Tragedi Bintaro Film Ternyata Sedikit Beda Lho

by Oct 19, 2021All Education Is Fun0 comments

Tragedi Bintaro Film vs Realita? Ternyata memang ada beberapa perbedaan dengan kondisi asli pada tanggal kejadian 19 Oktober 1987. Paling terlihat jelas adalah kondisi di Stasiun Sudimara aslinya semua jalur yang ada dipenuhi rangkaian kereta. Kondisi yang membuat PPKA awalnya hendak memindah persilangan ke Stasiun Kebayoran Lama.

Sejarah kelam perkeretaapian tanah air yang bisa jadi nggak akan pernah dilupakan dari generasi ke generasi. Dilihat dari korbannya aja, 150 meninggal dunia, udah merupakan yang terbesar. Meski sebelum atau sesudahnya juga kerap terjadi musibah kecelakaan di jalur rel kereta. Nggak ada yang korban maupun dampaknya lebih parah dari kisah pilu di Senin pagi 19 Oktober 1987. Hari itu ketika tanah Jakarta berubah menjadi merah.

Musibah yang tak terlupakan. 2 tahun sesudahnya dibuat film dengan judul yang sama dengan kejadian aslinya. Meski di film lebih banyak mengisahkan tentang keluarga salah seorang korban selamat, namun urutan kejadian nyaris mirip dengan aslinya. Memang ada beberapa yang miss dalam film tersebut, karena lagi-lagi itu tadi, lebih banyak membahas tentang kondisi keluarga korban tadi baik sebelum dan sesudah kecelakaan.

Tragedi Bintaro Film, Nggak Ada Scene Stasiun Serpong

Dalam Tragedi Bintaro film, runutan kejadian lebih kepada proses pemberangkatan di dua stasiun yakni Stasiun Kebayoran Lama dimana KA Patas Merak (220) berhenti sebentar sebelum melanjutkan perjalanan, dan Stasiun Sudimara yang disinggahi KA Lokal Rngkasbitung (225). Kemudian petugas PPKA kalang kabut, baru saja memberi kode aman ke Kebayoran lantas terkejut dengan laporan keberangkatan KA 225 oleh salah satu petugas stasiun.

Jika kita melihat pada kejadian aslinya, Tragedi ini bermula dari kesalahan petugas PPKA Stasiun Serpong yang memberangkatkan KA 225 tanpa melihat lebih dulu kondisi Stasiun Sudimara yang waktu itu dipenuhi rangkaian kereta dan cuma menyisakan satu jalur (Jalur 3).

Nah pemberangkatan dari Stasiun Serpong ini nggak ada di film. Mungkin itu tadi, lebih ingin mengangkat kisah salah seorang korban selamat. Kalo memasukkan Stasiun Serpong ke dalam scene film itu jadinya kaya Second From Disaster nya National Geographic dong.

 

Stasiun Sudimara Terlihat Lengang Padahal Dipenuhi Kereta

Perbedaan lainnya Tragedi Bintaro Film dan Realita ialah kondisi stasiun Sudimara itu sendiri. Inilah yang jadi concern point dari film. Seperti kita saksikan, stasiun nampak dipenuhi penumpang di Senin pagi itu. Lantas KA 225 masuk kemudian para penumpang berusaha naik ke atas rangkaian yang sejatinya sudah sangat penuh. Saking penuhnya sampai berjejalan di lokomotif

Cuma ada yang beda di sini, dimana jalur kereta yang ada terlihat lengang dan hanya diisi oleh KA 225 itu. Ditambah satu gerbong barang idle di jalur 1. Adapun jalur 2 nampak kosong. Padahal aslinya jalur 2 di Stasiun Sudimara itu ada KA Indocement yang juga hendak menuju Jakarta. Sebagaimana KA 225, kereta barang ini tengah menunggu izin aman untuk berangkat.

Ketika KA 225 tiba di Sudimara, stasiun itu praktis terkunci sehingga mustahil untuk diadakan kegiatan persilangan. Karena itu PPKA Sudimara berinisiatif memindahkan persilangan ke Stasiun Kebayoran dengan membuat surat PTP (Perubahan Tempat Persilangan). Namun disinilah letak kesalahannya. PTP Langsung diberikan ke masinis baru setelah itu menghubungi Stasiun Kebayoran, dimana telah ada KA 220 di sana.

Lantas terjadi pergantian petugas PPKA di Stasiun Kebayoran. Kebetulan PPKA baru tak begitu mengetahui info tentang PTP tadi sehingga memberangkatkan KA 220. Keberangkatan tersebut membuat PPKA Sudimara berusaha melangsir KA 225 ke jalur 1 yang sebetulnya telah terisi gerbong idle. Karena jalur 3 akan diisi KA 220.

Perubahan tersebut tanpa menarik lagi surat PTP yang telah diberikan sebelumnya. Padahal menurut kacamata masinis, PTP adalah “surat sakti” dimana selama kereta yang dibawanya belum tiba di stasiun berikutnya tak boleh ada kereta lain yang lewat. Baik searah apalagi berlawanan. Dalam kasus ini, selama KA 225 belum tiba di Kebayoran, tak boleh ada satu kereta pun melintas di petak Sudimara-Kebayoran.

Saat peluit tanda semboyan langsir dibunyikan, KA 225 malah melesat menuju Kebayoran sehingga membuat semua petugas stasiun panik. PPKA berusaha menghentikan dengan menggerakan sinyal namun gagal karena KA 225 dijejali penumpang yang membuat masinis tak bisa melihat sinyal. PPKA tersebut tak kehilangan akal. KA 225 dikejar sambil mengibarkan bendera merah dan meniup peluit agar kereta itu mundur lagi ke Sudimara.

Mengejar Pakai Motor dan Semboyan Genta Darurat.

Nah komunikasi antara PPKA Sudimara dan Kebayoran itu tadi ada di film meski porsinya sedikit. Juga PPKA yang mengejar KA 225 memang benar itu real kejadian. Cuma ada upaya menghindari tabrakan adu banteng yang nggak masuk ke dalam film yakni adanya perugas stasiun yang mengejar KA 225 pakai sepeda motor dan upaya terakhir PPKA menghentikan KA 220 menggunakan semboyan genta darurat.

Jadi gini, ketika KA 225 yang harusnya langsir ke jalur 1 malah nyelonong ke arah Kebayoran, petugas langsir langsung panik. Ada yang melapor ke PPKA dan ada juga yang mengejar menggunakan motor. Namun sayang karena bertepatan dengan jam sibuk berangkat kantor, upaya tersebut sia-sia akibat kemacetan di jalan raya.

Setelah gagal mengejar KA 225 dan bahkan sempat pingsan 2 kali, PPKA Sudimara mengirim pesan ke petugas PJL Pondok Betung Bintaro berupa semboyan genta darurat sebagai upaya terakhir mencegah tabrakan dua kereta. Supaya petugas PJL tadi menghentikan laju KA 220. Namun sayangnya ini juga berujung kegagalan. Baik KA 225 maupun 220 seperti dituntun menuju maut. Belakangan diketahui petugas PJL itu nggak hafal semboyan genta.

Jadi adegan mengejar KA 225 menggunakan sepeda motor yang akhirnya gagal gegara kejebak macet. Juga genta darurat untuk menghentikan KA 220. Keduanya nggak masuk ke dalam scene film. Padahal ini juga lumayan krusial. segala upaya dilakukan untuk mencegah tabrakan adu banteng. Namun semuanya gagal dan memang sudah jalannya itu terjadi.

Sepertinya lagi-lagi film tersebut memang dibuat untuk lebih banyak mengangkat kehidupan salah seorang korban selamat baik sebelum maupun sesudah kecelakaan. Terlepas Tragedi Bintaro Film dan Realita yang ada sedikit perbedaan, banyak pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini.

Berbagai pembenahan pun dilakukan. Misalnya memperbaiki sistem persinyalan, komputerisasi, komunikasi juga, dan yang paling utama ialah membangun double track. Dua stasiun juga dibangun di petak tersebut yakni Stasiun Jurangmangu dan Stasiun Parung Panjang.

 

Second From Disaster versi Tragedi Bintaro Film (release 1989)

Diambil dari film Tragedi Bintaro (Safari FIlm 1989) urutan kejadian sebelum kedua kereta yakni KA 220 Patas Merak rute Tanah Abang – Merak tabrakan adu banteng dengan KA 225 Lokal Rangkasbitung rute Rangkasbitung – Jakarta Kota di Tikungan Letter S Bintaro Jakarta Selatan (sebenarnya dah perbatasan sama Tangerang Selatan sih, tapi yang jelas kalopun Tangsel masuknya penyangga ibukota). 

Urutan ketika KA 220 tiba di Stasiun Kebayoran Lama untuk menunggu kabar selanjutnya dari PPKA apakah lanjut berangkat menuju Sudimara ataukah sebaliknya menunggu. Di sisi lain KA 225 masuk Stasiun Sudimara dimana kereta tersebut dijejali penumpang hingga overcapacity. Terjadi hubungan antara Kebayoran dan Sudimara, keduanya sepakat KA 220 aman untuk lanjut. Lalu PPKA Sudimara dibuat kaget oleh laporan Petugas Harian Lapangan (PLH) yang menyebut KA 225 telah berangkat. 

 

Berbagai upaya dilakukan oleh PPKA Sudimara untuk menghentikan KA 225, namun tak satupun berhasil. Tabrakan adu banteng seperti tinggal menunggu waktu. Akhirnya kedua kereta berlawanan arah yang melaju dengan kecepatan normal itu bertemu di sebuah tikungan letter S Pondok Betung Bintaro. Jalur tikungan tajam membuat pandangan masinis kurang sempurna. Upaya pengereman pun sia-sia. KA 220 dan KA 225 bertabrakan adu banteng. Saking dahsyatnya dua gerbong awal langsung menelan lokomotif. Sekurang-kurangnya 150 penumpang tewas. Mayoritas berada di dua gerbong pertama tadi. (Video Official Instagram Mangalyang ID)

Cari Konten

Catatan: Mesin pencari ini hanya untuk mencari konten yang ada di Blog dalam bentuk artikel (postingan)

Disclaimer

Dipersilakan bagi kamu yang ingin share konten artikel (postingan) kami bila memang dirasa bermanfaat. Silakan juga disebarluaskan dalam bentuk apapun. Namun perlu diingat untuk mencantumkan sumber (Manglayang ID) dan bukan untuk tujuan komersial.

%d bloggers like this: