Transportasi Udara di Indonesia, Gini Nih Harusnya

by Jul 19, 2021All Exciting Adventures, Transportasi Umum0 comments

Transportasi Udara di Indonesia boleh dibilang lagi dalam kondisi kurang baik. Pandemi Covid-19 cukup memukul sektor ini juga transportasi lain pada umumnya. Kondisi benar-benar lagi nggak baik. Nah mumpung minat lagi nggak terlalu besar udah waktunya ada semacam pembenahan supaya bisa lebih baik lagi dan tertata. Salah satunya koridor Internasional. Nggak usah lah terlalu banyak, cukup 7 bandara aja yang layani penerbangan Internasional.

Bukti nggak baiknya moda transportasi paling aman tersebut ialah maskapai penerbangan nasional mengalami kerugian besar. Juga hutang yang semakin menumpuk. Ambil contoh Garuda Indonesia. Bahkan national flag carrier yang “berasal dari rahim maskapai tertua di dunia” ini terancam bangkrut. Bayangin sekarang armada yang terbang cuma 1/2 dari keseluruhan. Belum lagi kasus mark up saat pengadaan pesawat melalui lessor sehingga efeknya harga tiket Garuda jadi nggak kompetitif.

Armada hasil mark up itu memang lagi diusahakan agar bisa dipulangin ke pihak lessor. Cuma masalahnya pihak lessor bisa aja melayangkan gugatan hukum. Masalah keuangan pelik, Garuda juga dicekal nggak boleh mendarat di Hong Kong gegara ada penumpang yang kedapatan Positif Covid-19 saat tiba di sana. Ditambah lagi sekarang lagi menghadapi gugatan hukum dari Australia dan di negeri sendiri pun sama lagi berurusan sama PKPU terkait urusan Umroh dan lainnya.

Maskapai kebanggaan negeri menghadapi serangan bertubi-tubi dari berbagai penjuru mata angin. Meski saat ini pemerintah sednag berusaha keras untuk menyelamatkan Garuda Indonesia melalui program restrukturisasi dan lainnya. Kementerian BUMN juga mulai mengkaji untuk merubah business plan Garuda untuk lebih fokus ke domestik dimana pangsa pasarnya jauh lebih besar yakni 75% lebih.

Apakah yang menghadapi krisis cuma Garuda? Nyatanya nggak, Lion Air yang punya armada terbesar di Indonesia pun hampir mirip. Terutama urusan sewa pesawat ke lessor. Kebijakan PPKM Darurat makin memukul sektor perjalanan. Apalagi sekarang syaratnya semakin ketat. Nggak bisa lagi asal test GeNose. Penumpang wajib menunjukkan surat hasil PCR/Rapid Antigen Negatif Covid-19. Gak cukup hanya itu, penumpang juga wajib punya sertifikat Vaksinasi yang artinya harus udah di vaksin minimal dosis pertama.

Diterapkannya PPKM Darurat membuat salah satu maskapai penerbangan swasta, Indonesia Air Asia (QZ) menghentikan seluruh penerbangannya. Itu berarti maskapai yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Malaysia ini sama sekali nggak ada pemasukan dari penerbangan reguler selama periode PPKM Darurat. Entah sampai kapan PPKM diterapkan. Awalnya sih cuma sampai tanggal 20 Juli 2021 atau pas hari raya Idul Adha. Tapi nggak menutup kemungkinan diperpanjang mengingat BOR (Bed Occupancy Ratio) Rumah Sakit terutama rujukan Covid-19 masih jauh di atas ambang batas WHO.

Transportasi Udara di Indonesia Udah Waktunya Dibenahi

Sebuah Pesawat Milik Lion Air Segera Mendarat di Bandara Husein Sastranegara

PPKM Darurat bisa jadi membuat maskapai penerbangan makin sulit dan terpuruk. Namun bukan berarti sama sekali nggak ada yang bisa dikerjakan. Justru dengan sedikitnya yang melakukan aktivitas traveling naik pesawat ini mesti dijadiin momen untuk membenahi moda transportasi udara di Indonesia. Terutama bandara yang jadi gerbang masuk satu kota atau wilayah.

Kasus Covid-19 ngegas kaya sekarang nyatanya bukan semata-mata karena mudik Lebaran. Namun lebih dari itu terlalu banyak pintu masuk dari luar negeri. Terutama dari negara tetangga seperti Singapore dan Malaysia. Hingga saat ini Bandara Soekarno Hatta di Tangerang Banten masih jadi pintu masuk utama ke Indonesia. Bersama itu masih ada Bandara Kualanamu dan Bandara Ngurah Rai Denpasar. Cuma beberapa bandara di kota-kota seperti Bandung, Semarang, Padang, Palembang, hingga Makassar ternyata juga membuka jalur penerbangan Internasional ke Singapore dan Malaysia.

Untuk Bandung (Bandara Husein Sastranegara) selama masa pandemi memang cuma melayani penerbangan domestik saja. Cuma di kota-kota tersebut bisa jadi aktivitas penerbangan luar negeri nya masih berjalan. Nggak cuma itu pembangunan bandara baru seperti Kertajati dan Yogyakarta International Airport (YIA) makin menambah banyak pintu masuk menuju Indonesia. Nah inilah yang tengah dibenahi oleh pemerintah saat ini. Dengan mengurangi bandara Internasional dan menyisakan sedikit untuk dijadikan main hub.

Banyaknya pintu masuk sejatinya bukan jaminan akan menguntungkan bandara yang bersangkutan. Apalagi kalo cuma ke Singapore dan Malaysia udah itu susah cari connecting. Yang ada malah negeri jiran itu diuntungkan. Banyak yang traveling ke negara lain transit dulu di sana. Harusnya kan datang dari luar transit di satu kota utama di Indonesia lantas dilanjut penerbangan domestik ke tujuan akhir.

Cukup 7 Bandara Internasional Aja Untuk Jadi Main Hub, Lainnya Cukup untuk Haji dan Umroh

Dari sekian banyak bandara yang statusnya Internasional tadi, seharusnya cukup 7 bandara aja untuk dijadikan sebagai main hub Internasional. Ketujuh bandara yang cocok jadi main hub antaralain Kualanamu, Soekarno Hatta, Yogyakarta International Airport, Ngurah Rai, Lombok Praya, Hasanuddin Makasar dan Frans Kaisiepo Biak. Nah ketujuh bandara yang disebut itu bisa layani rute internasional dan dibuka untuk maskapai luar negeri.

Termasuk Husein Sastranegara Bandara Internasional kebanyakan padahal cukup 7 Saja

Adapun untuk menjangkau kota-kota utama lainnya tinggal memaksimalkan penerbangan domestik yang akan dijadikan feeder. Terus gimana dengan yang udah terlanjur diset sebagai internasional seperti Solo, Surabaya, Balikpapan, misalnya? Maksimalkan rute domestiknya. Kalopun mau tetap dibuka untuk rute luar negeri ada bagusnya sebatas penerbangan Haji dan Umroh. Karena keduanya udah jelas punya pangsa pasar. Jadi sebatas melayani penerbangan ke Jeddah dan Madinah di Saudi Arabia.

Penerbangan untuk haji kan cuma ada setiap tahun. Kalo Umroh memang bisa setiap saat kecuali setelah Ramadhan sampai musim haji itu biasanya nggak ada umroh. Penerbangan khusus umroh diluar main hub bisa dilakukan melalui mekanisme charter flight dimana travel bekerjasama dengan maskapai penerbangan. Baik nasional maupun luar (asal Saudi tentunya). Skema tersebut sejatinya udah pernah berjalan di Citilink yang pernah terbang ke Saudi untuk Umroh. Lion Air juga beberapa kali menerbangkan jamaah umroh langsung dari Aceh.

Kelayakan Biak jadi Main Hub, Dulu Pernah Didarati MD-11

Why Biak? Cukup beralasan Bandara Frans Kaisiepo di Biak Papua bisa dijadikan salah satu main hub penerbangan internasional. Bandara ini sejatinya bisa didarati pesawat wide body. Secara di tahun 1990-an ketika Garuda Indonesia masih terbang hingga ke Amerika Serikat sering transit di bandara ini. Waktu itu pesawat yang digunakan ialah jenis McDonnel Douglas MD-11 dan kadang gunakan DC-10. Sama-sama wide body tentunya.

Nah sekarang Bandara Biak yang sejatinya sangat layak untuk didarati wide body malah jadi domestik. Padahal dalam sejarahnya sendiri dulu punya penerbangan reguler menuju Amsterdam dengan maskapai tertua di dunia, KLM. Karena itu udah waktunya mengembalikan Biak sebagai salah satu main hub, terutama untuk wilayah Indonesia Timur. Dan itu juga bisa mendongkrak perekonomian Papua.

Jadi jangan sampe setiap kota seolah berlomba-lomba membuka pintu penerbangan internasional. Padahal bandaranya cuma bisa didarati paling banter jenis Airbus A320 Neo misalnya. Sementara ada bandara di Indonesia Timur yang lebih punya potensi karena bisa didarati wide body.

Selain main hub internasional, Bandara Frans Kaisiepo Biak Papua juga bisa jadi main hub untuk penerbangan di Papua. Mengingat Bumi Cendrawasih cukup luas sementara infrastruktur darat belum sepenuhnya memadai dan masih andalkan transportasi udara. Papua juga punya potensi wisata bagus seperti Raja Ampat. Selama ini hub-nya Papua kan Makassar. Alangkah lebih bagus bila hub-nya berada di Biak jadi sama-sama Papua.

Garuda Indonesia Bisa Lebih Fokus Domestik

Adapun untuk Pembenahan Transportasi Udara di Indonesia untuk Garuda Indonesia yang kini tengah terbelit masalah bertubi-tubi, selain restrukturisasi utang juga alangkah baiknya untuk menata kembali business model dan rute-rute penerbangannya. Wacana menutup sebagian besar rute internasional merugi udah bener banget. Sementara yang masih mendatangkan keuntungan bisa aja dipertahankan.

Transportasi Udara di Indonesia Airline Krisis Lebih Fokus di Domestik

Terus gimana dengan market di rute-rute merugi itu? Bukannya satu rute merugi masih tetap ada penumpangnya? Memang benar cuma dalam hal ini Garuda Indonesia bisa menggunakan skema yang dinamakan codeshare dengan maskapai luar negeri. Kebetulan Garuda sendiri udah jadi anggota aliansi SkyTeam. Jadi dengan sesama skyteam kalo codeshare harusnya nggak jadi masalah.

Ambil contoh rute Amsterdam dan Kuala Lumpur katanya sepi dan mau ditutup. Nah itu kayanya bisa di kerjasamakan dengan KLM yang sama-sama SkyTeam. Kebetulan KLM juga ada yang transit di Kuala Lumpur dan itu harusnya bisa dimanfaatkan. Meski bisa juga codeshare sama Malaysia Airlines. Nah penumpang yang turun dari KLM dan Malaysia Airlines kalo mau lanjut domestik bisa naik Garuda.

Gimana juga dengan pesawat wide body seperti Airbus A330-900 Neo yang udah terlanjur dibeli? Cari rute domestik gemuk. Nah pesawat itu bisa didinaskan di rute tersebut. Satu Airbus A330-900 Neo itu kapasitasnya bisa 3-4 kalinya Boeing 737-800 Neo. Lumayan bisa lebih menghemat biaya operasional. Harga tiket pun bisa ditekan dan kompetitif karena banyak penumpang yang diangkut.

WIde body dipake domestik udah biasa kok. Di Jepang aja begitu, dari Tokyo ke Osaka aja biasanya ANA dan JAL menggunakan wide body seperti Boeing 767, 777, hingga 787 Dreamliner. Maka dari itu momen PPKM Darurat mestinya buat berbenah Transportasi Udara di Indonesia. Usulan Pak Menteri BUMN untuk fokus domestik ini juga udah benar banget. Daripada mempertahankan sesuatu yang merugi.

%d bloggers like this: