yang satu ini berbagi sama Shinjuku Station. Lantas apa yang membuat tempat ini bisa dijadiin sebuah kawasan wisata tersendiri?

Mulai Dibuka 1914 dan Jadi Saksi Sejumlah Peristiwa Bersejarah

Tokyo Station sebagaimana nama beken stasiun ini merupakan stasiun kereta api terbesar di Kota Tokyo. Semua layanan perjalanan antar kota atau kalo di Indonesia disebut kereta api jarak jauh (KAJJ) dipusatkan di sini. Baik untuk layanan Limited Express maupun Shinkansen. Stasiun juga melayani perjalanan kereta menuju Bandara Narita (NRT) di Prefecture Chiba.

Stasiun ini mulai beroperasi pada 20 Desember 1914. Kalo diitung usia berarti udah 105 tahun. Bangunan di arsiteki Tatsuno Kingo yang juga jadi arsitek Manseibashi Station. Arsitektur Tokyo Station mirip sama Manseibashi yang ditutup total tahun 1943.

Tentunya banyak peristiwa bersejarah pernah terjadi di sini, atau paling nggak Tokyo Station pernah jadi saksi bisu sejumlah peristiwa bersejarah di Jepang. Di sinilah TKP pembunuhan Perdana Menteri Takashi Hara di Tahun 1920. Takashi Hara dibunuh di sisi selatan stasiun saat akan berangkat naik kereta api ke Kyoto.

Di antara peristiwa paling fenomenal dalam sejarah di Jepang ialah The Great Kanto Earthquake atau Gempa Bumi Kanto pada tahun 1923. Menghancurkan Kanto Area, Tokyo hingga Yokohama. Tercatat 140.000 korban jiwa Gempa Kanto dan kebakaran yang diakibatkan olehnya. Jadi salah satu gempa bumi terburuk di dunia.

Tahun 1930 kembali terjadi pembunuhan terhadap Perdana Menteri Jepang. Kali ini menimpa Perdana Menteri Osachi Hamouguchi. Kejadian pertama dan kedua kasus pembuhunah Perdana Menteri Jepang punya kemiripan dari sisi pelaku. Yakni sama-sama kelompok ekstrem kanan Jepong.

Bangunan Tokyo Station dicirikan dengan keberadaan dua kubah kembar di Marunouchi Side. Cuma untuk kubahnya yang ada sekarang sebetulnya bukanlah asli bawaan dari tahun 1914. Malah kubah iconic ini sempat hilang selama 67 tahun.

Hilangnya elemen penting tersebut terjadi pada 25 Mei 1945 ketika pesawat B29 Sekutu membombardir Tokyo. Menghancurkan sebagian besar bangunan stasiun. Setelah perang selesai Tokyo Station berhasil dibangun lagi. Sayangnya icon nggak bisa diselamatkan dan harus diganti bangunan baru berbentuk trapesium.

Sampe pada akhirnya November 2009 Tokyo Station direnovasi besar-besaran. Di antaranya adalah restorasi bangunan kubah sehingga bangunan stasiun yang ada sekarang kembali seperti sebelum Perang Dunia ke-2. Nah jadi kubahnya itu restorasi bukan bangunan asli. Karena yang aslinya udah hancur jadi korban keganasan armada tempur Sekutu.

Sejarah lainnya yang pernah terjadi disini tentu operasional perdana Tokaido Shinkansen, 1 Oktober 1964. Shinkansen pertama jenis 0-Series melayani rute Tokyo-Shin Osaka. Perjalanan dari Tokyo ke Osaka yang setara Jakarta-Surabaya dipersingkat jadi cuma 4 jam saja.


Tokyo Central Station - Marunouchi Side
Tokyo Central Station Marunouchi Side,
Diarsiteki oleh Tatsuno Kingo yang juga pernah jadi arsitek untuk Manseibashi Station (ditutup 1943)

Kubah Iconic yang Sempat Hilang Akibat Di Bom Pesawat B29 Sekutu
Kubah Iconic Marunouchi Gate.
Kubah ini sebenarnya hasil restorasi yang mulai dikerjakan tahun 2006. Aslinya kubah ini ada pada konstruksi pertama tahun 1914. Sayang Perang Dunia ke-2 mengubah segalanya. Tokyo Central Station jadi sasaran bom pesawat B-29 Sekutu. Stasiun sempat pulih dan dibangun lagi. Namun sayang tak mencakup kubahnya.

Tokyo Central Station Mirip Sebuah Kota Kecil

Selain Marunouchi Side, terdapat satu lagi akses masuk Tokyo Central Station yakni Yaesu Side. Di bagian inilah terlihat ini seperti bukan stasiun kereta. Malah lebih mirip mall besar dengan sejumlah tenant. Termasuk gerai Starbucks Coffee ada di bagian ini.

Tapi sejatinya Yaesu Side udah dibangun sejak 1929 atau 8 tahun setelah peristiwa pembunuhan PM Takashi Hara. Sayang bangunan asli tahun 1929. Semua bangunan di area ini baru, area komersial nyaris semuanya ada di sini.

Nggak cuma gerai Starbucks atau konbini sejenis Lawson. Outlet fashion ada di Yaesu side, ditambah lagi Gran Tokyo dan area perkantoran. Meski banyak dikelilingi area komersial, Yaesu Side ada terminal bus, salah satunya layanan JR Bus Kanto dan bus dari/ke Bandara Haneda di Chiba Prefecture.

Nah kabar baiknya buat kamu pemegang JR Pass bisa naik JR Bus Kanto. Selama rute bus-nya nggak lewat expressway (jalan tol). JR Bus Kanto adalah layanan bus yang dioperasikan JR East di Kanto Area, termasuk Tokyo Metropolitan.

Di antara keunikan Tokyo Central Station ialah keberadaan 2 subway station punya Tokyo Metro. Di Marunouchi Side sebelah utara ada satu subway station dengan nama Tokyo Station yang mulai beroperasi 20 Maret 1956. Adapun di Yaseu Side terdapat Otemachi Station. Stasiun ini mulai beroperasi 20 Juli 1956 keduanya berada di Marunouchi Line.

Maka dari itu Tokyo Central Station bisa dibilang sebagai pusatnya integrasi antarmoda di Tokyo. Mulai perpindahan penumpang dari Intercity (Limited Express dan Shinkansen) ke Local. Transfer antar operator dari JR Group ke Tokyo Metro. Plus transfer penumpang kereta ke bus di Terminal Bus Yaesu Side.

Dengan adanya fungsi sebagai stasiun kereta, pusat integrasi antarmoda (terminal terpadu), dan area komersial yang meliputi mall, hotel hingga perkantoran. Maka bisa dibilang bahwa Tokyo Central Station Bukan Sekedar Stasiun Kereta. Lebih dari itu udah mirip kota kecil di tengah hiruk pikuk dan kesibukan Tokyo Metropolitan.

Masuk ke dalam luas banget. Kalo kita kurang cermat salah-salah bisa tersesat di dalamnya. Intinya kalo udah di kompleks Tokyo Station entah memang untuk tujuan naik kereta atau sekedar hang out di Kawasan Komersial Yaesu Side ikuti aja petunjuk-petunjuk yang ada. InSyaaAlloh kamu nggak akan tersesat.


Tokyo Central Station - Yaesu Side
Tokyo Central Station Yaesu Side.
Total bangunan baru. Sebenarnya area ini udah ada dan dibangun tahun 1929. Hanya saja bangunan aslinya udah nggak diketahui lagi keberadaannya. Karena nyaris semuanya didominasi bangunan baru. Ditambah lagi bagian ini lebih banyak area komersial seperti Department Store, Kedai Kopi, Cafe dan Resto, Hotel hingga Perkantoran.

Tokyo Central Station - Integrasi Antar Moda
Integrasi Antar Moda
Penumpang kereta yang turun di stasiun ini bisa pindah ke kereta bandara, kereta lokal, subway yang dioperasikan Tokyo Metro hingga bus. Di Yasesu side terdapat terminal bus. Termasuk layanan JR Bus tersedia di sini.

Area Komersial Bukan Sekedar Stasiun Kereta
Area Komersial
Coffee shop sekelas Starbucks Coffee, sejumlah tenant cafe and resto yang tergabung di Kitchen Street hingga Department Store dan Hotel menjadikan Tokyo Central Station bukan sekedar stasiun kereta. Lebih dari itu udah mirip semacam kota kecil di tengah gemerlap dan keramaian Tokyo.

Jalur Bawah Tanah JR East (Yokosuka Line) dan Layanan Narita Express

Siapa sangka East Japan Railway Company (JR East) ternyata punya jalur bawah tanah (underground). Tentunya ini jadi satu keunikan tersendiri. Untuk perusahaan BUMD seperti Tokyo Metro atau Swasta seperti Tokyu Corp yang mengoperasikan subway memang udah nggak heran jalurnya di bawah tanah semua. Namanya juga subway.

Tapi ternyata JR East juga punya jalur bawah tanah. Jalur ini membentang dari Shinagawa Station. Dipake untuk layanan Narita Express menuju Bandara Narita (NRT) yang terletak di Prefecture Chiba. Narita Express termasuk layanan intercity Limited Express. Mengingat posisi bandara yang berada di luar kota. Beda sama Haneda Airport (HND).

Sementara itu jalur lainnya seperti Yamanote Line justru dibuat melayang dan di permukaan. Yamanote Line juga jadi penghubung antara Tokyo Central Station ke Shinagawa, Shibuya, hingga Shinjuku. Begitupula jalur Tokaido Shinkansen dibuat elevated.

Nah untuk jalur Narita Express menuju Tokyo Station inilah yang berada di bawah tanah (Underground). Dikenal dengan nama Yokosuka Line. Selain layanan Narita Express terdapat layanan lokal 11 kereta (E217 Series). Lagi-lagi ada yang unik di sini, yakni 2 kereta merupakan Green Car (First Class) double deck.

Yokosuka Line di bawah tanah paralel sama jalur lainnya di permukaan: Yamanote Line, Tokaido Main Line, Keihin Tohoku Line dan Tokaido Shinkansen (segmen Tokyo-Shinagawa). Selain Narita Express dan Yokosuka Line, peron bawah tanah Tokyo Central Station juga layani Sobu Line antara Tokyo dan Chiba. Salah satu layanannya ialah Shiosai.

Shiosai pake armada A 255 Series pake embel-embel Boso View Express. Tujuan akhir kereta ini Chosi di Boso Pennisula, Prefecture Chiba. Boleh jadi inilah alasan penamaan Boso View Express sebagai branded A 255 Series.


Tokyo Central Station - Terminus Intercity Train
Terminus Intercity Train
Tokyo Central Station jadi terminus intercity train atau layanan kereta antar kota. Seperti Limited Express dan Shinkansen. Hampir semuanya dipusatkan di sini. Untuk Narita Express walaupun kereta bandara Narita sejatinya termasuk layanan intercity train Limited Express. Secara Bandara Narita sendiri terletak di Prefecture Chiba, luar kota Tokyo.

%d bloggers like this: