Tragedi Trowek 1995 yang Nyaris Terlupakan

by Oct 24, 2020Manglayang Heritage0 comments

Tragedi Trowek 1995 terjadi ketika gabungan KA Galuh dan KA Kahuripan mengalami kecelakaan tragis di Jembatan Trowek (Cirahayu) Kabupaten Tasikmalaya. Musibah terjadi gegara lokomotif mengalami rem blong. Kecelakaan kereta yang menewaskan sedikitnya 14 penumpang dan 71 lainnya luka parah. Namun sayangnya tragedi ini seolah terlupakan.

Tragedi Trowek 1995

Bulan Oktober memang boleh dibilang bulan kelam dalam dunia transportasi umum. Khususnya kereta api yang jadi moda transportasi favorit saat ini. Tercatat ada 3 peristiwa luarbiasa hebat (PLH) di bulan itu. Mulai dari Tragedi Petarukan Pemalang pada 2 Oktober 2010. Kemudian Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987 yang hingga kini masih menjadi kecelakaan kereta api terburuk dengan jumlah korban terbesar di Indonesia.

Namun ada satu lagi peristiwa luarbiasa hebat yang tak kalah tragis dari kecelakaan di Petarukan maupun Tragedi Bintaro 1987. Sayangnya kejadian ini seolah terlupakan begitu aja. Kecelakaan kereta api di Jembatan Trowek (sekarang jembatan Cirahayu) Kabupaten Tasikmalaya. Musibah yang tak kalah tragis tentunya dari kondisi korban.

Tragedi Trowek 1995 dimulai dari Stasiun Cibatu

Stasiun Cibatu, 25 Oktober 1995, KA Galuh rute Jakarta Pasar Senen – Banjar PP tiba pada jam 22.35 WIB. Kereta ini masuk di jalur 2 membawa 11 rangkaian yakni K3-66705, K3-66702, K3-66703, KMP3-65605, K3-66536, K3-66717 ditarik lokomotif CC 201 75. Kurang lebih 30 menit berselang KA Kahuripan rute Bandung – Kediri tiba dengan membawa 7 rangkaian yang ditarik lokomotif CC 201 05, terdiri dari K3-66545, K3-81701, K3-64541, KMP3-80501, K3-93505, K3-93519, KP3-66502.

Namun sayangnya KA Galuh mengalami kerusakan sehingga udah dipastikan akan mengalami banyak keterlambatan. Untuk menguranginya pihak PPKA Stasiun Cibatu berinisiatif untuk menggabungkan KA Galuh dan KA Kahuripan dalam satu rangkaian yang ditarik oleh 2 lokomotif (double traksi). Kebijakan ini sebetulnya nggak salah secara teknis. Apalagi KA Galuh bakalan tambah telat.

Dengan penggabungan 2 kereta tadi otomatis Perka Galuh di tanggal itu batal. Nantinya gabungan 2 kereta ini direncanakan sampe Stasiun Kroya. Setelahnya KA Galuh kembali ditarik ke destinasi aslinya, Stasiun Banjar. Penggabungan ini menjadikannya 13 kereta yang ditarik double traksi CC 201 75 dan CC 201 05.

Meski nggak salah dari segi teknis, masalah lainnya ialah jalur yang akan dilalui oleh rangkaian panjang tersebut adalah jalur ekstrem yang memiliki tanjakan dan turunan. Dari Stasiun Cibatu kereta akan menanjak melewati Warung Bandrek dan Bumiwaluya (Malangbong) sebelum tiba di Stasiun Cipeundeuy. Lantas setelahnya kereta akan melalui jalur menurun hingga Stasiun Ciawi, sebelum ke Tasikmalaya.

Sebelum nyampe ke Cibatu aja jalur yang dilewati udah nanjak dan menurun. Dari Cicalengka hingga Nagreg jalurnya naik, sedangkan Nagreg ke Leles menuruni lembah Mandalawangi. Setelah itu barulah jalurnya lurus sampai dengan Cibatu.

Sekalipun jauh, Stasiun Cibatu sejatinya turut andil dalam terjadinya petaka di tengah malam ini. Kebijakan penggabungan 2 kereta hingga menjadi 13 kereta yang hampir mirip KA Kertajaya dan KA Tawang Jaya sekarang diambil di situ. Kalo di Tragedi Bintaro, Stasiun Cibatu posisinya seperti Stasiun Serpong yang memberangkatkan KA 225 tanpa mengecek kondisi Sudimara.

Lokomotif KA Kahuripan Mengalami Rem Blong

Tragedi Trowek 1995 Rangkaian Gabungan 2 Kereta Anjlok di Jembatan Trowek

Rangkaian Gabungan KA Galuh-KA Kahuripan dengan 728 penumpang berangkat dari Stasiun Cibatu jam 23.38 WIB. Seperti udah dijelasin sedikit tadi, kereta akan melewati jalur menanjak mulai dari Warung Bandrek kemudian Bumiwaluya (Malangbong) sebelum akhirnya tiba di Stasiun Cipeundeuy. Namun pada saat itu nggak ada kewajiban kereta untuk berhenti di sana.

Jam 00.03 WIB kereta melintas langsung Stasiun Cipeundeuy dalam kondisi throttle dinetralkan dan setelahnya kereta akan melewati jalur yang menurun.

Nah disitulah lokomotif KA Kahuripan mengalami kegagalan fungsi rem (Brake Malfunction) atau dengan kata lain Rem Blong. Kereta terus meluncur tak terkendali. Tepat di Km 241 tepat di sebuah jembatan sepanjang 100 meter sebelum sinyal muka Stasiun Trowek (sekarang Stasiun Cirahayu), gabungan KA Galuh-Kahuripan mengalami anjlok.

  • 4 kereta: K3-66545R, K3-81701, K3-64531 dan KMP3-80501 terlempar ke bagian kanan rel, dimana KMP3-80501 berada di dasar jurang sedalam 10 meter. K3-81701 mengalami rusak berat. Dinding bagian kiri terkelupas hingga ke belakang. Kursi di dalam kereta ini sebagian besar terlepas. Darah dan serpihan daging berceceran di tempat tersebut
  • 1 kereta yakni  K3-93505 terlempar ke arah kiri yang jaraknya 10 meter.
  • 3 kereta yakni K3-93559, K3-61502 dan K3-67105 tetap berada di atas rel walaupun anjlok.
  • 5 kereta yang selamat ditarik ke Stasiun Cibatu.
  • Lokomotif CC20105 menabrak tebing sehingga bagian depannya hancur.
  • Lokomotif CC20175 posisinya terbalik (kondisi roda berada diatas) dan dinding mengelupas.

Jembatan sepanjang 100 meter itu dinamakan Jembatan Trowek yang dibawahnya terdapat Sungai Cirahayu. Karenanya kecelakaan fatal di tanggal 25 Oktober 1995 ini disebut Tragedi Trowek 1995. Pake embel-embel tahun karena sebelumnya juga pernah ada kecelakaan di lokasi ini.

Tragedi Trowek 1995: 14 Korban Meninggal Dunia dan 71 Korban Luka Berat

Tercatat 14 Korban Meninggal Dunia dan 71 Luka Berat

Petaka tengah malam di Priangan Timur in memakan korban 14 penumpang meninggal dunia. Sementara 71 penumpang lainnya mengalami luka berat. Nggak sedikit korban tewas karena panik ketika hendak menyelamatkan diri. Karena panik nggak sadar posisinya tepat berada di atas jurang.

Dalam kegelapan malam dan kepanikan,para penumpang berusaha keluar dari dalam kereta.Sayangnya pilihan tersebut salah,penumpang kereta yang ada di tengah Jembatan mencoba keluar lewat pintu maupun jendela,tragisnya mereka terjatuh ke dasar Jembatan dan terhempas ke sungai. Warga Kampung Sarapat Palumbungan tak jauh dari lokasi langsung datang memberikan pertolongan kepada para korban.

Selain menimbulkan korban jiwa, PLH Trowek 1995 juga berdampak pada perjalanan kereta lainnya khususnya yang melewati jalur Priangan Timur. Perjalanan KA Cisadane misalnya relasi Bandung-Madiun PP dibatalkan. KA Pajajaran (Bandung-Solo Balapan), dan 3 kereta rute Bandung-Surabaya (KA Badrasurya, KA Mutiara Selatan dan KA Turangga) memutar melalui Cikampek – Cirebon – Kroya.

Petaka Tengah Malam yang Nyaris Terlupakan

Sayangnya Tragedi Trowek 1995 seolah nyaris terlupakan. Jarang ada yang tau bahwa di turunan antara Cipeundeuy dan Ciawi pernah terjadi kecelakaan fatal dan tragis. Dimana sebuah kereta gabungan yang membawa 13 gerbong dan ditarik 2 lokomotif mengalami anjlok bahkan ada gerbong yang terperosok ke dalam jurang 10 meter.

Memang dari segi jumlah PLH Trowek masih sangat jauh dibawah Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987. Jumlah 14 korban meninggal dunia masih jauh dibanding Petaka Senin Pagi yang mencapai 156 penimpang. Bahkan hingga kini masih tercatat sebagai kecelakaan kereta api terbesar di Indonesia.

Ditambah lagi TKP-nya jauh dari keramaian. Cenderung berada di kawasan pedesaan yang terpencil. Dimana sangat jauh dari hingar bingar media masa. Sementara Tragedi Bintaro TKP-nya jelas-jelas berada di ibukota. Pusatnya media massa. Makanya begitu kejadian langsung menarik perhatian se Indonesia bahkan hingga ke luar negeri. Ditambah lagi dibikin Film Tragedi Bintaro 2 tahun setelahnya.

Makanya nggak heran dari generasi ke generasi malah hafal betul Tragedi Bintaro itu. Padahal walaupun jauh lebih sedikit, kondisi korban Tragedi Trowek juga nggak kalah tragis lho.

Trouble Genset di Stasiun Cipeundeuy

Ada sumber yang menyebutkan bahwa sebelum terjadi kecelakaan,tepatnya ketika melintas Stasiun Cipeudeuy,seluruh lampu dalam kereta mati dan Lokomotif mengeluarkan api secara terus-menerus bahkan dengan batas kecepatan (taspat) diluar kewajaran.

Lampu mati mengindikasikan rangkaian kereta mengalami trouble genset & kecepatan melewati taspat diluar kewajaran bisa jadi merupakan indikasi bahwa rem mulai bermasalah.Apalagi sebelumnya juga telah melewati jalur naik-turun dari Cicalengka ke Cibatu dan menanjak dari Cibatu ke Cipeundeuy,selepas Cipeundeuy tentu saja menurun lagi sampai di TKP.

Sebagai tambahan di era Perumka dahulu juga jamak rangkaian KA kelas Ekonomi berjalan dalam kondisi kereta gelap gulita. Apakah benar atau tidak keterangan dari sumber tersebut,yang jelas Tragedi Trowek 1995 merupakan satu catatan kelam dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Khusus di bulan Oktober, tragedi ini juga jadi bagian dari Oktober Kelabu Transportasi Umum.

Pasca Tragedi Trowek 1995 semua kereta diwajibkan berhenti di Stasiun Cipeundeuy untuk pemeriksaan rem. Kebijakan itu dilaksanakan tanpa terkecuali. Sekelas KA Argo Wilis yang sekarang jadi kereta nomor 1 juga nggak luput dari kewajiban itu. Tetap harus berhenti di Cipeundeuy. Kalo kaya gitu gimana dengan kereta yang kelasnya lebih rendah dari itu.


Referensi


Cari Konten

Catatan: Mesin pencari ini hanya untuk mencari konten yang ada di Blog dalam bentuk artikel (postingan)

Disclaimer

Dipersilakan bagi kamu yang ingin share konten artikel (postingan) kami bila memang dirasa bermanfaat. Silakan juga disebarluaskan dalam bentuk apapun. Namun perlu diingat untuk mencantumkan sumber (Manglayang ID) dan bukan untuk tujuan komersial.

%d bloggers like this: