Tragedi Bintaro, Petaka di Senin Pagi

by Oct 19, 2020Manglayang Heritage0 comments

Tragedi BIntaro tanggal 19 Oktober 1987, ketika dua buah rangkaian kereta api bertabrakan adu banteng di tikungan Letter S kawasan Pondok Betung Bintaro. Sebuah malapetaka di Senin pagi memakan korban tewas hingga 150 penumpang. Tercatat sebagai kecelakaan dengan jumlah korban terbesar di Indonesia.

Tragedi Bintaro Petaka di Senin Pagi

Awal pekan seharusnya diisi dengan semangat baru. Namun apa yang terjadi pada 33 tahun silam seolah nggak berlaku. Justru sebaliknya malah tragedi memilukan yang menghiasi awal pekan ketika itu. Sebuah malapetaka di jam sibuk biasanya orang berangkat kerja atau memulai aktivitasnya. Sebuah tragedi yang sangat sulit untuk dilupakan karena banyaknya korban jiwa. Bahkan dalam kondisi sangat tragis.

Tragedi Bintaro, Berawal dari PPKA Stasiun Serpong

Petaka dimulai dari Stasiun Serpong dimana PPKA memberangkatkan KA 225 Lokal Rangkasbitung rute Rangkasbitung – Jakarta Kota tanpa mengecek dahulu kondisi Stasiun Sudimara. Padahal stasiun Sudimara saat itu punya 2 jalur dan keduanya sudah terisi oleh rangkaian kereta. Dimana jalur 1 terdapat gerbong barang idle tanpa lokomotif dan jalur 2 ada Kereta Indocement jurusan Jakarta.

Disinilah kesalahan awal menuju rentetan kesalahan-kesalahan dan miskomunikasi berikutnya yang berujung fatal. KA 225 berangkat dari Stasiun Serpong ke arah Jakarta dengan pemberhentian awal dari Serpong ialah Stasiun Sudimara.

KA 225 tiba di Stasiun Sudimara jam 06.45 WIB dengan kondisi penuh penumpang melebihi kapasitas. Bahkan meluber hingga ke atap dan lokomotif. Kebetulan jadwal perjalanannya memang bertepatan dengan jam berangkat kantor atau rush hour. Udah itu dalam keadaan terlambat 5 menit. Stasiun Sudimara akhirnya benar-benar terkunci penuh. Semua jalurnya terisi kereta. Persilangan jadi nggak mungkin dilakukan di situ.

PPKA Stasiun Sudimara, Djamhari, berinisiatif untuk memindahkan persilangan dari Stasiun Sudimara ke Stasiun Kebayoran. Surat PTP (Perubahan Tempat Persilangan) dibuat dan diberikan ke masinis KA 225, Slamet Suradio. Setelah itu baru menghubungi PPKA Kebayoran.

KA Patas Merak (KA 220) di Stasiun Kebayoran

Dari arah timur, KA Patas Merak a.k.a. KA 220 rute Tanah Abang-Merak berangkat dari Stasiun Tanah Abang. Pemberhentian awal di Kebayoran. Meski sama-sama kereta ekonomi, KA 220 kelasnya lebih tinggi dari KA 225 dan hanya berhenti di beberapa stasiun saja. Ketika itu antara Stasiun Tanah Abang dan Kebayoran ada Stasiun Palmerah yang letaknya di depan Gedung Manggala Wana Bhanti Senayan. Nah KA 220 skip di situ.

KA 220 tiba di Stasiun Kebayoran. Harusnya setelah berhenti beberapa saat langsung melanjutkan perjalanan ke arah Merak. Nah ketika PPKA Sudimara menghubungi Kebayoran, KA 220 sudah ada di sana dan siap untuk diberangkatkan kembali. Terjadi dialog antar kedua PPKA terkait pemindahan tempat bersilang KA 225 dan KA 220 ke Stasiun Kebayoran karena kondisi Sudimara yang nggak memungkinkan tadi.

Namun di Stasiun Kebayoran terjadi pergantian petugas PPKA. Karena petugas PPKA yang baru, Umriyadi, nggak tau soal rencana pemindahan tempat persilangan pada akhirnya KA 220 tetap diberangkatkan dari Stasiun Kebayoran. Berita pemberangkatan KA 220 cukup mengejutkan karena surat PTP sudah terlanjur diberikan pelada masinis KA 225.

Sehingga PPKA Sudimara mengubah rencana melangsir KA 225 dari jalur 3 ke jalur 1 yang sebetulnya udah diisi gerbong barang idle tadi. Nantinya jalur 3 akan diisi KA 220 yang baru saja berangkat dari Stasiun Kebayoran.

PPKA Sudimara memerintahkan juru langsir untuk memindahkan kereta yang mengangkut 1.887 penumpang tersebut. Namun yang terjadi malah KA 225 melaju ke arah Kebayoran jam 06.50 WIB. Masinis berpedoman pada surat PTP yang telah dibuat sebelumnya. Dimana berdasarkan PTP tersebut tak boleh ada kereta lain melintas sebelum KA 225 tiba di Stasiun Kebayoran.

Tabrakan Adu Banteng setelah Sejumlah Upaya Tak Membuahkan Hasil

Berangkatnya KA 225 jelas membuat para petugas stasiun Sudimara panik. PPKA Sudimara, Djamhari, mencoba menghentikan KA 225 dengan menggerak-gerakkan sinyal mekanik. Namun karena kereta dalam kondisi penuh penumpang hingga meluber ke lokomotif, masinis maupun asistennya kesulitan untuk melihat sinyal.

Seorang petugas mencoba mengejar kereta lokal tersebut menggunakan sepeda motor. Namun karena jadwal yang bertepatan dengan rush hour dan berangkat ke kantor membuat petugas tadi kena macet di jam sibuk. Seolah tak kehabisan akal, Djamhari mencoba mengejar KA 225 sambil mengibar-ngibarkan bendera merah. Tujuannya supaya KA 225 mundur lagi ke Sudimara. Namun lagi-lagi gagal.

Djamhari melakukan usaha terakhir dengan membunyikan semboyan genta darurat kepada petugas PJL Pondok Betung. Namun lagi-lagi berujung kegagalan. Belakangan diketahui petugas PJL tersebut tak hafal semboyan genta. Kedua kereta yang sama-sama sarat penumpang tersebut seolah dituntun menuju maut. Kini tabrakan benar-benar tak bisa dihindari.

Tepat di tikungan Letter S sepanjang 407 meter Slamet Suradio dikejutkan oleh kereta yang datang dari arah berlawanan. Keterkejutan serupa juga menimpa masinis KA 220, meski sempat berusaha melakukan emergency brake (pengereman darurat) namun gagal. Akhirnya di jam 07.05 WIB di tikungan Letter S km 17 +225 kedua kereta tabrakan adu banteng.

Efek teleskopik membuat gerbong 1 kedua kereta menelan lokomotif. Disinilah banyak korban berjatuhan dalam kondisi sangat tragis, seperti tergiling kipas lokomotif. Ada juga yang terjepit. Tragedi Bintaro memakan korban jiwa 156 meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

Tragedi Bintaro, Kecelakaan Kereta Api Terbesar di Indonesia

Tragedi Bintaro di Senin pagi tentunya jadi satu dari sejumlah rentetan insiden fatal yang menimpa transportasi publik di Indonesia. Dengan kata lain jadi bagian dari Oktober Kelabu Transportasi Umum. Bahkan lebih dari itu, tabrakan adu banteng di Pondok Betung Bintaro tersebut hingga saat ini jadi kecelakaan kereta api terbesar di Indonesia. Jika dilihat dari jumlah korbannya.

Kecelakaan tragis tersebut tentu menarik perhatian sejumlah pihak. Beritanya pun tersebar luas hingga seantero negeri bahkan hingga ke luar negeri. Dahsyatnya tragedi tersebut dijadikan inspirasi oleh musisi Iwan Fals lewat lagu “1910”. Pun Ebiet G. Ade a.k.a. Kang Ebiet juga membuat lagu tentang tabrakan dua kereta tersebut.

Namun yang paling fenomenal tentu saja Film Tragedi Bintaro, direlease tahun 1989 atau 2 tahun setelah kecelakaan. Film yang menceritakan salah seorang korban selamat, Juned, beserta keluarganya. Di hari kejadian memang ada sekeluarga yakni Keluarga Nenek Minah termasuk Juned menumpang KA Patas Merak (KA 220) menuju Banten. Di film terlihat jelas bagaimana second from disaster dari Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987.

Perbaikan Sarana dan Pra Sarana Kereta Api Jalur Kulon (Green Line)

Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987 mau nggak mau membuat pihak terkait seperti PJKA dan Kementerian Perhubungan membuat pembenahan secara komprehensif untuk menghindari terulangnya lagi kecelakaan fatal serupa. Terutama di jalur kulon (sekarang Green Line) yang menghubungkan Jakarta dan kawasan barat (Provinsi Banten, di saat kejadian masih Jawa Barat).

Penertiban dilakukan di stasiun-stasiun jalur tersebut. Maklum saja jalur kulon dinilai paling sulit untuk ditertibkan dan kesemrawutannya. Di sini kadang penumpang jauh lebih galak daripada petugas. Di tahun 1990-an mulai dilakukan proses elektrifikasi. Sistem persinyalan dirubah dari mekanik ke elektrik. Pembangunan 2 stasiun antara Sudimara dan Kebayoran yakni Stasiun Pondok Ranji dan Stasiun Jurangmangu. Namun yang paling radikal ialah pembangunan double track di tahun 2007.

Jalur kulon atau green line saat ini menjadi jalur penting untuk angkutan penumpang dan barang. Kini layanan KRL Commuter Line sudah sampai Stasiun Rangkasbitung. Bahkan untuk angkutan penumpang lokal sekarang diambil alih oleh PT. Kereta Commuter Indonesia (KCI), anak usaha PT. KAI untuk angkutan perkotaan. Termasuk layanan kereta lokal Rangkasbitung-Merak.

TKP Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987 kini jadi lintasan KRL Commuter Line dan kereta barang. Traffic di sini bisa dibilang padat. Karenanya untuk aktivitas seperti trekking di atas rel terutama di Letter S itu sangat tidak dianjurkan dan tentunya berisiko.

Cari Konten

Catatan: Mesin pencari ini hanya untuk mencari konten yang ada di Blog dalam bentuk artikel (postingan)

Disclaimer

Dipersilakan bagi kamu yang ingin share konten artikel (postingan) kami bila memang dirasa bermanfaat. Silakan juga disebarluaskan dalam bentuk apapun. Namun perlu diingat untuk mencantumkan sumber (Manglayang ID) dan bukan untuk tujuan komersial.

%d bloggers like this: