Zagreb Mid Air Collision Nyaris Terlupakan

Zagreb Mid Air Collision Tragedi yang Terlupakan

Zagreb Mid Air Collision merupakan peristiwa tabrakan dua pesawat yakni British Airways dan Inex Adria Aviopromext di atas langit Zagreb. Menewaskan semua penumpang dan kru. Teknologi jadul hingga human error jadi penyebab tragedi yang terlupakan ini.

Dibandingkan Uberlinken, kejadian pada 10 September 1976 ini nyaris nggak banyak tau atau diketahui orang. Apalagi lokasi terjadinya kecelakaan di Yugoslavia, sebuah negara besar berhaluan sosialis-komunis. Meski demikian sejatinya merupakan negara Non-Blok dan punya hubungan dengan barat.

Zagreb Air Traffic Control (ATC) adalah salah satu yang tersibuk di Eropa. Di tahun tersebut Zagreb, sekarang ibukota Kroasia, masih merupakan bagian dari negara Yugoslavia yang telah bubar. Pesawat dari Asia, Timur Tengah dan Australia tujuan Eropa barat pasti akan terbang di atas wilayah ini.

Teknologi Jadul Andalkan Radio

Meskipun padat lalulintas udara, waktu itu sistem radar malah lebih berfungsi sebagai alat bantu. Dengan menampilkan squawk number di masing-masing pesawat. Sedangkan yang utamanya malah mengandalkan komunikasi radio dan flight slip yang diserahkan ke masing-masing sektor.

Di Zagreb ATC terbagi menjadi 3 sektor yakni Lower (dibawah 24.000 Feet), Middle (24.000 – 31.000 feet), dan Upper (di atas 31.000 feet). Masing-masing sektor dijaga oleh 2 orang petugas. Namun ada kalanya hanya seorang saja. ‘

Masih sangat mengandalkan radio berarti jelas kuno banget. Meski belakangan diketahui bahwa sistem radar yang lebih modern tengah dalam proses pemasangan. Namun komunikasi radio masih dipakai di pagi hari nahas itu. Lazimnya komunikasi dilakukan dalam Bahasa Inggris.

Seperti kita ketahui, Bahasa Inggris merupakan standard dalam dunia aviasi. Khususnya menyangkut komunikasi antara kru pesawat dengan petugas Menara pengawas (ATC). Tak terkecuali di negara seperti Yugoslavia dan Eropa Timur lainnya.

Zagreb Mid Air Collision Berawal dari Transisi Antar Sektor

Pagi 10 September 1976, Zagreb, Negara bagian Kroasia Yugoslavia. Aktivitas ATC masih sama seperti biasanya. Memonitor lalulintas udara yang padat di Eropa. Di pagi itu dua pesawat diketahui akan melintas di atas Zagreb.

Pesawat pertama ialah British Airways jenis Trident Three dengan nomor penerbangan BEA 476 (call sign: Bealine). Terbang dari Bandara London Heathrow dengan tujuan akhir Istanbul Turki.

Pesawat kedua merupakan pesawat yang dicarter oleh rombongan turis asal Jerman Barat. Jenis Douglas DC-9 dioperasikan maskapai lokal Inex Adria Aviopromext. Nomor penerbangan JP 550. Rute Split – Cologne.

Bermula dari pergantian shift pada jam 9.00 pagi waktu setempat. Kemudian BEA 476 mulai memasuki wilayah Zagreb satu jam kemudian dan mengontak ATC di ketinggian 33.000 feet. Udah pasti jadi tanggung jawab petugas Upper Sector.

Namun saat itu petugas hanya sendirian dan harus menghandle sekitar 4 pesawat termasuk BAE 476. Di saat yang sama, Middle Sector tengah menangani Inex Adria 550 di 26.000 Feet. Dimana pilot kemudian meminta izin untuk naik ke 35.000 feet.

Singkat cerita petugas pun memberikan clearance dan naiklah pesawat tersebut. Dalam prosesnya masuk ke 31.000 feet dan telah berada dibawah pengawasan Upper Sector.

Namun si petugas itu bukannya berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Justru malah menggunakan bahasa lokal, Serbo Croatia. Dalam bahasa lokal itu disebutkan bahwa Flight 550 kini berada di ketinggian 32.700 feet dan tentunya sangat dekat dengan BEA 476.

Dan setelah komunikasi dengan bahasa lokal itu, terjadilah Zagreb Mid Air Collision. Kedua pesawat pun bertabrakan dan jatuh di sebuah desa kecil di Zagreb. Seluruh penumpang dan kru tewas.

Teknologi Kuno dan Human Error.

Awalnya kecelakaan dianggap sebagai kesalahan pilot. Belakangan diketahui bahwa salah satu kru pesawat kurang awas dalam melihat pergerakan pesawat di sekitarnya. Sehingga terjadilah Zagreb Mid Air Collision. Di saat itu juga petugas Upper Sector bernama Gladimir Tasic ditahan akibat kecelakaan itu.

Namun setelah penyelidikan mendalam dan persidangan yang turut menghadirkan para petugas yang bertanggung jawab di hari nahas 10 September 1976, disebutkan bahwa teknologi kuno turut berperan dalam terjadinya kecelakaan itu.

Disebutkan juga bahwa petugas ATC mengalami stress tinggi karena harus menghandle banyak pesawat yang terbang di atas wilayah itu. Ditambah belum adanya fasilitas radar yang lebih canggih.

Dan akhirnya si petugas Upper Sector itu tetap menjadi pesakitan dan harus jalani hukuman 7 tahun penjara. Namun karena sebuah petisi akhirnya diringankan.

Galeri Foto Zagreb Mid Air Collision

Leave a Comment

Your email address will not be published.