Wisata Lokomotif Cepu (Perhutani KPH Cepu)

by May 25, 2020All Exciting Adventures, Traveling di Indonesia0 comments

Wisata Lokomotif Cepu, mengelilingi kawasan hutan jati milik Perhutani KPH Cepu. Satu-satunya objek wisata di Cepu. Meski berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro. Bagian dari sejarah perkeretaapian Cepu.

Kota Cepu bukanlah kota tujuan wisata utama di Pulau Jawa. Sebaliknya kota ini justru lebih merupakan kota pertambangan. Khususnya minyak bumi. Namun bukan berarti tak ada objek wisata di sini, juga di Kabupaten Blora secara keseluruhan. Namun untuk Kota Cepu mungkin ini jadi satu-satunya objek wisata yang tersedia di sana. Meski berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro yang sudah masuk provinsi Jawa Timur.



Selain minyak bumi, disini juga terdapat hutan jati. Hutan inilah yang kelak menjadi satu-satunya objek wisata yang langsung berada di Kota Cepu. Telah diexplorasi sejak masa pemerintahan Kolonial Belanda. Terlebih kayu jati termasuk komoditas unggulan pada saat itu yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Di antaranya untuk bahan bakar dan bahan bangunan.

Explorasi Kota Cepu dimulai pada tahun 1893. Dimana ketika itu pemerintah Kolonial Belanda menemukan cadangan minyak yang memiliki potensi ekonomi. Keberadaan cadangan minyak membuat pihak kolonial berniat untuk membuka kota ini. Sebagai tindaklanjutnya, perusahaan kereta api swasta NIS (Nederlandsch Indische Spoorwegmaatshappij) membangun jalur kereta api dari Semarang ke Surabaya via Cepu.

 Jalur Utama Jakarta Surabaya via Semarang

Awalnya pihak NIS tak tertarik membangun jalur kereta api menuju Surabaya. Meski telah sukses membangun jaringan kereta api dari Semarang ke Solo dan Jogja, ditambah jalur Batavia-Buitenzorg. Alasannya jalur yang dilewati masih hutan belukar dan rawa-rawa yang jarang ditinggali penduduk. Sehingga jelas secara ekonomi tidak prospek.

Namun setelah adanya temuan cadangan minyak itu, NIS berubah pikiran. Pembangunan rel kali ini dianggap punya potensi pemasukan. Terutama untuk mengantarkan minyak bumi menggunakan gerbong tangki menuju pelabuhan. Akhirnya pada tahun 1902 Stasiun Cepu diresmikan.

Sejarah Awal Perkeretaapian Cepu

Stasiun Blora (sumber Situs Kabupaten Blora)
Stasiun Blora sekarang jadi kawasan niaga (sumber: Situs Kabupaten Blora)
Stasiun ini dbuka pada tahun 1893 dan memiliki 3 percabangan ke Cepu, Semarang (Jurnatan), dan Bojonegoro
Stasiun ini juga jadi pusat integrasi antarmoda di masanya.

Diresmikannya Stasiun Cepu berikut Dipo Lokomotif Cepu oleh NIS menandai sejarah awal perkeretaapian Cepu. Meski untuk wilayah Blora secara umum sudah mulai dibangun jaringan kereta api sejak tahun 1889 oleh Samarang Joana Stroomtrammaatschappij (SJS). Jalur ini membentang mulai dari Semarang (Jurnatan), Demak, Kudus, Purwodadi, Blora hingga Cepu Kota. Di Blora sendiri terdapat perbangan menuju Juwana, Rembang, Lasem hingga Bojonegoro.

Urutan pembangunan relnya sendiri sebagai berikut:

  • 1884 = Semarang Jurnatan – Demak – Kudus – Juwana (87 km)
  • 1889-1893 = Demak – Purwodadi – Blora (103 km)
  • 1892 = Purwodadi – Gundih (17 km)
  • 1900 = Juwana – Rembang – Lasem (34 km)
  • 1901-1902 = Rembang – Blora – Cepu SJS / Cepu Kota (70 km)
  • 1919 = Lasem – Bojonegoro (83 km)

Di sini Stasiun Blora memiliki 3 percabangan yakni:

  • Percabangan 1 : Blora – Purwodadi – Kudus – Demak – Semarang Jurnatan
  • Percabangan 2 : Blora – Rembang – Juana – Lasem – Bojonegoro
  • Percabangan 3 : Blora – Cepu Kota – Cepu

Karenanya Stasiun Blora merupakan stasiun utama di Kabupaten Blora pada masanya. Selain memiliki 3 percabangan juga memiliki terminal. Sehingga integrasi antarmoda sudah ada di Stasiun Blora pada masa lalu. Salah satu percabangan ialah jalur menuju Cepu via Cepu Kota. Dimana pada waktu itu Kota Cepu punya dua stasiun yakni Stasiun Cepu SJS yang kemudian dikenal dengan Cepu Kota dan Stasiun Cepu NIS yang masih beroperasi hingga kini.

Stasiun Cepu Tak Lepas dari Sejarah Penemuan Minyak Bumi
Stasiun Cepu NIS atau Stasiun Cepu diresmikan oleh Nederlandsch Indische Spoorwegmaatchappij (NIS) pada tahun 1902. Pembangunannya dilatarbelakangi penemuan minyak bumi yang akhirnya merubah pikiran NIS untuk membuka jalur dari Semarang menuju Surabaya via Cepu. Di antara tujuan pembangunannya untuk pengangkutan minyak bumi. Awalnya stasiun ini punya 4 jalur dimana satu diantaranya merupakan percabangan ke Tambang Minyak dan Blora via Cepu SJS (Cepu Kota), serta area hutan yang sekarang jadi objek wisata lokomotif Cepu. Percabangan yang kini telah non-aktif sejak 1976 (jalur ke Blora) dan 2008 (angkutan minyak Pertamina).

Stasiun Cepu NIS yang baru diresmikan pada tahun 1892 memiliki 4 jalur. Dimana salah satunya tersambung dengan jalur kereta api SJS menuju Blora. Jalur ini pula digunakan untuk angkutan minyak bumi. Malah untuk angkutan minyak masih aktif hingga tahun 2008. Jadi sejarah awal perkeretaapian Cepu sejatinya tak bisa lepas dari dua hal, yakni eksplorasi minyak bumi dan pembangunan jaringan kereta api di Blora hingga akhirnya tembus ke Cepu. Semua jalur bisa terhubung karena menggunakan lebar spoor 1.067 mm.

Sayangnya seiring perkembangan zaman dan mulai berkembangnya angkutan jalan raya mulai tahun 1970-an angkutan kereta api mulai ditinggalkan. Hingga akhirnya stasiun Blora pun terpaksa ditutup lantaran kalah bersaing dengan angkutan lainnya.

Wisata Lokomotif Cepu dan Sejarah Hutan Jati Cepu

Pembangunan jaringan kereta api di hutan jati Cepu dimulai pada tahun 1915. Meski demikian Pemerintah Kolonial Belanda telah lebih dulu membangun sarana dan prasarana penunjang, yakni Dipo Lokomotif dan Bengkel Traksi pada tahun 1911. Karena itu jaringan rel di sini termasuk yang tertua di Pulau Jawa. Meski secara historis kereta api telah mulai ada di Kabupaten Blora sejak 1893.

 Jalur Kereta Api Perhutani KPH Cepu

Jaringan rel yang dibangun di dalam hutan panjangnya 300 meter dan memiliki lebar spoor 1.067 mm. Pemilihan lebar ini untuk memudahkan sambungan jalur rel lintas utama Semarang-Surabaya. Rel kereta di dalam hutan Cepu ini tak bisa dilepaskan dari keberadaan lokomotif uap yang berfungsi sebagai alat angkut utama hasil hutan.

Kawasan Perhutani KPH Cepu sendiri berdiri berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia tanggal 16 Juni 1952 (No. 73/UM/52). Ditetapkan secara administratif meliputi Kabupaten Blora dan Kabupaten Bojonegoro. Surat Ketetapan tersebut mengganti ketetapan WD Directure Van Landbow, Nijvereid En Handel tanggal 31 Desember 1928 No. 13250 / Dep (Byland No. 11854) mengenai pembagian Daerah Hutan untuk Jawa dan Madura.

Lokomotif yang ada di Bengkel Traksi dan Dipo Lokomotif antara lain:

  • Lokomotif 4 Bersaudara buatan BMAG (Berliner Maschinebau-Actien Gesselcheft) masing-masing diberi nama: Tujuhbelas, Agustus, Bahagia dan Madjoe. Untuk lokomotif Madjoe sendiri dibawa ke Jakarta dan menurut cerita ditaruh di Kantor Pusat Perhutani Jakarta
  • 2 Lokomotif langsir uap buatan Du Croo and Braun.
  • 1 Lokomotif Hanomag tahun 1922 ex PJKA C2902
  • 1 buah drensin buatan Jepang merk Honda
  • 1 buah Drensin hasil modifikasi dari jensi Colt T 120
  • Lori Onthel
Wisata Lokomotif Cepu Lokomotif Uap Du Croo and Braun

Semua kereta tersebut tersimpan baik di Dipo Loko dan Bengkel Traksi Perum Perhutani KPH Cepu. Tentunya sebagai asset Wisata Lokomotif Cepu. Adapun di masa lalu semua jalur kereta api dan sarana pendukungnya dimiliki oleh Jawatan Kehutanan HIndia Belanda. Jadi kalo dihitung sama tahun sekarang, Bengkel dan Dipo Lokomotif-nya sudah berusia 109 tahun. Sementara jaringan rel kereta sepanjang 300 meter di dalam kawasan hutan jati sudah berusia 105 tahun. Wih, dah seabad ya.

Wisata Lokomotif Cepu, Menelusuri Hutan Jati Dengan Kereta Api

Saat ini kawasan Perhutani KPH Cepu menjadi objek wisata utama. Khususnya di Kota Cepu. Bahkan boleh dibilang jadi satu-satunya yang ada di sini. Sebagian lagi berada di Kabupaten Blora. Tentunya karena namanya juga Wisata Lokomotif Cepu diantara atraksi yang bisa kita nikmati ialah Menelusuri Hutan Jati peninggalan Belanda dengan Kereta Api. Di jalur sepanjang 300 meter.



Apakah kita jalan di hutan naik kereta api pake lokomotif uap? Untuk saat ini lokomotif uap kebetulon sudah jarang digunakan. Sebagai gantinya kita akan naik kereta yang ditarik semacam lokomotif diesel mini jenis Ruston. Meski bukan lagi lokomotif uap tetap nggak akan menghilangkan sensasinya kok. Berkereta api ditengah hutan dengan rangkaian kereta mirip di film-film koboi.

Berapa biaya yang dibutuhkan untuk menikmati sensasi naik kereta di tengah hutan karet Cepu warisan Kolonial ini? Di sini tersedia paket reguler dan paket sewa. Paket reguler tersedia keberangkatan di hari Sabtu dan Minggu dengan satu gerbong membawa 25 orang. Tarif Rp 15.000,00/orang. Namun sayangnya harus ada 25 orang dulu baru kereta bisa dijalankan.

Alternatif kedua paket sewa,. Memang jauh lebih mahal yakni Rp 750.000,00/gerbong dengan kapasitas maksimal 25 orang. Pilihan kedua punya keunggulan fleksibilitas dan bisa dijadikan semacam paket wisata. Ada juga paket tambahan gerbong BR (Gerbong Terbuka) dengan biaya plus sewa Rp 250.000,00/gerbong. Jadi gerbong terbuka sedikit lebih murah cuma nggak enaknya bakal kepanasan atau kehujanan.

Terus untuk lokomotif uapnya gimana? Seperti udah dijelasin di atas, lokomotif uap udah jarang dipake karena masalah teknis tentunya. Namun kalo kebetulan lagi ready bisa aja disewa dengan biaya sewa yang sangat mahal yakni Rp 17 juta.



How To Get There? Menuju Perhutani KPH Cepu

Gimana caranya menuju Perhutani KPH Cepu untuk menikmati sensasi wisata lokomotif Cepu? Menelusuri hutan jati peninggalan Belanda? Pastinya untuk ke Cepu sendiri cuma tersedia dua pilihan yakni naik Bus atau Kereta Api. Untuk pesawat paling mendaratnya kalo nggak di Semarang ya Surabaya. Itu juga mesti nyambung lagi naik kereta api.

Pilihan pertama naik bus jurusan Cepu. Pastinya sobat akan turun di Terminal Bus Cepu. Nah dari sini enaknya sewa transportasi Online. Kebetulan Grab sudah tersedia di Kota Cepu. Pilihan kedua naik kereta api. Pilihannya banyak asalkan jurusan Surabaya Pasar Turi yang lewat jalur utara, khususnya buat sobat yang berasal dari Jakarta. Mau naik dari Jakarta Kota, Gambir atau Pasar Senen.

Sedangkan dari Bandung bisa naik KA Harina keberangkatan Stasiun Bandung tujuan Surabaya Pasar Turi. Turun di Stasiun Cepu. Nah dari situ lagi-lagi enaknya sewa transportasi online.

Misteri Persambungan Dengan Jalur Utama

Di luar area Perhutani KPH Cepu kita akan menemukan onggokan gerbong yang nggak dipake lagi. Selain itu juga ada rel kereta api yang memotong jalan raya menuju tempat itu. Tentunya keberadaan sambungan rel dan gerbong tak terpakai menimbulkan pertanyaan. Apakah ini merupakan sambungan rel dari Perhutani KPH Cepu menuju jalur utama?

Jalur Non Aktif diduga tersambung Jalur Utama via Cepu Kota

Dilihat dari sejarah pembangunan rel kereta api di kawasan Perhutani KPH Cepu yang menggunakan Lebar Spoor 1.067mm, dugaan ke arah sana bisa jadi benar adanya. Lebar jalur tersebut jadi standard baik di jalur kereta api yang dibangun SJS menuju Blora maupun jalur NIS di Stasiun Cepu saat ini. Ditambah lagi bila menyaksikan lokomotif yang melintas di wilayah ini mengfgunakan bahan bakar kayu jati. Jelas semakin memperkuat dugaan tersebut.

Nah sekarang yang jadi pertanyaan apakah persambungan itu terhubung via Stasiun Cepu Kota (Cepu SJS) ataukah langsung menuju Stasiun Cepu (Cepu NIS). Langsung atau melewati Cepu Kota lebih dulu intinya bisa jadi jalur di dalam hutan ini tersambung dengan jalur utama. Karena di era kolonial Kayu Jati termasuk komoditas unggulan. Sehingga membutuhkan angkutan yang cepot dan efisien seperti Kereta Api.

Toh awal pembangunannya juga memang udah niat disambung ke jalur utama Semarang-Surabaya. Yang jelas saat ini hanya jalur di hutan dan jalur utama Jakarta-Surabaya yang masih aktif di wilayah Kabupaten Blora. Meski sekarang satu sama lain terpisah. Jalur di hutan dimanfaatkan sebatas untuk wisata maupun keperluan dinas Perhutani.

Lampiran: Lokomotif C12 Pernah Dinas di Kabupaten Blora


Lokomotif C12 36 di Stasiun Blora dan Stasiun Cepu Kota tahun 1973. Bekas SS dinas di jalur SJS
Lokomotif C12 36 ex SS di Stasiun Blora dan Stasiun Cepu Kota tahun 1973. Aslinya lokomotif ini milik StaatSpoorwegen (SS). Namun setelah Indonesia merdeka semua perusahaan kereta api peninggalan Belanda disatukan dan menjadi PJKA di tahun 1970-an. Gambar di atas adalah perkeretaapian Kabupaten Blora di tahun 1973 dibawah operasional PJKA dimana lokomotif ex-SS dioperasikan di jalur kereta api ex-SJS. Atau dengan kata lain mutasi armada ex-SS ke jalur ex-SJS Kabupaten Blora.

Ternyata banyak juga ya hal-hal misterius yang perlu dibahas sekalian di sini. Apalagi berbicara tentang Wisata Lokomotif Cepu yang nggak akan bisa dilepaskan dari Sejarah Perkeretaapian Cepu dan Kabupaten Blora. Karena satu sama lain tentunya sangat terkait. Meski untuk rel yang berada di dalam hutan itu dibawah pengelolaan Jawatan Kehutanan Hindia Belanda yang sekarang dilanjutkan Perhutani.

Salah satu yang menjadi misteri adalah foto lokomotif uap jenis C12 yang tengah berhenti di Stasiun Blora dan Stasiun Cepu Kota. Di keterangannya tertulis bahwa ini adalah foto tahun 1973. Seperti telah kita ketahui bahwa lokomotif jenis ini sekarang masih ada satu unit yang dinas sebagai kereta wisata Jalandara di Solo. Pertanyaan apakah lokomotif jenis ini dari awal dinas di Kabupaten Blora?

Lokomotif C19 ex SJS pernah dinas di Kabupaten Blora

Berdasarkan penelusuran tentang asal usulnya, lokomotif C12 awalnya didatangkan sebanyak 43 unit oleh StaatSpoorwegen (SS) di tahun 1893-1902 dari Pabrik Hartmann (Jerman). Ditugaskan untuk menarik kereta penumpang dan barang rute pendek di Pulau Jawa.

Adapun yang didatangkan SJS sebagai operator di Kabupaten Blora adalah jenis C19 mulai tahun 1898 untuk jaringan antar kota. Lokomotif ini juga berasal dari Hartmann, jadi satu pabrik dengan C12 yang didatangkan SS. Lokomotif ini memiliki kecematan maksimum 30 km/jam.

Nah foto tahun 1973 di Stasiun Blora dan Stasiun Cepu Kota itu setelah Indonesia merdeka. Dimana nggak sedikit lokomotif dari perusahaan lain yang didinaskan di jalur ex-SJS Kabupaten Blora. Termasuk jenis C12 36 yang jadi saudaranya C12 18. Kesamaan lebar spoor 1.067mm menjadikan loko-loko ex-StaatSpoorwegen (SS) bisa dioperasikan di Kabupaten Blora, sebelum jalur itu benar-benar ditutup awal 1980-an.

Jadi kesimpulannya Lokomotif uap C12 yang dinas di Kabupaten Blora merupakan lokomotif mutasi. Karena toh itu dulunya punya SS. Sementara yang asli SJS C19. Kebetulan dua-duanya berasal dari pabrik yang sama, Hartmann.

%d bloggers like this: